
Sifa dan Didi, sekretaris Abash pun berdiri disaat asisten Papa Fadil menyuruhnya masuk kembali kedalam ruangan. Sifa merasa heran, kenapa dirinya kembali disuruh masuk, bukankah wawancaranya sudah selesai?
Sifa yang sudah mengetahui siapa yang berada didalam ruangan meeting pun semakin berdebar-debar. Sifa sangat takut membuat kesalahan dan berakhir kehilangan pekerjaan.
Sifa menelan ludahnya kasar saat melihat tatapan dari seluruh orang yang ada didalam ruangan tersebut.
"Duduk," titah asisten Papa Fadil.
Sifa duduk di kursi yang tersedia. Perlahan mata Sifa bergerak memperhatikan satu persatu pria paruh baya yang ada dihadapannya saat ini. Ada 3 pria paruh baya yang masih terlihat gagah, yang pasti dua diantaranya tidak memiliki perut buncit seperti pria paruh paruh baya pada umumnya.
'Yang mana ya bos besar? Pastinya yang tampan. Wong anaknya tampan kok,' batin Sifa.
Tanpa Sifa sadari, jika Papa Arka, Papa Fadil, dan Abash menyadari jika Sifa sedang memperhatikan mereka.
"Sifa," tegur Abash.
"Ya, Pak?" Sifa langsung melihat kearah Abash. Namun, sudah beberapa detik Abash tak mengeluarkan suaranya, Sifa yang masih penasaran dengan bos besarnya pun melirik sekilas ke dua pria paruh baya yang terlihat masih tampan.
"Saya panggil kamu kesini karena ada yang ingin papa saya sampaikan," ujar Abash.
Sifa menganggukkan kepalanya, jantungnya sudah berdebar dengan cepat. Dalam hati menerka-nerka apa yang ingin dikatakan oleh bos besarnya.
Papa Fadil punberdiri dan memanggil nama Sifa, sehingga Sifa perlahan memberanikan dirinya menatap Papa Fadil. Papa Fadil memperkenalkan dirinya dan langsung memberi tahu apa tujuannya Sifa kembali dipanggil.
'Nih dia bos besar.' batin Sifa.
"Baiklah, jadi selama tiga bulan ini kami akan memantau kinerja kerja kamu sebagai seorang magang. Tidak hanya disitu, kami juga akan terus memantau setiap nilai-nilai kamu di kampus. Apabila nilai kamu tetap bagus, maka kami akan memberikan beasiswa penuh dari Group Moza hingga kamu mencapai S2. Bagaimana? Kamu mengerti?"
Sifa menngerjapkan matanya, apa dirinya saat ini tengah bermimpi? Sifa mencubit lengannya dan memekik kesakitan. Abash menaikkan alisnya sebelah melilhat tingkah Sifa yang terkesan aneh, sedangkan Papa Arka dan Papa Fadil sudah mengulum senyumnya.
"Sa-saya lagi gak mimpikan, Pak?" tanya Sifa kepada Abash.
"Menurut kamu?"
Sifa kembali mencubit lengannya. "Aww, sakit, berarti ini tandanya bukan mimpi." gumam Sifa.
Belum yakin dengan apa yang dia rasakan, Sifa pun akhirnya meminta tolong kepada Didi untuk mencubit lengannya. Awalnya Didi ragu, tapi melihat wajah Sifa yang sangat butuh diyakinkan, Didi pun mencubit lengan Sifa dengan kuat.
"Aww, sakit. Kira-kira dong Mas kalau cubit," gerutu Sifa sambil mengelus lengannnya.
"Jadi gimana? Kamu sudah mengertikan apa yang Papa bilang?" ujar Abash mengambil atensi Sifa.
"Eh, eng ... Iya , Pak. Saya mengerti."
__ADS_1
Setelah membahas beberapa hal, Sifa pun keluar dari ruang meeting tersebut. Rasanya Sifa ingin sekali berteriak karena kegirangan. Untungnya Sifa dapat menahan teriakannya, jika tidak, Sifa bisa kena semport dengan bosnya karena berteriak di kantor, sudah seperti tarzan masuk kantor saja.
*
"Waah, tadi pagi setelannya rapi amat, ini udah kembali kesetelan semula," ujar Satpam yang masih menunggu jam pergantian tugasnya.
"tadi pagi wawancara, Pak. Harus rapi dong. Kalo sekarang dinasnya," ujar Sifa dengan tersenyum ramah.
"Serius wawancara magang tadi pagi?" tanya satpam yang kepo.
"Iya, Pak. Saya dapat rekom dari kampus, makanya saya bisa magang disini. Lagi pula, bukannya gampang untuk masuk kesini, Pak. Susah. Bahkan saya harus membuat sebuah program untuk meyakinkan pemilik gedung ini." ujar SIfa dengans eidkit berbisik diakhir kalimatnya.
"Kamu kuliah?" tanya satpam.
"Iya, Pak."
"Jurusan apa?"
"Ilmu teknologi, Pak." jawab Sifa sambil tersenyum.
"Maksudnya komputer gitu? Kayak pak bos?" tanay satpam memastikan.
"Iya, Pak."
"Wow, kamu hebat bener. Kuliah sambil bekerja. Gak capek?"
"Wow, kamu sungguh hebat bener, Sifa. Bapak doakan agar kamu menjadi orang sukses."
"Aamiin, makasih ya, Pak., doanya."
Setelah berpamitan, Sifa pun langsung memasuki ruangan kerja khusus untuk cleaning service.
"Sifa, aku denger kamu mau magang di sini ya?" tanya Lia.
"Iya, Kak." Sifa pun memberikan senyuman bahagianya.
"Beruntung banget kamu ya, padahal perusahaan ini tidak menerima anak magang."
"Alhamdulillah, Kak, lagi beruntung aja mungkin."
"Aku doain kamu jadi orang sukses ya. Perjuangan kamu patut untuk diberikan apresiasi."
"Aamiin, iya kak, makasih doa-nya."
__ADS_1
Sifa dan Lia pun segera mengambil peralatan mereka dan berangkat menuju lantai dimana seharusnya mereka bertugas.
"Eh, kalian dengar kan gosipnya," ujar teman seprofesi SIfa.
"Iya, Sifa diterima magang di sini."
"Gue curiga, jangan-jangan tu cewek godain si bos lagi,"
"Iih, mana mau bos sama dia. Bau sampah."
"Siapa tau kan, bisa aja dia jebak si bos. Gue denger nih ya, Si bos pernah beliin makanan untuk Sifa."
"Masa sih?"
"Iya, kalau gak ada apa-apanya ya, mana mungkin dia diterima magang di sini."
"Masuk akal sih. Iih, wajah aja yang sok alim, ternyata eh ternyata, munafik."
"Jangan menjadikan wajah sebagai patokan. Belum tentu apa yang terlihat dalamnya juga seperti itu."
"Iih, gue gak bisa bayangain, si bos di jebak sama tuh cewek."
"kasian bos kita, mari kita berdoa agar bos tampan di lindungi dari cewek gatal kayak Sifa"
"Yook, berdoa dimulai."
Berita tentang Sifa diterima magang di perusahaan pun mulai menyebar. Sebagian orang langsung menatap Sifa dengan tatapan tak suka. Bagaimana tidak, seorang cleaning service bisa magang diperusahaan yang memang tak menerima anak magang dari mana pun. Bahkan yang nilainya tinggi sekalipun. Namun, Sifa dapat dengan mudah diterima sebagai karyawan magang diperusahaan yang Abash pimpin.
*
Sifa merasa setiap orang yang berpas-pasan dengannya langsung memasang wajah tak suka. Memang tak semuanya sih, tapi itu membuat Sifa tak nyaman.
"Kak, kok orang-orang pada liat aku sinis semua ya?" bisik Sifa kepada Lia.
"Gak tau, apa mugnkin karenaa kamu diterima magang di sini?" ujar Lia yang juga ikut merasakan jika orang-orang yang ada dikantor tersbeut terlihat tak suka dengan Sifa. Walaupun ada juga yang memberikan selamat kepada Sifa.
"Masa gara-gara aku ketrima magang di sini, jadi disinisin gitu sih? Gak banget deh." Sifa pun tak ingin mengambil pusing akan hal tersbut. Lagi pula sudah biasa Sifa mendapatkan tatapan tak suka dari banyak orang. Hal ini bukanlah hal yang baru bagi Sifa, walaupun SIfa dalam hati merasa sedikit sedih, karena pada awalnya mereka semua terlihat ramah.
"Udah, jangan dipikirin, bukan mereka juga kok yang kasih makan kita. Semangat Sifa, kamu pasti bisa kok," ujar Lia menyemangati Sifa.
"Makasih kak."
Sifa pun meyakinkan dirinya jika ia memang benar-benar pantas untuk mendapatkan apa yang sudah ia raih saat ini.
__ADS_1
\=\= Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari ABASH dan ARASH