
“Ahh …” Putri mendesah dengan merdu, saat mendengar suara langkah yang semakin mendekat ke arah mereka, begitu pun dengan Arash.
“Akh ..” desah Arash dengan suaranya yang berat, yang mana membuat Putri mengulum bibirnya.
Mereka saling pandang memandang dan mengulum bibir masing-masing di di saat melakukan suara ******* pura-pura itu.
“Gila, main di kamar mandi,” gerutu pengawal Yosi dan menendang pintu kamar mandi tersebut.
Putri sempat terkejut dan mempererat erat pelukannya di leher Arash, sehingga membuat topeng gadis itu pun terbuka dan terjatuh di atas pangkuannya.
Putri dan Arash pun saling memandang, di saat Putri terkejut dan memeluk Arash.
Tatapan mata mereka saling mengunci, hingga tangan Arash terulur dan menyentuh wajah Putri. Pria itu pun menyusupkan tangannya ke rambut dan leher Putri, hingga gadis itu pun perlahan menutup matanya, begitu pun dengan Arash yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Putri.
“Put, kamu masih di sana? Kamu gak papa kan? Anak buah Om sedang menuju ke sana untuk menyelamatkan kamu,” ujar Om Martin yang mana membuat Putri tersadar dan kembali membuka matanya dengan cepat.
Begitu pun dengan Arash yang juga ikut tersadar bersamaan dengan Putri, di saat anak buahnya menegur dirinya dan mengatakan jika mereka akan mengeluarkan dirinya dan Putri dari dalam kamar mandi.
“Ka-kamu gak papa?” tanya Arash dengan gugup.
“Hmm, ya,” cicit Putri sambil menundukkan wajahnya.
Tak berapa lama pintu kamar mandi pun di ketuk, sehingga membuat Putri dan Arash kembali saling merangkul.
“Pak Arash, ini kami,” ujar anak buah Arash yang mana membuat pria itu menghela napasnya dengan pelan.
Putri pun turun dari pangkuan Arash dan membenarkan pakaiannya yang sedikit kusut.
“Ini,” ujar Arash sambil mengulurkan topeng milik Putri.
“Makasih,” cicit Putri dan memakai topengnya kembali, begitu pun dengan Arash.
Mereka pun keluar dari dalam kamar mandi dan di sambut senyuman penuh arti oleh anak buah Arash.
“Apa?” tanya Arash kepada Joko.
“Gak papa, Pak,” jawabnya masih dengan mengulum senyuman.
Tak berapa lama anak buah om Martiin pun tiba, mereka pun langsung mengamankan Putri.
“Kita pulang sekarang, Put. Sepertinya sudah tidak aman lagi untuk kamu berada di sini,” ujar Om Martin yang di angguki oleh Putri.
Arash dan timnya pun juga kembali, karena mereka sudah mendapatkan bukti yang akan menjatuhkan Yosi ke dalam penjara.
“Put,” panggil Arash yang mana membuat Putri dan Om Martiin menghentikan langkanya dan berbalik.
“Ya?” jawab Putri.
Arash membuka jasnya dan memakaikan jas tersebut kepada Putri.
“Udah malam, dingin, nanti kamu masuk angin lagi,” ujar Arash yang sebenarnya tak suka jika pria lain menatap tubuh Putri yang terbuka.
“Terima kasih,” jawab Putri dan mengeratkan jas Arash ke tubuhnya.
Ya, cuaca malam ini memang cukup dingin. Syukurlah Arash memberikan jas pria itu kepada dirinya.
Putri dan Arash pun berpisah, mereka memasuki mobil masing-masing dan menuju ke tempat masing-masing.
“Om, tadi Putri melihat Yosi sedang menyiksa seorang remaja untuk di setubuhi, Om,” ujar Putri memberi tahu.
“Ya, itu lah Yosi. Selain usaha judi kasino, dia juga seorang prostitusi, mendagangkan tubuh wanita untuk di jajaki oleh para maniak ****.
“Jahat sekali Yosi,” ujar Putri merasa takut.
“Makanya, Om sangat menjaga kasus kamu ini. Om tidak ingin dia menyentuh kamu, untungnya orang yang bersama kamu adalah keluarga Moza. Di mana Yosi sangat takut dengan menantu Pak Arka,” ujar Om Martin.
“Menantu Pak Arka? Yang mana?” tanya Putri penasaran.
“Emangnya menantu Pak Arka ada berapa?” tanya Om Martin sambil memutar bola matanya malas.
“Dua, Om. Mas Abi dan Mbak Nafi,” ujar Putri yang mana membuat Om Martin menggaruk keningny yang tak gatal.
“Yang laki,” jawabnya malas,
“Oh, Mas Abi? Memangnya kenapa dengan Mas Abi? Dia kan cuma seorang dokter hewan, Om?” ujar Putri dengan kening mengkerut.
“Abi itu keturunan Subekti. Salah satu orang yang berpengaruh di Eropa,” ujar Om Martin yang mana membuat Putri membelalakkan matanya.
“Yang bener, Om? Kok gayanya terlihat biasa aja, ya?” tanya Putri.
“Memangnya kamu ada lihat kalau keluarga Moza gayanya setinggi langit? Enggak kan? Karena apa? Karena mereka adalah orang kaya sejati, yang mana kekayaannya tidak untuk di umbar-umbar,” jelas Om Martin.
“Iya sih, Om.”
“Papa kamu juga, orang kaya sejatu, dia tidak mengumbar-umbar kekayaannya dari dulu,” ujar Om Martin sambil tersenyum di saat mengingat sahabatnya itu.
“Om, ngomong-ngomong soal Papa. Om gak bilang kan ke Papa, kalau bermasalah dengan Yosi?” tanya Putri.
Ya, Putri sudah tahu, jika Yosi hanya mengincar dirinya. Untuk itulah dia meminta Abash untuk mengungkapkan perasaannya kepada Sifa, karena yang di incar oleh pria itu bukanlah Abash, melainkan dirinya.
Kenapa hanya Putri?
Karena Putri adalah anak dari Papa Satria, yang mana pernah memiliki kasus dengan keluarga Kamogi, di mana papa Satria berhasil membuat ayah Yosi di hukum mati oleh hakim. Untuk itulah, di saat kesempatan yang tepat, Yosi ingin membalaskan dendamnya dan sedikit bermain dengan keluarga Satria.
__ADS_1
Tanpa Yosi ketahui, jika Putri tidak sepolos yang terlihat.
Ya, Putri diam-diam sering mengambil kasus mafia bermasa om Martin. Untuk itulah gadis itu sedikit paham cara main para mafia. Tetapi, mendapatkan teror hingga gadis itu memiliki trauma pun, adalah kasusnya dengan Yosi.
Sebenarnya mudah saja bagi Yosi untuk menghancurkan Putri. Tetapi kembali lagi seperti apa yang Om Martin katakan. Jika Putri di selamatkan dengan keluarga Moza.
“Put,” panggil Om Martin.
“Hmm?” jawab Putri dengan gumaman dan tidak menoleh kepada orang yang bersangkutan.
“Kamu kenapa gak pacaran aja sama Arash? Sepertinya kalian cocok, deh,” goda Om Martin.
“Iih, Om, apaan sih main jodoh-jodohin segala?” cibir Putri sambil melirik kesal ke arah Om Martin, yang mana membuat Pria itu pun terkikik geli.
*
Di rumah sakit.
Sifa masih menatap Abash yang masih belum terbangun dari tidurnya. Pria itu baru saja menyelesaikan pemeriksaan kembali.
“Sifa,” panggil Mama Kesya yang baru saja masuk ke ruangan Arash.
“Sudah larut malam banget ini, kamu tidur di sini aja, ya?” pinta Mama Kesya.
“Tapi, Tante—,”
“Tante harus menemani Kakek. Kamu tolong jagain Abash, ya,” pinta mama Kesya yang mana membuat Sifa tidak bisa menolak.
“Ini, ada pakaian ganti untuk kamu. Kamu pakai ini aja, ya. Pasti gak nyaman kan kalau pakai baju kerja,” ujar Mama Kesya sambil memberikan paper bag yang sengaja di beli oleh Naya dari supermarket terdekat.
“Iya, Tante, terima kasih banyak.”
Sifa pun mengambil uluran paper bag yang di berikan oleh Mama Kesya, kemudian gadis itu pun berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Mama Kesya pun menghampiri sang putra yang masih terlelap tidur.
“Bash, kamu masa tidur sih ada Sifa? Atau kamu baru bisa tertidur nyenyak ya karena ada pujaan hati?” ujar Mama Kesya yang memang belum mengetahui keadaan Abash yang sebenarnya.
Sifa sudah keluar dari kamar mandi, gadis itu sudah mengganti pakaiaannya dengan yang lebih santai.
“Kamu sudah selesai?” tanya Mama kesya yang di angguki oleh Sifa.
“Hmm, ya sudah kalau begitu. Kalau kamu lapar, itu di meja ada Tante bawain sate. Kamu makan ya,” ujar Mama Kesya.
“Iya, Tante, terima kasih banyak.
Mama Kesya pun berpamitan kepada Sifa, sehingga meninggalkan gadis itu berdua saja dengan Abash.
“Mas, bangun,” lirih Sifa dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku di sini, Mas, kamu harus bangun,” pinta Sifa lagi yang saat ini sudah menjatuhkan air matanya.
Sifa menundukkan kepalanya, menahan isak tangis yang ingin keluar dari mulutnya. Tetapi, tiba-tiba saja dia merasakan pergerakan dari jari-jari sang kekasih.
“Mas?” panggil Sifa dan menatap wajah Abash.
Jari-jari Abash pun kembali bergerak, hingga perlahan matanya juga ikut terbuka dengan sayu.
“Si-fa?” liirih Abash dengan pelan.
“Hiks .. Iya, Mas, ini aku,” ujar Sifa sambil mengecup punggung tangan sang kekasih.
"Kamu di sini?" tanya Abash. "Kamu benar-benar di sini?" tanya nya lagi untuk memastikan.
"Iya, Mas. Ini aku. Aku benar-benar ada di sini," ujar Sifa sambil membawa telapak tangan Abash ke pipinya.
"Syukurlah. Aku takut sekali kalau kamu tidak mau bertemu dengan aku, Sifa. Aku sangat takut sekali kalau kamu pergi jauh dari aku tanpa mendengar penjelasan aku," ujar Abash dengan pelan.
"Mas, kalau Mas ingin menjelaskan apa pun itu, jangan sekarang ya," pinta Sifa.
"Kenapa?" tanya Abash yang merasa takut jika Sifa tidak ingin mendengarkan penjelasannya. Seperti halnya gadis itu lakukan kepada Putri.
"Mas baru bangun dari pingsan. Jadi, Mas harus banyak istirahat," ujar Sifa yang di jawab gelengan oleh Abash.
"Aku mau bicara dan menjelaskan semuanya sama kamu, Sifa," lirih Abash.
"Mas, kalau Mas gak mau dengar apa kata aku, sebaiknya aku pulang aja nih," ancam Sifa yang mana membuat Abash kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak, jangan pulang. Temani aku di sini," pinta Abash yang mana di jawab anggukan oleh Sifa.
"Sekarang Mas diam dan istirahat dulu. Aku akan menghubungi Kak Lucas," ujar Sifa dan mengambil ponselnya untuk menghubungi kakak sepupu dari kekasihnya itu.
"Assalamualaikum, Sifa," ujar Lucas dari seberang panggilan.
"Walaikumsalam, Kak."
"Ada apa, Sifa?" tanya Lucas merasa khawatir dengan keadaan Abash.
"Ini, Pak Abash sudah sadar," ujar Sifa yang mana membuat Lucas langsung bergegas kembali menuju ruangan adik sepupunya itu.
"Oke, Kakak akan segera ke sana sekarang," ujar Lucas dan menutup panggilan nya.
"Kak Lucas mau ke sini?" tanya Abash yang di jawab anggukan oleh Sifa.
"Iya."
__ADS_1
Tak berapa lama Kak Lucas pun tiba, pria itu pun langsung menerima kondisi sang adik.
"Hmm, cukup bagus," ujar Kak Lucas di saat memeriksa degup jantung dan denyut nadi sangat adik.
"Ternyata kekuatan cinta itu benar-benar nyata, ya," goda Kak Lucas yang mana membuat wajah Sifa lun merona.
"Sejak kapan Kakak tahu?" tanya Abash merasa penasaran.
"Sejak Sifa menangis sesenggukan karena kamu," ujar Kak Lucas yang mana membuat wajah Sifa semakin merona.
"Aku buat kamu Khawatir, ya? Maafin aku, ya," ujar Abash dengan lembut, yang mana membuat Lucas ikut tersenyum melihatnya.
*
"Baru pulang?" tanya Desi kepada Arash.
"Huum." Pria itu pun mengendurkan dasi dan merebahkan tubuhnya di sofa yang empuk.
"Putri mana?" tanya Arash sambil melirik ke arah Desi yang tengah asik menonton film Korea sambil memakan cemilan nya.
" Putri belum pulang, katanya dia menginap di rumah Oom nya," ujar Desi yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.
"Jadi dia gak pulang malam ini?" Lirih Arash dengan sedikit kecewa.
Pria itu pun bangkit dari duduknya, kemudian berlalu menuju kamar.
"Aku tidur duluan, ya," pamit Arash kepada Desi.
"Huum, ya," jawabnya tanpa menoleh karana terlalu asyik menonton.
Arash pun melangkahkan kakinya menuju kamar, kemudian pria merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia menghela napasnya dengan berat, di saat merasakan betapa lelahnya tugas malam ini.
Perlahan, mata Arash tertidur dan kepingan bayangan tentang senyuman Putri dan terniang di dalam benaknya.
Arash pun kembali membuka matanya dan mengernyitkan keningnya.
"Kenapa Putri?" Lirih Arash dengan bingung.
Di tempat lain, Putri yang juga sedang mencoba untuk tidur pun, terbayang oleh wajah Arash yang hendak ingin menciumnya.
"Ck, kenapa aku tutup mata sih? Kan kelihatannya aku kepingin banget gitu di cium sama dia?" lirih Putri pelan dan mencoba untuk melupakan kejadian tadi.
"Akkh ... dasar bodoh, seharusnya aku tidak terlena seperti itu. Hmm, ini semua karena perasaan yang masih abu-abu ini," lirih Putri sambil mengacak rambutnya.
Di saat Putri dan Abash tengah membayangkan kejadian yang membuat jantung mereka berdegup kencang, berbeda dengan Sifa dan Abash yang semakin berada di dalam mabuk cinta.
Ya, setelah membujuk sang kekasih untuk tidur dan menyimpan semua kata-kata yang ingin dia sampaikan nanti, Sifa pun ikut tidur dan menyandarkan kepala di pinggir brankar, sehingga membuat posisi gadis itu setengah terduduk dan berbaring.
Lucas kembali masuk ke dalam kamar inap Abash, pria itu pun melihat jika Sifa terduduk dalam keadaan tertidur, sehingga membuat pria itu membangunkan gadis itu dan menyuruhnya untuk berbaring di sofa.
Sifa pun terbangun dan menuruy dengan apa yang Lucas katakan, gadis itu pun merebahkan tubuhnya di sofa. tak lupa dia menyelimuti setengah tubuhnya dengan menggunakan selimut.
Dan untuk yang menjagai Abash, akan di gantikan oleh Lucas. Pria itu duduk di kursi yang di tempati oleh Sifa tadi.
Dan, setidaknya satu masalah hampir selesai. Tinggal tunggu Abash saja menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi kepada Sifa dan Putri.
Ya, Abash memang harus mengungkapkan yang sebenarnya kepada sang kekasih. Dia harus menjelaskan jika dirinya dan Putri tidak memiliki hubungan apa pun. Dan untuk masalah foto yang di Bandung, Abash juga harus mengatakannya kepada Sifa, agar gadis itu berhati-hati dengan sahabatnya sendiri.
*
Sifa membuka matanya secara perlahan di saat mendengar suara azan subuh berkumandang. Gadis itu pun terbangun dan melihat sosok Lucas yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Kak Lucas yang di angguki oleh Sifa.
"Bisa sholat?" Tanya pria itu lagi.
"Iya, kak."
"Kalau begitu, ambillah wudhu. Di dalam lemari ada mukenah. kamu sholat di sini saja, takutnya Abash terbangun meminta bantuan," titah Lucas yang di angguki oleh Sifa.
Setelah mengatakan hal itu, Lucas pun keluar dari dalam kamar inap Abash.
Benar saja, saat Kak Lucas baru saja keluar dari dalam kamar, Abash pun terbangun dan memanggil nama Kak Lucas.
"Kak Lucas baru aja keluar, mau sholat subuh. Mas butuh sesuatu?" tanya Sifa yang di angguki oleh Abash.
"Apa?" Tanya Sifa yang sudah berjalan mendekat ke arah sang kekasih.
"Aku mau pipis, tolong panggilin perawat laki-laki ya?" Pinta Abash yang di angguki oleh Sifa.
"Tunggu di sini dulu, ya. Aku panggil perawatnya dulu," ujar Sifa dan bergegas memanggil perawat pria yang sedang berjaga subuh itu.
Tak berapa lama, pintu kamar pun terbuka menampilkan perawat pria dengan badan yang besar.
"Ada yang bisa di bantu, Pak?" tanya perawat tersebut.
"Tolong saya ke kamar mandi, saya aku pipis sekalian ambil wudhu," ujar Abash yang di angguki oleh perawat tersebut.
"Ah ya, kamu mau sholat kan Sifa?" Tanya Abash yang di angguki oleh Sifa.
"Kita berjamaah berdua ya?" Titahnya yang mana membuat wajah Sifa pun merona.
"Iya, Mas." jawab Sifa.
__ADS_1