
"Rash, kamu harus memilih antara satu, menyelamatkan Putri atau bayi kalian." Mbak Anggel kembali bertanya kepada Arash, membuat pria itu semakin merasa bersalah kepada keduanya.
"Rash, persentase untuk bisa selamat, besar kemungkinannya ada pada bayi kalian. Jika kamu memilih untuk menyelamatkan Putri, Mbak gak bisa menjamin, apakah operasi ini akan berjalan dengan baik atau tidak. Harapan kami sebagai tim medis, selalu ingin jika pasien kami sehat dan selamat saat keluar dari ruangan operasi."
Air mata Arash pun semakin berlinang. Pria itu tidak tahu keputusan apa yang harus dia ambil. Satu sisi, Arash tidak bisa kehilangan Putri. Satu sisi lagi, Arash tidak bisa membiarkan bayi yang tidak bersalah harus berkorban atas keegoisannya.
Andai saja bisa, Arash ingin menukar keselamatan Putri dan bayi yang ada di dalam kandungan dengan nyawanya. Tapi, jelas hal itu tidak akan pernah bisa dia lakukan.
"Rash, waktu kita tidak banyak. Kamu harus memutuskannya dengan segera."
Arash meminta untuk bertemu dengan Putri, pria itu tak bisa menutupi kesedihannya. Arash menggenggam tangan Putri dengan erat dan hangat. Pria itu meluapkan tangisannya dan meminta maaf kepada Putri, karena dirinya, istri tercintanya itu harus berjuang antara hidup dan mati.
"Rash, aku mohon, selamatkan bayi kita," pinta Putri yang mana membuat Arash semakin menangis tersedu-sedu.
Mbak Anggel menghampiri Arash, memberikan selembar kertas surat pernyataan untuk pria itu tanda tangani, mengikuti aturan sesuai dengan persyaratan dan prosedur rumah sakit.
"Kamu harus memutuskannya sekarang, Rash," ujar Mbak Anggel sambil mengulurkan selembar kertas surat pernyataan dan pulpen.
"Mbak, hiks ..."
__ADS_1
"Rash, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Dengan tangan yang bergetar, Arash mengambil pulpen yang ada di tangan Mbak Anggel. Pria itu pun mengusap air matanya dan membaca semua persyaratan yang tertulis di sana.
Ada dua pilihan pilihan yang tersedia di atas kertas itu, di mana pilihannya adalah menyelamatkan sang bayi dengan persentase hidup lebih tinggi, dari pada menyelamatkan sang ibu yang persentasenya lebih rendah.
Arash menarik napasnya panjang, kemudian dia menghelanya secara perlahan. Dengan mengucapkan bismillah, Arash memilih untuk menyelamatkan istrinya.
Tanpa ada keraguan sedikit pun, dia langsung membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang sudah di tempeli materai.
"Mbak," ujar Arash sambil mengembalikan pulpen dan surat pernyataan itu kepada Mbak Anggel.
Mbak Anggel pun mengambil surat pernyataan dan pulpen yang Arash berikan, wanita itu membaca apa yang menjadi pilihan sang keponakannya itu. Mbak Anggel menghela napasnya berat, wanita itu pun mengangkat pandangannya untuk menatap Arash.
Mbak Anggel kembali menghela napasnya pelan dan berat.
"Mbak akan usahakan."
Mbak Anggel langsung meminta kepada perawat untuk membawa Putri ke ruangan operasi. Tim medis pun juga sudah bersiap di sana, termasuk Mami Anggun.
__ADS_1
*
Arash dan seluruh keluarga yang lainnya pun sudah menunggu sekitar tiga jam di depan ruangan operasi. Mereka semua tidak berhenti untuk membaca Yasin secara serentak dan bersamaan. Berdoa agar Putri dan bayi yang di kandungnya bisa selamat.
"Mas, ini air minumnya," Sifa yang baru saja datang dengan Naya pun membagikan air minum untuk seluruh keluarga. Kebetulan saat ini mereka sudah selesai membaca surat Yasin yang entah ke berapa puluh kalinya.
Membaca surah Yasin selama tiga jam, pastinya membuat tenggorokan juga terasa kering.
"Terima kasih, sayang." Abash pun mengambil air minum yang diberikan oleh Sifa.
Sifa pun berjalan mendekat ke arah Zia untuk memberikan air minum kepada gadis yang sedari tadi air matanya tidak berhenti.
"Minum dulu, Zi," tawar Sifa sambil mengulurkan air mineral kepadanya.
Zia mengangkat pandangannya, terlihat tatapan mata gadis itu sangat sedih sekali.
"Terima kasih, Mbak."
Barus saja Zia ingin mengambil air mineral yang di ulurkan oleh Sifa, tiba-tiba saja botol air mineral yang ada di tangan Sifa pun terjatuh, bersamaan dengan gadis itu yang juga terkulai lemas.
__ADS_1
"Mbak ..." pekik Zia yang mana membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Sifaaa ....."