Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 97 - Baju


__ADS_3

Setelah lelah dengan menjalani perlombaan, seluruh keluarga dan juga para pekerja pun menikmati makanan yang sudah di hidangkan.


"Jadi, kapan rencananya kalian berangkat ke Bali?" tanya Lana.


"Gak tau," jawab Abash, kemudian pria itu membuka amplop yang di berikan oleh Oma Laura.


"Hari Sabtu ini?" lirih Abash dengan kening mengkerut.


"Waah, tinggal beberapa hari lagi tuh. Sifa, kamu udah bisa packing-packing barang," goda Anggel.


"Gak bisa," jawab Abash tiba-tiba, yang mana membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Mama Kesya.


"Minggu depan Sifa ujian, dia harua belajar jika mau bergabunh ke tim cobra," ujar Abash.


"Oh iya, kamu mau ujian yaa, Sifa," lirih Mama Kesya.


"Ujian apa?" tanya Quin.


"Ujian masuk ke timnya Om Riko," ujar Mama Kesya.


"Waah, mantap banget itu. Sifa, kamu pasti bisa," ujar Quin menyemangati Sifa.


"Makasih, Mbak."


"Jadi, tiket itu gimana? Hangus dong?" tanya Lana.


"Gak bakal hangus, ada Papa yang akan pergi honeymoon. Ya gak, Ma?" goda Papa Arka kepada sang istri.


"Dasar tua-tua keladi," cibir Mama Kesya.


"Ikut dong," pinta Papa Fadil.

__ADS_1


"Ngikut aja Lo, bayar sendiri tiketnya," ledek Papa Arka.


"Aku juga mau ikut dong," ujar Daddy Bara lagi.


"Ini lagi, ganggu aja," cibir Papa Arka yang mana membuat semua orang tertawa. "Apa? Mau ikut juga?" ujar Papa Arka kepada Papi Vano.


"Kalau boleh, Om," kekeh Papi Vano.


"Dasar, gak bisa lihat orang senang."


Sifa tersenyum melihat kehangatan yang di tunjukkan oleh seluruh keluarga Moza. Andai saja orang tuanya masih hidup, mungkin dia juga masih akan merasakan kehangatan keluarganya.


"Sifa, ikut aku yuk," ajak Quin.


"Ke mana, Mbak?" tanya Sifa.


"Ada deh, yuk." Quin pun menarik tangan Sifa, sehingga membuat gadis itu mengikutinya.


"Mbak Quin mau bawa Sifa ke mana?" batin Abash.


Di dalam rumah, Quin mengajak Sifa masuk ke dalam kamarnya yang dulu.


"Sifa, aku ada baju yang belum aku pakai, kamu mau?" tawar Quin.


"Hah?"


"Bentar ya." Quin pun mengambil beberapa baju yang dia beli tetapi belum dia pakai.


"Ini, cobain deh," ujar Quin.


"Mbak, baju ini bagus banget, pasti mahal. Aku gak cocok memakainya," lirih Sifa.


"Udah, pakai aja. Cepetan. Gak ada kata gak cocok, kamu itu cantik, pasti cocok. Ayo," titah Quin.

__ADS_1


Sifa pun terpaksa menurut dan mencoba pakaian yang Quin berikan. Semua pakaian yang di berikan oleh Quin, terlihat sangat cocok di tubuh Sifa.


"Benerkan, kamu cocok dengan pakaian itu," ujar Quin.


"Ini beneran buat aku, Mbak?" tanya Sifa.


"Iya, semuanya buat kamu."


"Duh, Mbak, seriusan ini? Mbak gak sayang dengan baju-baju ini? Semuanya kan pasti mahal-mahal, kok di kasih ke saya?"


"Gak papa. Lagian gak muat sama saya. Buat kamu aja," ujar Quin.


"Tapi, Mbak?"


"Kalau kamu menolaknya, aku marah nih." Rajuk Quin.


"Hmm, ya udah kalau gitu, Terima kasih banyak ya, Mbak."


"Iya, sama-sama. Ah ya, lain kali kita shopping bareng yaa," ajak Quin.


"Hah?"


"Aku pingin punya adik cewek perempuan. Dan aku rasa, kamu cockn jadi adik aku," ujar Quin dengan tersenyum. "Jadi, sebenarnya kamu punya hubungan dengan siapa? Arash atau Abash?" goda QUin.


"I-itu .. saya gak gak punya hubungan yang spesial kok mBak dengan Pak Arash atau pun Pak Abash."


"Hmm, masih gak mau jujur juga. Ya udah deh, gak papa."


Tak berapa lama, Mama Kesya memanggil Quin dan Sifa untuk turun. Karena mereka akan membuka hadiah dari pemenang-pemenang lomba.


"Sifa, kamu tidur sini aja yah," bujuk Quin yang mana membuat Sifa tercengang.


"Hah?"

__ADS_1


__ADS_2