
"Sayang." Mama Kesya menangkup pipi Sifa yang sudah basah dengan air mata.
"Maafin Abash, ya. Dia terkadang suka bertingkah seperti anak-anak," ujar Mama Kesya merasa tidak enak hati dengan Sifa dan juga merasa bersalah dengan calon menantunya itu.
"Gak papa, Tante, hiks ... Lagi pula, pasti Mas Abash gak bermaksud seperti tadi," sahut Sifa dengan suara yang parau.
Mama kesya pun membelai rambut Sifa dengan lembut. "Kamu yang sabar ya, sayang. Kamu jangan merasa hidup sendirian sekarang. Karena saat ini, kamu sudah milik kami, dan seluruh keluarga Moza adalah keluarga kamu," ujar Mmaa Kesya.
"Kalau kamu perlu sesuatu, kamu tinggal bilang aja ke Abash atau ke mama. Pasti Mama akan mengabulkan semua permintaan kamu. Karena kmu sudah mama anggap sebagai anak mama snediri," sambung Mama Kesya.
"Iya, Tante."
"Nah, karena kamu sudah bertunangan dengan Abash. Mulai sekarang kamu manggilnya jangan Tante lagi, ya? Tapi mama," pinta Mama kesya.
Sifa menganggukkan kepalanya.
"Coba, sekarang panggil mama?" titah Mama kesya.
"Mama," ucap Sifa dengan malu-malu.
"Iya, sayang. Sekrang mama adalah mama kamu. Apapun yang terjadi, mama tetaplah mama kamu, mengerti?"
"Iya, Ma."
Mmaa kesya pun menarik tubuh Sifa ke dalam pelukannya. Wanita paruh baya itu mengusap punggung Sifa dengan penuh kasih sayang dan menadartkan banyak kecupan di wajah cantik calon menantunya itu.
"Mmaa bakal kangen banget sama kamu. Sama masakan kamu, kepolosan kamu, canda kamu, semua yang ada di diri kamu, mama bakal kangen bangen, hiks .." Mmaa Kesya menangkup pipi Sifa saat mengatakan hal itu.
"Sifa juga bakal rindu banget sama mama."
*
Ting tong ...
__ADS_1
Sifa yang sedang menyusun dan memasukkan pakaiannya ke dalam tas, terpaksa berdiri dan membuka pintu apartemennya, karena orang yang ada di luar pintu apartemennya itu terlihat tidak sabaran. Terlihat dari caranya menekan pintu bel apartemennya.
"Sebentar," kesal Sifa.
Gadis itu pun membuka pintu apartemennya, kemudian dia mengernyitkan kening saat melihat buket bunga besar yang menutupi wajah orang yang memegang buket tersebut.
"Pagi sayang," sapa Abash dengan tersenyum lebar.
"Mas?" kejut Sifa.
Sepengathuan Sifa, Abash mengatakan jika hari ini dia akan sangat sibuk sekali. Ada meeting dari pagi hingga siang yang harus dia hadiri.
"Ini untuk kamu," Abash pun meberikan buket bunga yang ada di tangannya.
"So sweet banget," seru Sifa sambil menghirup aroma bunga mawar yang ada di tangannya saat ini.
"Kamu lagi ngapain?' tanya Abash.
"Lagi nyusun baju ke koper, kenapa?"
"Apa, Mas?" tanya Sifa memastikan apa yang di maksud oelh tunangannya itu.
"Sambut tangan aku, sayang," totah Abash.
"Oh ..." Sifa pun meletakkan telaoak tangannya di atas tangan Abash, hingga tangannya di genggam oleh sang kekasih.
"Ayo," ajak Abash.
"Mau ke mana, Mas?" tanya Sifa dengan bingung.
"Hari ini waktu kamu hanya untuk aku. Soal packing bisa suruh si mbok aja." Abash pun menarik tangan Sifa dengan paksa keluar dari apartemen, kemudian prai itu menutup pintu apartemennya.
"Mas, kita mau ke mana?" tanya Sifa.
__ADS_1
"Kita akan menghabiskan waktu seharian ini bersama," sahut Abash sambil mengedipkan matanya sbeelas.
"Mas, tapi baju aku---"
"Udah, soal baju kamu jangan khawatir. Aku bisa beli kamu berlusin-lusin baju yang kamu suka. Nanti tinggal pilih aja," potong Abash cepat.
"Tapi, Mas."
"Gak pake tapi, sayang. Atau kamu mau aku cium di dalam lift?" ancam Abash, karena kekasihnya itu terlalu banyak berkata tapi.
Sifa pun menggelengkan kepalanya, menolak tawaran yang di berikan oleh kekasihnya itu. Ya, walaupun sebenarnya dalam hati Sifa juga tidak ingin menolak. Tapi, jika di cium di dalam lift, pastinya akan terekam di cctv kan? Sifa tidak mau itu terjadi.
"Jadi, nurut sama aku, ya?" ujar abash sambil mengusap kepala Sifa dengan lembut.
"Iya, Mas,' sahut Sifa sambil menganggukkan kepalanya.
*
Sifa menatap kagum dengan apa yang dia lihat saat ini. Rasanya ini seperti mimpi baginya.
"Mas, ini---"
Abash memluk tubuh Sifa dari belakang. "Aku sengaja membeli tanah ini dengan harga dua kali lipat, karena di sini memiliki banyak kenangan yang kamu miliki, sayang," bisik Abash.
Ya, saat ini mereka sedang berada di depan rumah gubuk yang sudah tak layak huni. Rumah yang tidak terlalu besar, tetapi memiliki tanah yang lumayan cukup untuk membangun rumah minimalis yang indah. Rumah sewa yang dulu pernah dia tempati dengan sang nenek. Rumah kecil yang terasa hangat, walaupun memiliki celah lubang dan sering kebocoran saat hujan.
Walaupun keadaannya dulu sangat memperhatikan, akan tetapi Sifa tetap merasa jika kenangannya bersama sang nenek adalah kenangan yang paling indah.
"Aku membeli tanah dan rumah ini, atas nama kamu, sayang. Aku senagja membeli ini, sebagai hadiah pertunangan kita," bisik Abash.
Pria itu pun membalikkan tubuh sang kekasih untuk menatap ke arahnya.
"Aku akan membangun rumah yang hangat dan indah, di mana nantinya kita akan tinggal bersama di rumah itu, bersama dengan anak-anak kita nantinya, sayang."
__ADS_1
"Hiks ... Mas, i-ini.. hiks .. kamu benar-benar membuat aku gak bisa berkata-kata, Mas, hiks .." Sifa pun memeluk tubuh Abash.
"Terima kasih banyak,, Mas. Terima kasih banyak."