
"Apa kamu merasa tidak nyaman datang ke sini?" tanya Ibra kepada Zia.
Saat ini, Ibra dan Zia sedang berada di mall. Pria itu mengajak Zia menonton bioskop setelah selesai makan siang.
Zia hanya tersenyum kecil, ingin berkata 'ya', tapi takut mengecewakan Ibra.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman, aku akan membawa kamu pergi dari sini," ujar Ibra.
"Tidak, aku gak papa kok. Aku hanya merasa gugup saja," cicit Zia.
"Gugup kenapa?"
"Emm, aku---"
Ibra pun berjongkok di hadapan Zia, pria itu menatap dalam ke mata gadis yang sudah mencuri hatinya itu.
"Emm, aku tidak akan memaksa kamu, jika kamu merasa tak nyaman, Zi. Dan aku akan membawa kamu, ke tempat yang ingin kamu datangi," ujar Ibra dengan lembut.
"Benarkah?" tanya Zia pelan.
"Huum, katakan, kamu mau ke mana?" tanya Ibra balik.
"Jujur saja, sebenarnya aku memang kurang nyaman berada di tempat umum, Bra. Aku merasa jika orang-orang yang ada di sekeliling aku, sedang menatap aku dengan tatapan kasihan. Aku tidak ingin merasa dikasihani, Bra. Aku---" Zia menggantung kalimatnya, air mata gadis itu yang menggenang di pelupuk matanya pun akhirnya terjatuh membasahi pipi.
"Hei, Ziaa ..." Ibra mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Zia.
__ADS_1
"Jangan menangis," mohon Ibra.
"A-aku tidak menangis. A-aku hanya ... Hiks ... Air mataku hanya keluar sendiri, hiks .. Aku tidak menangis," ujar Zia dengan sesenggukan.
Ibra menggenggam tangan Zia, seolah memberikan kekuatan kepada gadis itu.
"Kamu bukan gadis lemah. Kamu adalah gadis yang kuat dan riang. Aku mohon, kembalikan Zia ku yang periang dan ceria," mohon Ibra kembali.
Zia mengangkat pandangannya, menatap tatapan mata Ibra yang menatap lurus ke arah matanya.
"Aku pulang ke sini, hanya untuk bertemu dengan kamu, Zia. Aku mohon, biarkan aku melihat wajah ceriamu," pinta Ibra. "Maafin aku yang sudah membuat kamu sedih, tapi aku mohon, jangan menangis."
Zia menghapus air matanya dengan satu tangannya yang bebas, gadis itu tersenyum kepada pria yang sudah berlutut di hadapannya saat ini.
"Maafin aku," ujar Zia merasa bersalah.
Zia terdiam sesaat, hingga akhirnya gadis itu mengatakan jika dirinya ingin ke pantai.
Dan, di sinilah Ibra dan Zia. Di pantai ancol.
Pria itu mendorong kursi roda yang di duduki oleh Zia, menatap ke arah laut dengan hembusan angin yang bertiup.
"Kamu suka?" tanya Ibra kepada Zia.
"Huum, sudah lama banget aku gak ke sini," lirih Zia sambil menghela napasnya panjang.
__ADS_1
"Terima kasih, karena sudah membawaku ke sini, Bra."
"Aku senang, jika bisa membuat kamu senang, Zi."
"Kamu tau, kalau sudah ke pantai itu, rasanya semua beban yang ada di pundak, terlepas begitu saja." Zia terlihat bahagia dari pada sebelumnya.
Andai saja Ibra tahu sejak awal jika Zia menyukai pantai, mungkin sejak awal dia sudah mengajak Zia ke sini.
"Ah ya, ngomong-ngomong, kenapa kamu cepat sekali kembali ke Papua?" tanya Zia yang sudah menoleh ke arah Ibra.
"Karena pekerjaan aku belum selesai di sana."
"Oh, begitu ..."
Zia kembali memandang ke arah lautan.
"Zi, aku tau ini terlalu cepat. Tapi, entah mengapa aku merasa jika aku harus mengatakan hal ini kepada kamu."
Zia kembali menoleh ke arah Ibra, gadis itu mengernyitkan keningnya menatap ke arah Ibra yang sudah kembali berlutut di hadapannya.
"Jika aku kembali bertugas ke Jakarta. Maukah kamu menikah denganku?" pinta Ibra sambil menunjukkan sebuah cincin yang ada di tangannya.
"Aku tahu, di hati kamu tidak ada cinta untukku. Tapi, apakah kamu bisa memberiku kesempatan untuk menjadi pendamping hidup kamu, Zi?"
Zia diam, gadis itu dapat melihat dari tatapan mata Ibra, jika pria itu benar-benar tulus dengan ucapannya.
__ADS_1
Haruskah Zia menerima tawaran Ibra?