
Arash menunjukkan kamar yang telah di pesan oleh Putri. Di mana dekorasinya sesuai dengan apa yang gadis itu inginkan.
"Cukup sempurna," puji Soni sambil memandang setiap sudut kamar.
"Jadi, apa kita akan menginap malam ini setelah menikah?" goda Soni, yang mana sengaja ingin memanas-manasin Arash.
"Soni ... i-itu ..."
"Oh, jadi Nona Putri dan Pak Soni akan menikah?" tanya Arash dengan tersenyum.
"Iya," jawab Soni tanpa keraguan sedikit pun.
"Ya kan, sayang." Soni pun mengedipkan matanya sebelah kepada Putri.
Putri sudah melototkan matanya, menatap tajam ke arah sahabat lamanya itu.
"Pak Arash sendiri bagaimana? Kapan nih undangannya?" tanya Soni dengan sengaja.
"Dengan segera, intinya, sebelum janur kuning melengkung, maka masih ada kesempatan untuk saya berjuang, iya kan?" ujar Arash dengan membalas tatapan mata Soni yang terlihat tajam.
__ADS_1
Soni tersenyum, ternyata dia memiliki saingan yang cukup kuat. Ya, walaupun dari awal dirinya sudah kalah dengan Arash. Cukup melihat tatapan mata Putri, jika gadis itu terlihat sekali menyukai Arash.
"Waah, jadi calon istri anda---"
"Cukup, bisa berhenti pembahasan yang tidak penting ini?" kesal Putri memotong ucapan Soni.
Pria itu mengangguk-anggukan kepala dan meminta maaf kepada Putri.
"Saya mau, saat penghuni kamar ini akan ingin masuk ke dalam, maka semua hidangan makanan yang saya pesan, sudah tersedia di atas meja. Masih dalam keadaan hangat," ujar Putri kepada Arash.
"Baiklah. Tapi, bagaimana kami tahu jika penghuni kamar ini ingin masuk ke dalam kamar?" tanya Arash.
"Tapi saya yang akan melayani Anda malam ini."
"Dan saya tidak butuh layanan dari Anda." Putri menarik napas dan menghelanya dengan sedikit kasar.
"Sebaiknya, Anda berhenti membuang-buang uang tanpa alasan yang jelas. Saya sudah tahu, jika kejadian di gerai es krim adalah ide dari Anda, kan?" kesal Putri.
Ya, Putri masih kesal dengan kejadian yang ada di gerai es krim.
__ADS_1
Arash tersenyum, tak menyangka jika rencananya akan secepat ini ketahuan.
"Mungkin Anda akan berpikir kalau saya akan terkesan. Tapi sayang, saya sama sekali tidak terkesan dengan apa yang sudah Anda lakukan," sambung Putri.
"Tapi aku malah mengkhawatirkan kamu seharian ini, Rash. Kamu itu bikin aku gak fokus kerja tau gak sih?" batinnya. "Aku khawatir jika perut kamu sakit, bagaimana? Apa kamu tidak berpikir jika aku akan merasa bersalah karena demi aku, kamu menghabiskan es krim itu," sambungnya lagi di dalam hati.
Mata Putri sudah terlihat berkaca-kaca, gadis itu ingin sekali bertanya apakah pria yang ada di hadapannya saat ini baik-baik saja? Tapi, gengsi dan rasa kesal membuat Putri menahan perasaannya.
"Terima kasih karena Anda telah menunjukkan kamar ini. Saya cukup puas dengan dekorasinya, sesuai dengan apa yang saya inginkan."
Arash masih terdiam di tempatnya. Pria itu masih menelisik seluruh reaksi yang Putri berikan saat ini dari bahasa tubuh dan juga mimik wajahnya.
"Kalau begitu kami permisi dulu." Putri pun mengajak Soni untuk keluar dari kamar, sedangkan Arash masih terdiam di tempatnya.
"Kamu marah atau mengkhawatirkan aku, Put?" gumam Arash.
Pria itu dengan langkahnya yang besar, menghampiri Putri dan Soni yang sudah berada di dekat pintu. Soni kebetulan keluar duluan dari kamar,m dan di susul oleh Putri. Pada saat itu, Arash menarik lengan Putri dan menutup pintunya rapat-rapat. Tak lupa dia mengunci pintu agar Soni tidak bisa kembali masuk.
"Apa yang kamu lakukan, Rash?" pekik Putri saat dirinya berada di dalam kungkungan Arash.
__ADS_1