
Bang Fatih sedang menjelaskan kelima sketsa yang ada di dalam buku gambar kepada Sifa. Terlihat gadis itu sangat terpesona dengan setiap desain yang Bang Fatih buat.
"Gimana, Sifa? Kira-kira dari kelima gambar ini, yang mana kamu suka?" tanya Bang Fatih.
Sifa menarik napas dan menghelanya dengan pelan. "Duh, bingung Sifa, Bang. Semuanya bagus-bagus," ujar Sifa yang memang merasa bingung harus memilih salah satu dari kelima sketsa gambar tersebut.
"Dari kelima ini pasti ada dong yang kamu suka, sayang. Ayo, pilih yang mana yang paling menarik perhatian kamu," ucap Abash.
"Em, yang mana, ya? Aku bingung, Mas." Sifa pun menatap wajah calon suaminya itu. "Kalau Mas yang bantu pilihin gimana?"
"Aku yang pilihin?"
"Iya, Mas yang pilihin aja. Aku lebih percaya dengan pilihan, Mas, dari pada pilihin aku sendiri," kekeh Sifa.
"Hmm, baiklah kalau begitu." Abash pun melihat buku sketsa yang tadi di lihat oleh Sifa. Pria itu pun memastikan satu persatu setiap sketsa yang tergores di atas kertas itu. Yang mana yang menurutnya lebih cocok dengan karakter sang istri dan juga kenyamanan keluarganya nanti.
"Emm, kalau yang ini aja gimana?" tunjuk Abash kepada gambar sketsa nomor tiga.
"Bagus," jawab Sifa sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi, Bang, ada beberapa bagian yang ingin aku ubah dan tambahkan, boleh?" tanya Abash kepada Bang Fatih.
"Kepuasan pelanggan adalah kepuasan kami juga," sahut Bang Fatih sambil mengedipkan matanya sebelah, menandakan jika permintaan Abash bukanlah sebuah masalah besar.
"Jadi, bagian mana yang mau di ubah dan di tambah?" Bang Fatih sudah siap dengan memegang pinsilnya, hingga Abash mengatakan bagian mana dan seperti apa yang bagian yang dia inginkan itu.
*
"Makasih ya, Mas. Hari ini aku benar-benar bahagia dan tersentuh banget dengan semua kejutan yang kamu berikan ke aku, Mas," ujar Sifa.
Saat ini, mereka sedang berada di mobil, di mana mereka baru saja sampai ke apartemen. Eits, tapi kalian harus tau, kalau Abash tidak di berikan izin lagi dengan Mama Kesya untuk menginap di apartemen. Untuk itu, Abash hanya mengantarkan Sifa saja.
"Iya, sayang. Sama-sama. Aku juga bahagia dan tersentuh karena kamu sudah menjadi tunangan sekaligus calon istri aku," ujar Abash sambil mengecup punggung tangan Sifa.
"Maaf ya, seharusnya aku saat ini sudah menjadi istri kamu, bukan calon istri, tapi--"
"Semua itu demi masa depan kamu yang sudah susah payah kamu perjuangkan selama ini, Sayang. Jadi, aku tidak akan pernah merebutnya atau pun menghancurkan semua impian kamu, sayang." Abash pun semakin erat mengganggam tangan tunangannya itu.
"Untuk itu, aku sanggup bersabar sampai kamu selesai kuliah."
"Aku janji, aku akan berusaha untuk bisa selesai tidak lebih dari tiga tahun, Mas. Aku akan berjuang untuk segera mewujudkan mimpi kamu. Mimpi kita bersama, Mas," janji Sifa.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu pulang dengan cepat dengan membawa gelar yang membuat kamu semakin merasa bangga pada semua perjuangan dan pencapaian kamu, sayang. Aku akan setia menunggu kepulangan kamu."
"Iya, Mas. Tapi, kamu harus janji iya? Kamu jangan nakal di sini saat aku tinggal. Kamu gak boleh jatuh cinta lagi dengan wanita yang polos seperti aku," ujar Sifa sambil mengerucutkan bibirnya.
Abash mengedipkan matanya, ini adalah hal pertama yang Sifa pinta dalam dirinya. Em, bisa di katakan hal yang dicemburui oleh Sifa dengan terang-terangan.
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta dengan wanita lain? Jika wanita ku ini saja sudah paket lengkap, hmm?" ujar Abash sambil mencubit hidung Sifa dengan gemas. "Lagi pula, kamu di sini punya pawang yang bakal terus mengawasi akku," bisik Abash.
Sifa mengernyitkan keningnya, saat mendengar pawang yang akan mengawasi calon suaminya itu. Bukannya yang di sebut pawang itu adalah seorang kekasih? Apa Abash memiliki kekasih lain selain dirinya?
"Siapa pawang Mas yang lain? Selain aku?" tanya Sifa sambil menatap tajam ke arah calon suaminya itu.
Abash pun terkekeh. Tangan pria itu pun terulur untuk mengusap rambut Sifa yang panjang dan tebal.
"Pawang aku itu adalah wanita yang sangat cantik, dewasa, dan juga yang paling mengerti aku, selain kamu," ujar Abash sambil tersenyum penuh arti.
Abash pun menyadari, jika ada perubahan pada wajah Sifa saat ini, sehingga membuat pria itu pun semakin gemas melihat wajah calon istrinya yang sedang cemberut.
"Oh ya? Kalau dia lebih dewasa, cantik, dan pengertian dari aku, kenapa Mas gak nikah sama dia aja?" ketus Sifa.
"Gak bisa sayang, aku tidak bisa menikahi dia," lirih Abash dengan suara yang di buat sendu.
"Kenapa?"
"Apa? Ja-jadi selama ini Mas punya hubungan dengan istri orang?" kejut Sifa. "Mas pebinor, dong?"
Abash mengernyitkan keningnya, di saat mendengar julukan yang baru saja di berikan oleh calon istrinya itu.
"Pebinor? Apaan itu?"
"Perebut bini orang," sahut Sifa dengan nada suara yang tidak ramah.
"Ya ampun, sayang. Kamu ada-ada aja, deh. Aku bukan pebinor, karena aku tidak berniat merebut wanita itu dari suaminya. Aku hanya bisa mencintainya dengan penuh cinta dan seumur hidupku," Abash kembali mengulum bibirnya, saat melihat reaksi Sifa yang terlihat semakin kesal dengannya.
"Oh, jadi Mas gak bisa melupakan wanita itu? Dan berniat mencintai dia seumur hidupnya?" ketus Sifa.
"Iya, sayang. Karena beliau adalah cinta pertama aku." Abash mengecup tangan Sifa, tapi gadis itu tiba-tiba saja menepis tangannya.
"Ya udah, kalau gitu Mas nikah aja sama dia, jangan sama aku," kesal Sifa yang sudah tidak bisa menahan air matanya. "Mas tau, belum nikah aja Mas udah bikin hati aku sakit, gimana kalau udah nikah? hikss .. Dasar Mas tukang bohong, ada wanita lain di hati, tapi malah ngajakin aku nikah dan bilang kalau aku satu-satunya wanita yang Mas cinta dan akan nikahi, hiks .. ternyata Mas nikahi aku karena cinta pertama Mas gak bisa Mas aja nikah? Karena cinta pertama Mas itu udah punya suami? Hiks .. Mas jahat banget tau gak sih," kesal Sifa dan membuka pintu mobil Abash, tapi sayangnya gadis itu tidak bisa membuka pintu mobil, karena Abash telah mnguncinya.
"Buka pintunya, Mas," pinta Sifa dengan ketus.
__ADS_1
"Sayang, sstt .. dengerin aku dulu, kamu jangan ngambek gini, dong," bujuk Abash. "Emangnya kamu gak mau tau siapa wanita yang telah menjadi cinta pertama aku?"
"Bodo', cepat buka pintunya," kesal Sifa.
Abash menarik tubuh Sifa dan memeluknya dengan erat.
"Sayang, dengerin aku dulu. Kamu harus tau siapa wanita yang telah menjadi cinta pertama aku. Dan aku harap kamu tidak cemburu dengan beliau, karena cinta aku seumur hidup juga terbagi untuk beliau, sayang."
"Gak mau tau, hikss ... aku gak mau dengar dan gak mau tau," ujar Sifa yang sudah menutup telinganya.
"Sayang, kamu harus tau. Dengerin aku dulu--"
"Gak mau, hiks .. aku gak mau dengar, Mas, aku gak mauuu.." tolak Sifa sambil menahan tangannya untuk tetap menutup telinganya.
"Sayang, dengerin aku. Wanita itu adalah---"
"Aku gak mau dengar---"
"Wanita itu adalah Mama, sayang. Mama ..." ujar Abash dengan sedikit berteriak dan menangkup pipi Sifa agar wajah gadis itu tetap berada di hadapannya. Abash yakin, jika Sifa pasti mendengar apa yang dia ucapkan.
Terbukti dari Sifa yang perlahan mulai tidak melawan Abash lagi, gadis itu pun perlahan menurunkan tangannya yang menutupi telinga.
"Wanita yang menjaddi cinta pertama aku itu adalah Mama, sayang. Mama. Mama Kesya," ujar Abash dengan tersenyum lebar. "Mana mungkin aku menikahi Mama? Bisa durhaka dan jadi sangkuriang masa kini dong aku, sayang," kekeh Abash.
"Dasar jahat, hikss .. Nyebelin," kesal Sifa sambil memukul dada bidang Abash. "Aku benci kamu, Mas."
Abah pun kembali menarik tubuh Sifa dan memeluknya. "Maaf ya, sayang. Habisnya selama ini kamu gak pernah cemburu sama aku. Jadi, aku cuma bercanda aja kok."
"Hikss .. siapa bilang aku gak cemburu? Aku tuh cemburu banget tau, saat kamu dekat dengan Mbak Putri," lirih Sifa.
"Aku dan Putri tidak punya hubungan apapun, di antara kami juga tidak pernah terjadi hubungan satu malam, seperti yang di tuduhkan waktu itu. Dan juga--"
"Bukan karena itu, Mas," Sifa merela pelukannya. "Saat pertama kali Mbak Putri muncul dalam hidup kamu dan menjadi pengacara di perusahaan kamu. Semua orang mengatakan jika kalian adalah pasangan yang serasi dan sempurna. Aku merasa cemburu saat itu, Mas. Aku sungguh sangat cemburu," ungkap Sifa.
"Jadi, dari awal kamu sudah cemburu?" tanya Abash memastikan.
"Iya, Mas. Tapi aku bisa apa? Saat itu aku buk--"
"Makasih sayang, makasih, karena sudah cemburu." Abash pun kembali memeluk Sifa dengan penuh cinta.
"Mas, tolong kendorin sikit pelukannya, aku sesak," lirih Sifa sambil menepuk lengan Abash.
__ADS_1
"Eh, maaf," kekeh Abash sambil merelai pelukannya.