
Sifa menghela napasnya pesan. Gadis itu menatap ponselnya yang menampilkan pesan singkatnya dengan sang kekasih. Di mana pria itu tidak membalas satu pun pesan yang dia kirimkan. Sepertinya, Abash benar-benar menjaga jarak dengannya, tetapi, kenapa sampai harus menjaga jarak komunikasi mereka juga? Apa seberbahaya itu ancaman mafia yang bernama Yosi?
"Mas Arash kenapa, ya? Masa sampai membalas pesan pun juga gak bisa?" lirih Sifa sambil menatap gedung yang ada di seberang gedung milik sang kekasih.
"Heii, kok malah melamun sih?" tegur Amel yang baru saja tiba di dekat Sifa.
Sifa terkejut dan menoleh ke arah sang sahabat. "Kamu ini ngagetin aja sih, Mel?"
Amel terkekeh pelan, kemudian gadis itu mengulurkan sebuah paper bag untuk sang sahabat.
"Apa ini?" tanya Sifa.
"Buka aja, aku jamin pasti mood kamu bakal balik lagi," ujar Amel dengan tersenyum.
Sifa pun mengambil uluran paper bag yang di berikan oleh sang sahabat.
"Salad?" ujar Sifa sambil menatap ke arah Amel.
"Iya, salad. Tapi ini spesial loh, ada dagingnya," ujar Amel dengan senyum yang lebar.
Entah mengapa, setiap Amel membeli bekal makanan untuk dirinya, dia selalu saja teringat akan Sifa. Padahal, dalam hati gadis itu sangat membenci sahabatnya.
Sifa pun membuka tutup box makanan, dengan seketika gadis itu menelan ludahnya dengan kasar.
"Ini pasti mahal, Mel?" lirih Sifa merasa tak enak.
"Gak papa. Sekali-kali aku traktir kamu yang mahal dikit," kekeh Amel dengan tersenyum manis.
"Makasih banyak, ya. Kamu memang sahabat aku yang paling terbaik," ujar Sifa sambil menggenggam tangan Amel yang ada di pangkuan gadis itu.
"Sama-sama. Ya sudah kalau gitu, kita makan sekarang, ya?" ajak Amel yang di angguki oleh Sifa.
Mereka berdua pun menikmati makan siang kali ini di taman kantor yang ada di lantai di mana ruangan Sifa berada. Tanpa mereka sadari, jika sedari tadi ada seseorang yang terus memandang ke arah mereka berdua.
"Pak, apa mau saya buatkan makan siang bersama nona Sifa?" tanya Didi kepada sang atasan.
"Tidak usah," jawab Abash tanpa menoleh ke arah sang asisten.
Abash masih terus menatap ke arah sang kekasih yang tertawa bersama sahabatnya.
"Maafin aku, Sifa. Bukannya aku tidak ingin membalas pesan kamu, tapi aku masih harus melindungi kamu, sayang," batin Abash menatap nanar ke arah sang kekasih.
Kemudian perhatiannya beralih kepada Amel, sahabat licik yang di miliki oleh Sifa.
"Aku akan membongkar kedok mu nanti. Lihat saja," geram Abash dan mengepalkan kedua tangannya.
Abash menghela napasnya pelan, kemudian pria itu pun berbalik badan dan menoleh ke arah Didi.
"Apa kamu sudah dapatkan tentang fotografer itu?" tanya Abash.
__ADS_1
"Sudah, Pak. Seperti dugaan Pak Abash, kalau Nona Amel lah yang telah menyewa fotografer tersebut," terang Didi.
"Kumpulkan semua bukti-buktinya, agar saya bisa mendepak dia dari perusahaan ini dan membungkam mulut si tua bangka itu," geram Abash.
"Baik, Pak."
Ya, Abash mengetahui tentang foto-foto yang di kirimkan kepada Sifa. Pria itu sengaja diam, karena ingin membereskan akar dari masalahnya. Juga, ingin menunjukkan kepada Sifa, siapa sahabatnya itu sebenarnya.
Abash menoleh ke arah ponselnya yang bergetar, pria itu pun membaca pesan yang masuk dari Putri. Sore ini mereka akan bertemu dan membahas tentang kontrak yang akan di tanda tangani oleh Abash dengan perusahaan lain.
"Siapkan berkas untuk kontrak kerjasama perusahaan," titah Abash yang langsung di angguki oleh Didi.
Di tempat lain,
Putri baru saja keluar dari ruangannya. Gadis itu pun celingak celinguk melihat ke sekeliling mencari keberadaan Arash.
"Apa yang kamu harapkan, Putri? Apa kamu mengharapkan Arash menjemputmu?" lirih Putri pelan dan menghela napasnya dengan berat.
"Sadarlah, Arash mencintai Sifa, jangan jadikan kamu orang ketiga yang akan menjadi pengobat luka di hatinya nanti," gumam Putri.
"Jaga hati kamu untuk tidak terluka, Put."
Gadis itu pun melangkahkan kakinya di saat taksi pesanannya sudah tiba di hadapannya. Dia pun naik ke dalam taksi dan menuju ke rumah sakit. Siang ini dia sudah membuat janji dengan Naya untuk konsultasi.
Sepanjang perjalanan, Putri terus menatap awas kesekelilingnya, termasuk supir taksi yang saat ini ada di dalam mobil bersamanya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa," batin Putri berdoa.
"Syukuah tidak terjadi apa-apa," lirih Putri bernapas dengan lega.
Ingin rasanya dia menghubungi Luna, tetapi mengingat keselamatan orang-orang yang ada di sekitarnya, membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk menghubungi Luna.
"Padahal udah kangen banget," lirih Putri sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan Naya.
Sesampainya di ruangan Naya, Putri langsung di persilahkan masuk oleh asisten Dokter Naya, sehingga membuat gadis itu tidak perlu menunggu dan mengantri terlalu lama.
"Apa kabar, Mbak Putri?" sapa Naya saat pasiennya sudah masuk ke dalam ruangan.
"Alhamdulillah, baik. Dokter sendiri? Bagaimana keadaannya?"
"Alhamdulillah, saya juga baik. Ayo, duduk," titah Naya yang di turuti oleh Putri.
"Bagaimana, apa ada keluhan lain?" tanya Naya saat memulai proses konsultasinya dengan Putri.
Putri menghela napasnya dengan pelan, gadis itu pun menceritakan tentang kejadian seminggu yang lalu di apartemennya.
Naya mendengarkan semua cerita Putri tanpa menyela sedikit pun. Ada rasa terkejut juga saat mendengar jika Abash juga mendapatkan ancaman tersebut.
Luar biasa memang sepupunya itu, sehingga membuat keluarganya tidak tahu akan hal yang sedang menimpa mereka, termasuk Papa Arka. Tapi, tidak mungkin juga Papa Arka tidak tahu, pria paruh baya itu selalu mengetahui apa yang terjadi pada semua anak-anak dan juga keponakannya.
__ADS_1
Atau mungkin, Papa Arka sengaja diam dan membiarkan Abash dan Arash menyelesaikan semua masalah yang sedang mereka hadapi?
Bisa jadi sih, karena ancaman yang di terima Abash, tidak seberat yang di terima oleh Putri.
"Baiklah, saran saya di sini, sebaiknya Mbak Putri mulai berpikiran positif saat ingin membuka kulkas. Kemudian, jika sudah merasa yakin dan berani, Mbak Putri bisa belajar untuk melawan rasa takut itu. Pelan-pelan saja, jika tidak sanggup jangan di paksakan," ujar Naya memberikan sarannya sebagai dokter psikiater.
"Minta bantuan Arash atau Desi yang menemani, jika Mbak Putri merasa takut."
"Baiklah, saya akan mencobanya, Dok," jawab Putri.
"Iya, bagus itu, Mbak. Saya akan menunggu kemajuan Mbak Putri, ya?"
"Ah ya, ada yang mau saya katakan, Dok," ujar Putri yang mana membuat Naya menaikkan alisnya sebelah, merasa penasaran dengan apa yang ingin ditanyakan oleh gadis yang ada dihadapannya saat ini.
"Ya? Katakan saja."
"Tolong jangan panggil saya dengan sebutan 'Mbak', panggil nama saja, boleh?" pinta Putri dengan tersenyum malu.
Naya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Putri."
"Terdengar lebih muda rasanya, Dok," kekeh Putri yang mana membuat Naya pun ikut tertawa.
"Kalau begitu, kamu jangan panggil aku dengan sebutan 'dok', panggil Naya aja," ujar Naya yang diangguk setuju oleh Putri.
"Baiklah."
Setelah sesi konsultasi selesai, Naya pun mengantarkan Putri hingga keluar ruangannya.
"Hati-hati, Put, pulangnya."
"Iya, Dokter, terima kasih."
Naya pun menyipitkan matanya, seolah memberikan peringatan kepada Putri.
"Eh, Naya maksudnya," kekeh Putri yang langsung meralat panggilannya dengan cepat.
Setelah berpamitan pulang dengan Naya, Putri pun melangkahkan kakinya menuju lobi rumah sakit.
Lagi, ingin rasanya gadis itu menghubungi Luna. Akan tetapi rasa takut untuk membahayakan gadis itu pun, membuat Putri mengurungkan niatnya.
"Hmm, sebaiknya aku mencari makan siang sendiri aja," lirih Putri dan terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
Saat Putri sedang asik memandangi pengunjung yang datang ke rumah sakit di sepanjang perjalanannya keluar dari rumah sakit itu, dia tidak menyadari jika ada seorang pria yang berjalan ke arahnya dengan langkah yang besar.
Putri pun memekik terkejut di saat dirinya sudah hampir menabrak pria itu.
"Aaaa ...."
Bruukk ..
__ADS_1
Dengan cepat, Putri membanting pria yang hampir dia tabrak itu.
"Aaww ...."