Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 358


__ADS_3

Arash menatap wajah Putri yang tertidur pulas di sampingnya, pria itu sedari tadi tidak berhenti tersenyum dan bersyukur di dalam hati, karena akhirnya dia berhasil melabuhkan hatinya kepada orang yang sangat dia cintai.


"Eeungghh ...."


Arash semakin melebarkan senyumnya, di saat melihat Putri mengerang di dalam tidurnya. Bibir gadis itu bergerak seolah sedang mengunyah sesuatu.


Merasa gemas dengan pergerakan bibir Putri yang menggoda, akhirnya Arash mendaratkan sebuah kecupan.


Tidak, ternyata emak salah. Bukan sebuah kecupan, melainkan sebuah lumayan kecil yang memabukkan, sehingga membuat sang empu terganggu dalam tidurnya hingga membuka mata dengan secara perlahan.


"Arashhh--hmmppp" Putri membulatkan matanya, di saat Arash semakin dalam menciumnya.


"Selamat sore, Putri tidur," sapa Arash setelah melepaskan ciumannya.


"Dasar mesum," cibir Putri dengan kesal.


Arash terkekeh, karena merasa gemas melihat wajah sang istri yang terlihat merajuk.


"Mesum sama istri sendiri kan gak papa, Sayang," bisik Arash sambil mengedipkan matanya sebelah.


Putri mengernyitkan keningnya saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arash.


Istri?

__ADS_1


Seketika bola matanya pun bergerak melihat ke sekeliling dan berakhir pada tubuhnya yang masih mengenakan piyama tidur.


Ya, Saat Putri tertidur setelah menangis, seorang pelayan membunyikan bel, sehingga membuat Arash kembali terjaga. Pria itu pun bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamar.


Ternyata seorang pelayan yang di utus oleh Mama Nayna, untuk memberikan makan siang dan cemilan buat dirinya dan Putri. Terdapat sebuah pesan yang tertulis juga di sana, di mana Mama Nayna berpesan jika Arash dan Putri harus memakan makanan yang sudah di sediakan, karena akan di takutkan jika malam nanti, mereka akan kelaparan karena banyaknya tamu yang ingin bersalaman.


Maka dari itu, Mama Nayna meminta mereka untuk mengisi perut di saat siang dan sore hari nanti.


Arash tersenyum membaca pesan yang di tuliskan oleh Mama Nayna, pria itu pun menyuruh pelayan pergi dan membawa masuk troli yang berisikan makanan. Tidak mungkin kan Arash menyuruh pelayan itu masuk ke dalam kamar, di saat sang istri sedang tertidur.


Kretek ... kretek ...


Mendengar suara yang sedikit berisik, membuat tidur Putri pun terganggu. Hidung mancung nan mungil gadis itu pun bergerak, di saat mencium aroma yang sangat menggoda.


"Rash ..." panggil Putri, di saat melihat sang suami mendorong meja troli.


"Apa itu? Makanan?" tanya Putri yang sudah bergerak turun dari tempat tidur.


"Huum, kamu lapar?" tanya Arash.


"Ya, wanginya sangat menggoda."


Arash pun mengulurkan tangannya kepada sang istri, kemudian menuntun gadis itu untuk duduk di kursi.

__ADS_1


"Ayo makan," ajak Arash. "Pesan dari Mama, kalau kita harus mengisi perut kita hingga benar-benar kenyang, jangan sampai nanti malam kelaparan," kekeh Arash sambil menunjuk kertas pesan yang di tulis oleh Mama Nayna.


Putri terkekeh pelan, di saat dia kembali membaca pesan tersebut.


"Kamu tau, Oma pernah cerita, kalau saat jadi pengantin, Mama ternyata kelaparan dan hampir pingsan. Di tambah lagi banyaknya tamu yang datang, sehingga membuat Mama Nayna tidak sempat menikmati makanannya sendiri," ujar Putri.


"Makanya Mama menyuruh kita untuk makan dengan kenyang, ya?" kekeh Arash.


"Iya. Sebaiknya kita menuruti perkataan Mama, mengingat tamu yang datang pastilah sangat banyak. Belum lagi dari rekan kerja Papa Arka dan Papa Satria. Di tambah lagi letingan kamu, atasan, dan anak buah kamu," kekeh Putri yang sudah bisa menebak dan membayangkan, sesibuk apa mereka nantinya untuk bersalaman dan berfoto.


"Iya, kamu benar. Jadi, mari kita makan untuk mengisi tenaga."


Arash dan Putri pun mengisi perut mereka hingga kenyang, kemudian membersihkan diri dan melaksanakan sholat Zuhur berjamaah. Setelah sholat dan merasa segar kembali, Putri kembali merasa kantuk dan memilih untuk melanjutkan tidur, begitu pun dengan Arash. Di antara mereka berdua memang benar-benar tidak terjadi apapun sama sekali. Kecuali hanya berpelukan dan ciuman saja.


Putri tersenyum, di saat dirinya baru saja teringat kembali, jika mereka telah resmi menikah.


"Aku tebak, pasti kamu tadi mikir kalau kita belum menikah, kan?" ujar Arash yang di angguki pelan oleh Putri.


"Ah ya, apa cemilan tadi masih ada? Perut aku tiba-tiba lapar di saat mengingat jika aku akan kelaparan malam ini," ujar Putri dengan manja.


"Ada kok, kamu mau yang tadi siang kita makan? Atau pesan yang lain?" tawar Arash.


"Dua-dua. Untuk saat ini, aku akan makan yang ada saja dulu, selagi menunggu pesanan yang lain datang," ujar Putri yang mana membuat Arash membulatkan matanya.

__ADS_1


"Kamu serius?" tanya Arash.


"Huumm, iya."


__ADS_2