Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 71 - hanger


__ADS_3

Sifa terkejut saat ada sesuatu yang jatuh tepat di atas punggung kakinya, wanita itu tak tahu apa benda yang berukuran kecil itu yang jatuh ke atas punggung kakinya.


Secara perlahan, Sifa mengambil kain kecil itu dengan gerakan yang sangat pelan sekali.


Braaak ...


Terdengar suara pintu lemari yang di pukul, sehingga membuat Sifa terkejut dan memeluk kain yang jatuh ke atas punggung kakinya.


Kemudian terdengar suara jika Arash mengajak sang bos untuk makan.


"aku lapar. Makan yuk,"


"Kamu ngajak makan ya," ujar Abash. "Aku pikir mau apa berjalan ke arah lemari," gumam Abash yang masih terdengar samar di telinga Sifa dan Arash.


"Ngapain aku buka lemari kamu. Takut banget aku acak-acakin," cibir Arash. "Ayo, cari makan," ajaknya lagi.


"Iya, yuklah." jawab Abash.


Namun, detik selanjutnya pria itu mengingat akan bekas pipis Arash yang belum di bersihkan.


"Tunggu, aku bersihi ompol kamu dulu," ujar Abash.


"Udah, biarin aja. Suruh tukang bersih-bersih aja, sekalian kamar mandi di belakang di sedot tinjanya," ujar Arash.

__ADS_1


"Gak, gak papa. Biar aku bersihi. Hanya sebentar," ujar Abash dan mendorong tubuh sang kembaran untuk duduk di sofa yang ada di luar kamar.


"Kelamaan, keburu lapar aku," rengek Arash.


"Diam dan duduk di situ. Jangan bertingkah," ujar Abash dengan suaranya yang dingin dan tajam.


Arash pun menutup mulutnya dan mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Jika Abash sudah menggunakan nada seperti itu, tandanya dia tak ingin di bantah oleh siapa pun.


Sebenarnya, Abash tak ingin jika Sifa yang membersihkan ompol sang kembaran. Pria itu juga ingin menjaga martabat sang kembaran yang mana juga adalah martabat dirinya.


Abash pun segera membersihkan ompol sang kembaran, pria mengambil gagang pel dan membersihkan lantai tersebut hingga benar- benar bersih.


Saat sedang mengepel, Abash sengaja bergumam agar Sifa tahu, jika mereka masih bereda di dalam apartemen.


"Ayok, kita cari makan," ajak Abash yang mana menyadarkan kembali Arash yang hampir saja melayang ke alam mimpi.


"Yuk lah," ujar Arash sambil menguap.


Di dalam lemari, Sifa mencoba memasang telinganya dengan baik. Wanita itu menempelkan telinganya ke pintu lemari.


"Apa mereka sudah pergi?" gumamnya.


Sifa pun perlahan membuka pintu lemari, wanita itu mencoba mendengar kembali apa masih ada suara atau tidak. Merasa sudah aman dan tak terdengar satu suara pun, Sifa membuka lebar pintu lemari dan perlahan keluar dari dalam sana.

__ADS_1


"Hufff, aman..." lirihnya pelan.


Sifa kemudian tersadar dengan kain yang ada di tangannya, kemudian wanita itu membuka lipatan kain tersebut.


"Iih, apa inii?" ujarnya sambil melempar kain berbentuk segitiga itu ke atas tempat tidur.


Sifa mengernyitkan keningnya dan menatap geli ke arah benda itu.


"Gila, masa aku peluk itu tadi," ujarnya sambil bergidik geli.


"Duh, mana terlempar ke atas tempat tidur lagi," lirihnya dengan sedikit kesal.


Wanita itu bingung harus melakukan apa, secara dia merasa geli dan malu memandang ke arah benda yang berbentuk segi tiga itu.


Ya, walaupun lemari tiga pintu tersebut di isi dengan pakaian Sifa, akan tetapi satu pintu lemari itu masih terisi oleh pakaian Abash. Entah mengapa pria itu membiarkan pakaiannya masih berada di sana.


"Gimana ya cara pindahinya?" gumam Sifa, kemudian wanita itu pun memiliki ide untuk memindahkan semvaak milik sang bos kembali ke dalam lemari.


Sifa mengambil hanger dan menyodokkan semvaak milik sang bos agar tersangkut di hanger tersebut.


Saat Sifa sedang mengangkat semvaak dengan menggunakan hanger, tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka.


"Apa yang kamu lakukan??"

__ADS_1


Sontak saja Sifa terkejut dan menjatuhkan hanger tersebut ke lantai...


__ADS_2