Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 459


__ADS_3

Rayyan sudah kembali terlelap setelah menghabiskan susunya. Sifa pun merasa bingung harus melakukan apa, sedangkan di dapur, Mama Nayna tengah sibuk membuat makanan untuk makan siang Zia dan Abash—suaminya. Merasa tidak enak karena harus bersantai-santai, sedangkan Mama Nayna sibuk di dapur. Sifa pun beranjak dari tempat duduknya.


"Mbak, saya ke dapur dulu, ya," pamit Sifa kepada babby sister yang menjaga Rayyan.


"Iya, Buk."


Sifa pun beranjak dan berjalan menuju dapur, di mana Mama Nayna berada.


"Tante, ada yang bisa Sifa bantu?" ujar Sifa yang mana membuat Mama Nayna terkejut.


"Eh, ngapain ke dapur? Udah sana, di depan aja," titah Mama Nayna.


"Gak papa, Tante. Lagi pula Rayyan sudah tidur, kok."


"Ya kamu bisa tidur-tiduran aja bersama Rayyan, Sifa," sahut Mama Nayna.


Sifa tersenyum kecil. "Iya, Tante, tapi rasanya kalau gak bantu memasak, rasanya gak enak, Tante," ujar Sifa sambil terkekeh pelan.


Mama Nayna pun ikut terkekeh, wanita paruh baya itu akhirnya memberikan izin kepada Sifa untuk membantunya.


"Ya sudah kalau begitu, ayo sini," panggil Mama Nayna yang mana membuat Sifa tersenyum lebar.


"Apa yang bisa Sifa bantu, Tante?"


Mama Nayna pun menunjukkan sayuran yang belum di petik, kemudian meminta wanita itu untuk langsung mencucinya dengan bersih.


Mama Nayna tersenyum di saat melihat betapa cekatannya Sifa dalam mengerjakan pekerjaan di dapur, melihat hal tersebut, mengingatkan Mama Nayna kepada Putri. Pandangan Mama Nayna pun perlahan mengabur, di mana bulir bening telah menggenang di pelupuk matanya. Wanita paruh baya itu pun bergegas menarik napas dan menghelanya secara perlahan, berusaha agar air matanya tidak jatuh membasahi pipi.


Sifa yang baru saja selesai memotong wortel pun, mengernyitkan keningnya di saat menoleh ke arah Mama Nayna. Dia melihat jika Mama Nayna sedang mengusap air matanya.


"Tante, ada apa, Tante?" tanya Sifa yang sudah menyentuh lengan Mama Nayna.


Mama Nayna pun menoleh ke arah Sifa, kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak ada apa-apa, Sifa," bohongnya.


Sifa menghela napasnya pelan, wanita yang baru saja hamil itu pun menarik Mama Nayna ke dalam pelukannya.


"Jika Tante ingin menangis, menangislah. Jangan di tahan, Tante," bisik Sifa sambil mengusap lembut punggung Mama Nayna.


Perlahan, Sifa mendengar suara isak tangis Mama Nayna, di susul dengan bahu yang bergetar semakin kuat, memandakan jika wanita paruh baya itu pun sedang menangis terisak.


"Hiks , Tante rindu Putri, Fa. Tante rindu Putri. Dia sangat cekatan dan bersemangat saat di dapur, terutama saat membuat kue. Saat melihat kamu tadi, Tante teringat akan Putri yang sedang memasak bersama dengan Tante, hiks .. Tante merindukan Putri!" ujar Mama Nayna dengan suara yang serak dan terputus-putus karena isak tangisnya.


Sifa mengusap punggung Mama Nayna, membiarkan wanita paruh baya itu pun menangis dan meluapkan kesedihan di dalam pelukan Sifa.


"Semoga Putri baik-baik saja, Tante," bisik Sifa menenangkan Mama Nayna.


*


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Untungnya Mama Nayna menangis tersedu-sedu tidak terlalu lama. Wanita paruh baya itu dengan cepat mengontrol dirinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Untuk itu pula, masakan yang di masak oleh Sifa dan Mama Nayna pun selesai dengan tepat waktu.


"Kalau tau papanya Zia, Tante bawa makanan untuk Zia ke kantor, pasti papanya bakal nyusul ke perusahaannya Fatih," kekeh Mama Nayna saat mereka sedang berada di dalam mobil menuju perusahaan Bang Fatih.


"Oh ya? Beneran di susuli, Tante? Kenapa?" tanya Sifa penasaran.


"Kenapa, ya? Katanya kalau makan bersama keluarga dalam formasi lengkap, lebih terasa nikmat dari pada harus makan sendirian," jawab Mama Nayna sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lalu, jika Tante tidak memasak, Om Satria makan siang di mana?" tanya Sifa penasaran lagi.


"Om Satria selalu menyempatkan diri untuk pulang, agar bisa makan siang bersama keluarga. Tapi, kalau memang terlalu sibuk, biasanya Om Satria selalu meminta Tante untuk mengantarkan makan siangnya ke kantor."


"Waah, ternyata Om Satria romantis banget ya, Tante." puji Sifa.


"Huum, bisa di katakan begitu. Romantis dan si pecemburu berat," kekeh Mama Nayna.


"Sepertinya sudah menjadi sifat para pria deh, Tante, soal pecemburu," ujar Sifa sambil terkekeh pula.


"Tapi Om Satria ini, cemburunya parah banget. Dulu, mantan pacar Tante datang ke rumah orang tua Tante, cuma mau kasih undangan pernikahannya saja, Om Satria seharian bete sama Tante. Katanya, pasti itu alasan mantan Tante aja biar bisa ketemu Tante," kekeh Mama Nayna mengingat masa lalunya.


"Padahal nih, ya. Tante gak tinggal bersama orang tua Tante setelah menikah dengan Om Satria. Bahkan, saat mantan Tante itu datang ke rumah dan mengantarkan undangan, Tante juga gak berada di rumah, loh. Tapi tetap aja Om Satria bete dan cemberutnya sama Tante."


Sifa yang mendengar cerita singkat Mama Nayna pun ikut tertawa. "Kok sama persis sama Mas Abash ya, Tante. Di kantornya Mas Abash itu dulu ada cowok yang naksir sama Sifa. Bahkan sekarang sudah menjadi tunangannya sahabat Sifa loh. Tapi, tetap aja kalau tunangannya sahabat Sifa itu mengajak ngobrol Sifa, pasti Mas Abash langsung bete. Ada aja alasannya buat cemberut dan cemburuan," kekeh Sifa.


"Waah, sama banget kayak suami Tante, itu. Bukan kita yang salah, tapi kita yang di salahkan. Iya kan?" ujar Mama Nayna yang di angguki oleh Sifa.


"Iya, Tante."


"Pasti kamu bahagia banget ya, Sifa, Abash pasti orangnya romantis banget. Iya kan?" tebak Mama Nayna.


"Hah? Romantis, Tante?" tanya Sifa yang mana membuat Mama Nayna mengernyitkan keningnya.


"Mas Abash itu gak ada romantis-romantisnya, Tante. Posesif iya," cibir Sifa. "Tapi, sekali-kali ada sih romantisnya. Tapi ya itu, Tante, sekali-sekali aja romantisnya. Selebihnya suka main langsung-langsung," kekeh Sifa dengan wajah merona.


"Masa sih? Lihat Putri di romantisin sama Arash, Tante pikir Abash juga begitu?"


"Enggak, Tante. Mereka memang kembar, tapi Mas Arash lebih pintar menyenangkan hati perempuan. Kalau Mas Abash, lebih ke sikap aja, sih. Misalnya nih, Sifa suntuk di rumah, terus dia pulang cepat dan temani Sifa di rumah sambil nonton film, walaupun ujung-ujungnya dia tertidur, Tante, karena merasa bosan," kekeh Sifa mengingat bagaimana suaminya itu.


"Ya ampun, Sifa. Kamu gak di ajakin jalan-jalan?" tanya Mama Nayna.


"Itu, apa?" tanya Mama Nayna dengan nada suara menggoda.


"Ya itu, Tante. bukannya ngajak jalan-jalan, eh malah ngajak yang lain," cicit Sifa dengan malu, akan tetapi di dengar jelas oleh Mama Nayna.


Mama Nayna pun tertawa terbahak-bahak, karena merasa lucu dengan reaksi Sifa.


"Tapi kamu suka, kan?" goda Mama Nayna yang di jawab anggukan oleh Sifa.


Bersamaan dengan itu, mobil yang di tumpangi oleh Mama Nayna dan Sifa pun tiba di perusahaan Bang Fatih. Mereka pun turun dari mobil dan langsung di sambut oleh satpam yang sudah mengenal siapa Sifa.


Salah satu sekretaris Bang Fatih pun menghampiri Mama Nayna dan Sifa untuk di antarkan ke ruangan pria itu.


"Mari, Buk," ujar sekretaris Bang Fatih dengan sopan kepada Sifa dan Mama Nayna.


Mama Nayna dan Sifa pun mengikuti sekretari Bang Fatih menuju ruangan pria itu.


"Sebentar lagi Pak Fatih, Pak Abash, dan Buk Zia selesai meeting. Beliau menyuruh Ibu untuk menunggu di ruanganya," ujar sekretaris Bang Fatih dengan sopan.


"Terima kasih banyak, Mbak," ucap Sifa dengan sopan pula.


"Sama-sama, Buk. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit sekretari itu.


"Ruangan kerja Fatih bagus, ya!" puji Mama Nayna saat melihat keseluruhan ruangan itu.


"Iya, Tante. Katanya sih ini di dekor ulang sendiri oleh Bang Fatih," jawab Sifa.

__ADS_1


"Enak ya kalau bisa menggambar."


"Iya, Tante. Sifa mah kalau di suruh menggambar, ya mana bisa, Tan," kekeh Sifa.


"Sama, Tante juga gak bisa. Bisanya makan aja," ujar Mama Nayna sambil ikut tertawa. "Ah ya, kandungan kamu bagaimana? Ada merasa mual-mual, gak?" tanya Mama Nayna yang kembali teringat akan kehamilan Sifa.


"Alhamdulillah gak ada, Tante."


"Bagaimana dengan Abash? Apa dia ada merasa mual?" tanya Mama Nayna penasaran.


"Enggak juga, Tante. Tapi, napsu makan Mas Abash sepertinya bertambah, deh. Sifa perhatiinnya begitu, Tante," ujar Sifa memberitahu.


"Oh, bisa jadi Abash mengalami ngidam. Apa ya kalau bahasa kedokterannya itu? Duh, lupa Tante. Emm, apa ya? Emm, simpatik apa gitu kalau gak salah," ucap Mama Nayna berusaha mengingat apa sebutan yang biasa di katakan untuk bagi suami yang mengalami ngidam.


Sifa hanya bisa diam, karena dia juga tidak tahu apa yang ingin di katakan oleh Mama Nayna.


Tak berapa lama pintu ruangan pun terbuka. Terlihat Abash membukakan pintu lebih lebar untuk Bang Fatih yang sedang mendorong kursi roda yang di duduki oleh Zia.


"Mama? Mbak Sifa?" tegur Zia dengan tersenyum lebar.


"Hai, sayang, bagaimana meetingnya?" tanya Mama Nayna sambil menghampiri sang putri.


"Huuff, lumayan melelahkan, Ma," jawab Zia dengan sedikit cemberut, sedangkan Bang Fatih dan Abash hanya bisa tertawa.


"Tante, sepertinya sebentar lagi rumah Tante bakal sering di datangi tamu, deh," ucap Bang Fatih memberitahu.


"Maksudnya? Kenapa Tante harus kedatangan tamu?"


"Iya, Tante, habisnya klien utama kami sepertinya menyukai Zia," jawab Bang Fatih yang langsung di potong oleh Zia.


"Bang Fatiiih …"


Bang Fatih pun langsung tertawa, di saat mendapatkan tatapan peringatan dari Zia.


"Benarkah?" tanya Mama Nayna menatap sang putri dengan menggoda.


"Enggak, Ma. Dia hanya menyukai sketsa Zia aja, kok," jawab Zia dengan melirik kesal kepada Bang Fatih,


"Sekaliannya itu, Zi," goda Bang Fatih.


"Orangnya bagaimana? Ganteng, gak?" tanya Mama Nayna kepada Bang Fatih, bertujuan hanya untuk menggoda Zia saja.


"Mamaaaa …" rengek Zia yang mana membuat Mama Nayna tertawa.


"Duh, putri Mama kok ngambek, sih? Ntar pangerannya kabur loh kalau lihat putrinya cemberut begini," goda Mama Nayna sambil mencubit pelan dagu Zia.


"Pangeran kodok iya," cibir Zia yang terlihat benar-benar kesal.


"Eits, jangan terlalu benci, Zi. Nanti takutnya malah jatuh cinta pula," ujar Sifa yang ikut menggoda Zia.


"Iih, Mbak Sifaaa …" rengek Zia yang akhirnya membuat semuanya tertawa.


"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita makan aja yuk, pasti sudah pada lapar, kan?" ajak Mama Nayna yang di angguki oleh Abash dan Bang Fatih.


Mereka berlima pun makan bersama sambil bercerita tentang pangeran yang di sebut oleh Zia si pangeran kodok. Tak berapa lama ponsel Mama Nayna pun berdering, menampilan nama Arash di sana.


Mama Nayna bergegas menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. "Ya, Rash?"

__ADS_1


Mama Nayna menjatuhkan sendok yang ada di tangannya, saat mendengar apa yang di katakan oleh Arash dari seberang panggilan.


"Apa?"


__ADS_2