
Sepanjang hari, Abash terus terbayang dengan segitiga bergunung warna ungu milik Sifa, yang mana memiliji ventilasi udara dibeberapa bagian.
"Bisa gitu yaa? masa sih?" Abash mengerutkan keningnya. "Loh, ngapain juga aku jadi mikirin? hadeeww" Abash menepuk-nepuk keningnya dengan satu jarinya.
Yang benar saja, seharian ini yang terbayang oleh Abash adalah kain mini yang ada di jemuran milik Sifa. Udah konslet nih otaknya Abash.
*
Sifa baru saja selesai mengurus administrasi magangnya. Amel saja sampai kagum dibuat oleh Sifa, karena diterima di perusahaan milik Abash. Ingin rasanya Amel juga magang disana, namun sang ayah sudah menyiapkan segalanya untuk lebih dekat lagi dengan Abash.
"Fa, habis ini mau kemana?" tanya Amel, dimana mereka baru saja selesai kuliah.
"Mau kepasar dulu."
"Mau ngapain? Aku ikut yaa..."
"Boleh, Yukk. Tapi kita makan dulu yaa."
Mereka pun singgah di kantin, Sifa memilih memesan siomay untuk makan siangnya, sedangkan Amel memesan memesan paket ayam penyet, yang sudah lengkap dengan nasi dan juga minumnya.
"Pasar mana nih?" tanya Amel disela menunggu pesanan mereka sampai.
"Dekat kampus aja, Aku mau beli pembungkus inti."
"Apaan tuh?"
Sifa mengkode dengan membuat tangannya berbentuk segitiga. Langsung saja Amel tau apa yang dimaksud dengan Sifa.
"Oke deh,"
Tak berapa lama pesanan makanan mereka pun tiba, Sifa dan Amel pun menikmati makanan mereka dengan lahap.
*
"Kamu gak biasa pergi kepasar ya?" tanya Sifa yang mana melihat Amel sedari tadi meringis dan merasa risih.
"Ehh, engg ... itu--"
Sifa membalikkan tubuhnya menghadap Amel, kemudian ia tersenyum dengan lembut.
"Atau kamu mau ke mall?" tawar Sifa.
__ADS_1
Amel yang paham betul tentang keuangan Sifa pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku gak papa kok, Ayo..." Amel menggandeng tangan Sifa dan mengajaknya melanjutkan perjalanan mereka.
Sifa berhenti disebuah toko yang menjual pakaian wanita, ia pun mulai memilih segitiga yang ingin ia beli. Lumayan, di sini harganya cukup miring dan terjangkau dari pada di Mall.
Sifa bernapas lega di saat Amel tetap memilih untuk menemaninya berbelanja di pasar tradisional. Bukannya Sifa pelit, tapi Sifa harus mengumpulkan uang untuk membayar sewa rumah dan juga hutangnya. Maka dari itu Sifa benar-benar harus sangat berhemat. Belum lagi ia harus membiayai sebagian uang kuliahnya.
"Mel, ini bagus gak?" Sifa menempelkan bra busa bermotif macan tutul ke dadanya dan menunjukkannya kepada Amel.
Amel Terkikik dan menganggukkan kepalanya.
"Wroouungg..." ujar Amel sambil membuat gaya kucing sedang mencakar.
Amel dan Sifa pun tertawa bersama sambil mencoba bra unik yang lainnya. Sifa tanpa malu mencoba bra tersebut, berhubung tak ada pria yang masuk ketempat penjualan khusus pakaian kecil-kecil wanita, maka dari itu Sifa anteng-anteng saja dan tanpa malu untuk mencobanya dengan menempelkannya didadanya. Keseruan mereka pun tetap berlanjut, Amel juga tak ingin kalah seru dan juga ikut melakukan apa yang Sifa lajukan. Ini benar -benar pengalaman pertama yang Amel miliki, hingga seorang wanita yang bercadar mendekati mereka dan merogoh tas Amel.
"Copeeet ...." jerit sipenjual saat melihat wanita bercadar itu memasukkan tangannya kedalam tas Amel yang terbuka.
Copet tersebut langsung kabur dengan membawa dompet Amel. Sifa langsung mengejar pencopet tersebut tanpa takut. Untungnya Sifa ini sudah biasa olah raga berlari, yaa, berlari saat dia telat datang kekampus dan mengejar jelasnya agar tidak terlambar. Jadi bisa dikatakan Sifa cukup baik dalam berlari, hingga saat yang tepat Sifa menarik hijab pencopet tersebut dan menampilkan sosok Yang ada didalamnya.
Sifa membulatkan matanya saat melihat ternyata seorang prialah yang berada dalam kerudung tertutup tersebut. Sifa yang geram pun langsung saja menarik kuat hijab yang masih nyangkut dileher, sehingga membuat sipencopet itu tercekik dan jatuh tersungkur.
Para penjual yang lain langsung membantu Sifa dan menghajar si pencopet.
Seketika beberapa pria berbaju coklat mengamankan keadaan tersebut. Sifa yang masih memegang kuat hijab sipencopet pun langsung bernapas lega karena polisi datang tepat pada waktunya.
Dan yang membuat Sifa kaget adalah, polisi tersebut adalah kembaran bosnya.
"Kamu?"
"Bapak?" ujar Sifa dan Abash berbarengan.
"Mvak, jangan ditarik lagi hijabnya, bisa mati entar copetnya kehabisan napas." tegur salah satu polisi.
Sifa dengan refleks melepaskan hijab tersebut, namun ia malah mendapatkan wajah semua orang tersenyum sambil menatap kearahnya. Bahkan kembaran sang bos pun juga ikut mengulum senyumnya menatap Sifa.
Sifa pun mengerutkan keningnya, seketika ia langsung menatap kepada dirinya, dan betapa malunya Sifa. Bra yang ia coba tadi masih tersangkut dibadannya. Mana warna dan modelnya macan tutul kecebur muntah kucing lagi.
Ampun deh, sakit yang tak berdarah ini mah.
Dengan cepat Sifa melepaskan kacamata berbusa itu dari tubuhnya dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Ini dompet Kamu," ujar Arash menyerahkan dompet milik Amel kepada Sifa sambil mengulum senyumnya.
Sifa pun meraih dompet tersebut dengan wajah yang memanas dan merona. "Makasih," cicit Sifa hampir tak terdengar.
"Sifa, kamu gak papa?" tanya Amel yang berhasil mengejar Sifa.
"Hmm, Aku gak papa, nih dompet Kamu." Sifa memberikan dompet tersebut kepada Amel.
"Kami ini, hiks .. aku gak peduli dompet ini hilang atau apapun. Aku hanya takut kamu kenapa-napa dan terluka. hiks ... aku sayang banget sama kamu, hiks ..." Amel pun memeluk Sifa dengan erat, sehingga membuat Sifa menahan napasnya.
Para penonton yang lain pun, yang tadinya menatap lucu kepada Sifa, langsung menatap horor kearah Sifa dan Amel.
"Ekhem.." Arash berdehem dan menyadarkan Amel sehingga melepaskan pelukannya dari Sifa.
Amel membulatkan matanya saat melihat Abash dengan pakaian seragam polisi dihadapannya.
"Pak Abash?" seru Amel dengan wajah terkejutnya.
Arash menaikkan alisnya sebelah, kemudian ia tersenyum dengan lembut. Amel rasanya ingin pingsan melihat senyuman manis tersebut.
"Saya Arash, bukan Abash." ujar Arash sambil menunjukkan name tagnya.
Amel pun mengikuti arah tunjuk Arash, namun Amel masih bengong dengan apanyanga da dihadapannya ini.
Apa Abash sengaja menyamar dan merubah namanya? begitu lah pemikiran Amel.
"Bisa ikut kami kekantor polisi? untuk memberikan keterangan," ujar Arash kepada Amel dan Sifa sambil tersenyum.
"Bisa, bawa saya pulang juga bisa," ujar Amel yang sudah terlena dengan senyuman Abash atau Arash, terserah lah.
Sifa menyenggol lengan Amel untuk menyadarkan sahabatnya itu. Amel pun tersadar dan tersenyum kikuk kepada Arash dan Sifa.
"Tunggu sebentar, saya kembalikan ini dulu," ujar Sifa sambil menunjukkan kacamata berbusa yang ada ditangannya.
"Silahkan?" ujar Arash sambil kembali mengulum senyumnya.
Dengan wajah yang masih memerah, Sifa pun berjalan sambil menundukkan wajahnya karena malu. Sesampainya ditoko pakaian tersebut, Sifa langsung saja membayar apa yang sudah ia pilihkan tadi, dan kambali menemu Arash Yang ada diluar pasar.
"Ayo, pak."
\=\= Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..
__ADS_1
Salam sayang dari ABASH dan ARASH.