Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 340


__ADS_3

Mama Nayna mengusap rambut Zia dengan penuh kasih sayang di saat gadis belia itu sedang menghabiskan susu hangatnya.


"Tidak, jika aku mengatakan tentang kecurigaan aku ini, maka mama akan kembali fokus untuk mencari Mbak Putri. Sedangkan aku? Mama akan kembali mengabaikan aku," batin Zia penuh rasa takut.


"Aku hanya ingin merasakan rasa kasih sayang Mama sepenuhnya, apa aku salah? Apa aku egois?" sambungnya lagi dalam hati.


"Aku hanya ingin Mama fokus kepada aku saat ini. Putri kandungnya, darah dagingnya, di mana aku selama sembilan bulan berada di dalam perut Mama. Aku salah? Jika aku menginginkan hakku untuk di sayang dan perhatian dengan lebih oleh mamaku sendiri?"


"Sayang," panggil Mama Nayna yang melihat putri kecilnya itu termenung.


"Ya?"


"Kok malah melamun sih? Bukannya di habiskan susu," tanya Mama Nayna.


Zia tersenyum kecil gadis kecil itu pun segera menghabiskan susu hangat yang diberikan oleh Mama Nayna.


"Terima kasih, Ma," ujar Zia sambil memberikan gelas kosong ke tangan Mama Nayna.


"Sama-sama, sayang." Mama Nayna yang melihat jika wajah Zia saat ini sedang sembab pun, mengernyitkan keningnya.


"Kamu nangis? Kenapa?" tanya Mama Nayna sambil mengusap sisa air mata yang ada di pipi Zia.


"Hah, enggak kok, Ma. Zia gak nangis."


Mama Nayna terkekeh lelah. "Kalau gak nangis, lalu kenapa pipi kamu terasa lembab, hmm?"


"I-itu ..." Zia merasa bingung harus mengatakan apa. Gadis mencoba mencari alasan yang tepat, akan tetapi dia tidak menemukannya.


"Apa karena buku ini?" tanya Mama Nayna sambil mengambil buku novel yang ada di atas pangkuan Zia.


Zia terlihat membulatkan matanya, di saat Mama Nayna menunjuk ke arah baju novel pemberian Putri.


"Apa Mama Nayna tahu?" batin Zia.


Mama Nayna membaca deskripsi cerita dari buku novel tersebut, sehingga membuat senyuman di bibir Mama Nayna pun mengembang.


"Apa ceritanya sangat sedih? Sehingga kamu menangis saat membacanya? Hmm?" tanya Mama Nayna sambil mencubit hidung Zia dengan gemas.


"I-ituuu ..."


"Mama dulu juga sama seperti kamu, suka banget baca buku novel. Sakin ceritanya itu dapat menghangatkan Mama, Mama sampai tidak sadar ikut menangis, bahkan sampai tidak berselera makan, karena ceritanya benar-benar menyentuh perasaan Mama," ujar Mama Nayna.


"Terkadang, mama berharap jika Mama menjadi peri penolong, untuk menolong tokoh utama yang ada di dalam cerita novel, agar tokoh protagonis nya itu tidak selalu sedih. Dan terkadang, Mama berharap menjadi tokoh utamanya, karena ingin mendapatkan pria yang ada di dalam tokoh cerita tersebut," kekeh Mama Nayna.


"Penulis itu sangat hebat, ya? Mereka bisa membawa kita terhanyut ke dalam ceritanya."


"Ma," panggil Zia, sehingga membuat Mama Nayna yang sedang mengenang masa mudanya dulu pun, menoleh ke arah sang putri.

__ADS_1


"Ya, sayang?"


Zia menatap lekat wajah wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu ke dunia, kemudian gadis yang baru saja lulus sekolah itu pun menggelengkan kepalanya.


"Zia sayang Mama. Sayang banget," lirihnya dan berhambur ke dalam pelukan Mama Nayna.


"Mama juga sayang kamu, Nak."


Dan akhirnya, Zia memilih untuk menyimpan rasa kecurigaannya itu. Zia akan tetap memilih diam dan tidak memberitahukan kepada siapapun, jika Putri masih dan hidup mengirimkan buku novel yang ada padanya saat ini.


Ini adalah pilihan yang terbaik bagi Zia, agar dia tetap mendapatkan perhatian sang mama dengan sepenuhnya.


*


Putri merasa lega, saat membaca pesan dari orang kepercayaannya, jika buku novel yang dia kirimkan, telah di terima langsung oleh Zia.


"Semoga kamu suka dengan hadiah pemberian Mbak ya, Dek." lirih Putri.


Satu tahun lebih dia bersembunyi, akan tetapi Putri masih teringat akan janjinya kepada sang adik, di mana dia akan memberikan sebuah hadiah spesial di saat hari kelulusannya.


Apa Putri tidak ingin kembali?


Tentu saja Putri ingin kembali, tapi dia belum siap untuk bertemu dengan Arash. Apa lagi, pria itu sering mengunjungi sang mama.


*


Zia mengambil kuliah di Jakarta, gadis itu pun belajar bisnis di salah satu kampus ternama. Hari ini, dia sedang mendapatkan tugas kelompok bersama teman-temannya, sehingga membuat Zia dan teman-temannya itu harus mencari referensi buku di toko buku lama.


Namun, saat mereka sedang berjalan sambil berbincang, tiba-tiba saja tiga orang pria menghadang mereka semua.


"Hai, cantik ..." sapa salah satu pria.


"Sejak kapan ada preman di sini?" tanya Zia kepada temannya.


"Gak tau, biasanya juga gak pernah ada, Kan?" bisik Yola.


Zia melirik satu persatu preman yang sedang tertawa mengejek ke arah dirinya dan teman-temannya yang terlihat ketakutan. Dengan beraninya, Zia pun menatap tajam kearah tiga pria tersebut.


"Maaf, tolong menyingkir dari hadapan kami," ujar Zia tanpa takut.


"Waah, lihat siapa yang bicara? Berani sekali dia?" ujar salah satu pria itu dan tersenyum miring kepada Zia.


"Apa kamu tidak tahu siapa kami?" tanyanya.


"Aku tidak peduli, karena aku tidak punya waktu untuk mengurusi hidup kalian," jawab Zura.


Kak .. krak ...

__ADS_1


Zura membulatkan matanya, di saat melihat salah satu pria yang ada di hadapannya itu mengeluarkan pisau lipat. Gadis itu pun memundurkan selangkah langkahnya.


"Takut dia, Bos," kekeh pria yang memegang pisau itu.


"Karena kalian telah berani melawan kami, maka kalian semua harus ikut dengan kami. kalian harus melayani kami hari ini," ujar pria yang di panggil bos itu.


"Kami tidak akan pernah ikut dengan kalian," jawab Zia masih dengan suara yang ketus.


"Bos, sebaiknya kita bawa dia saja, terlalu banyak bicara nih cewek," ujar pria satunya lagi.


"Ide bagus. ayo bawa dia," titah si bos.


Dua pria pun mendekat ke arah Zia, hingga gadis itu melepas tas ranselnya dan memukul pisau yang ada di tangan salah satu pria tersebut.


"Berani sekali kau---"


Bugg ...


Zia kembali menendang salah satu pria itu, sehingga membuat pria itu terjatuh.


"Ternyata berani juga dia. Ayo, kita maju semua," titah pria yang di panggil bos itu.


Zia pun menyuruh teman-temannya itu untuk mundur, karena dia akan melawan tiga preman tersebut.


Buug ...


"Awww ..." ringis Zia, saat dia mendapatkan pukulan.


Saat itulah, Zia merasa terpojok dan menjadi kesempatan emas untuk tiga pria itu mengeroyoknya.


Plaakk ... Bugg .. buug ..


Zia yang sudah menutupi kepalanya di saat salah satu preman ingin memukulnya dengan tong sampah yang ada di sana, tiba-tiba saja seorang pria datang dan memukul tiga preman tersebut.


Zia yang merasa tidak ada yang memukulnya, menurunkan tangan dan melihat siapa orang yang telah menyelamatkan dirinya.


"Diaaa ..."


"Tahan mereka semua," titah pria itu dan berbalik ke arah Zia.


Pria itu pun berjalan menghampiri Zia yang terlihat kelelahan.


"Kamu gak papa, Zia?" tanya Arash.


Ya, pria itu adalah Arash. Saat dia baru saja makan bersama dengan anak buahnya, tiba-tiba saja seorang masyarakat menghampirinya dan mengatakan jika ada tiga preman yang sedang menghajar satu mahasiswi. Untuk itu, Arash dan anak buahnya pun bergegas menghampiri tempat kejadian.


"Mas Arash?" lirih Zia dengan jantung yang berdebar.

__ADS_1


__ADS_2