Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 49 - Arash


__ADS_3

"Ayo," ujar Arash saat mereka baru saja keluar dari rumah sakit.


"Sebelah sana mana lewat, Pak, ojek. Saya lewat sini aja," ujar Sifa sambil terkekeh pelan.


Arash menghela napasnya pelan. "Saya antar kamu pulang."


Sifa mengerjapkan matanya, setelah dapat mencerna ucapan Arash, gadis itu langsung menggeleng kuat.


"Eh, gak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri." tolaknya.


"Gak papa, Ayo."


"Serius, Pak. Saya bisa pulang sendiri."


"Gak terima penolakan. Ayo," ujar Arash dengan nada yang tak bisa di bantah.


"Ta-tapi___"


Sifa terkejut saat Arash menarik tangannya untuk mengikutinya. Tentu saja kejadian itu mengundang pandang mata dari orang yang ada di sekitarnya.


"Rumah kamu di mana?" tanya Arash.


Sifa merem*s tangannya gugup. Bagaimana bisa dia mengatakan jika saat ini dirinya tinggal di salah satu apartemen mewah dan itu milik group Moza.


"Kok diem? Kenapa?"


"Eng, i-itu___"


"Itu kenapa?" tanya Arash.


"Duh, gimana cara bilangnya ya?" gumam Sifa.


"Kenapa?"


"Sa-saya sepertinya sudah terlambat ke kantor, Pak. Jadi saya pulang naik ojek aja. Kalau naik mobil, takutnya terkena macet." ujar Sifa setelah berpikir mencari alasan yang tepat.


"Kamu yakin?"


"Iya, Pak. Kalau naik ojek kan bisa nyelip," ujarnya sambil menyengir.


"Oke, baiklah. Jangan gara-gara saya, kamu kena marah sama Abash," kekeh Arash.


Sifa selalu tersihir melihat betapa tampannya senyuman Arash. Andai saja bosnya itu lebih sering tersenyum seperti ini.


"Kenapa?" tanya Arash saat Sifa masih menatapnya tanpa berkedip.


"Hah? Oh, gak papa kok. Kalau begitu terima kasih atas tawaran Bapak. Saya permisi."


"Hmm, hati-hati."


Sifa bergegas keluar sebelum jantungnya semakin copot melihat senyuman Arash. Tak biasanya jantung Sifa merespon dengan gila saat melihat senyuman seorang pria. Tapi, senyuman Arash membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Sama halnya seperti wanita pada umumnya saat melihat pria tampan.


"Tenang Sifa, ini menandakan jika kamu itu wanita normal." gumamnya sambil mencari keberadaan ojek yang lewat.


*


Abash menatap layar laptopnya sambil mendengarkan pablo, asistennya itu persentasi.


'Apa gue udah salah menilai ya?' batinnya.

__ADS_1


'Ah, tapi kan bisa aja, cewek kan banyak caranya untuk menggait perhatian pria,' sambungnya lagi dalam hati.


"Jadi, bagaimana Pak Abash?"


Abash menoleh saat namanya di panggil. Walaupun pikirannya melayang entah ke mana, akan tetapi fokusnya masih mendengarkan jalannya persentasi.


"Ya, program ini akan kita luncurkan bersamaan dengan produk game yang sedang dalam masa proses saat ini," ujar Abash menanggapi ucapan kliennya.


Rapat pun selesai dengan berjalan lancar. Abash keluar dari ruang rapat dengan di ikuti Pablo.


"Bos mau makan siang apa?" tanya Pablo saat mereka sudah berada di dalam ruangannya.


"Soto paru."


"Baik, Bos." Pablo pun mengundurkan diri dan keluar dari ruangan sang bos.


Abash melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu makan siang. Entah mengapa, pria itu merasa penasaran dengan Sifa. Apa gadis itu makan bersama dengan temannya atau masih menyendiri di balkon.


Entah apa yang membawa Abash hingga mencari keberadaan Sifa di balkon, tempat di mana biasanya gadis itu menghabiskan waktu makan siangnya.


Abash menghela napasnya lega, saat menemukan gadis yang di carinya.


"Hah? Makan mie? Gak salah?" gumam Abash saat melihat dari jauh mie yang menggantung di bibir Sifa.


Pria itu berjalan perlahan menuju gadis yang sedang menikmati makanannya, akan tetapi suara ponsel membuatnya menghentikan langkahnya.


"Ya..."


Di saat suara deringan ponsel Abash berbunyi, saat itu juga Sifa menyadari keberadaan orang lain di balkon tersebut.


Sifa menatap sang bos dengan senyum yang tertahan, saat matanya beradu tatap dengan sang bos, Sifa merasa kecewa, karena dirinya terabaikan begitu saja.


"Masih marah ya?" gumam Sifa merasa tak enak hati.


*


"Mama ke kantor kenapa gak bilang-bilang?" tanya Abash kepada sang Mama yang mendatanginya di kantor.


"Gak papa, Mama cuma kebetulan lewat aja. Kamu udah makan?"


Abash menggeleng dengan tersenyum. "Tadi udah pesan sama Pablo. Mama udah makan?"


"Mama mau malahan ke sini mau ngajak kamu makan."


"Oh, ya udah kalau gitu. Ayokk." Abash memberikan lengannya kepada sang Mama.


"Oh ya, Sifa kerja di bagian apa?"


"Tim Elang."


"Ooh, itu tim tertinggi di perusahaan kamu kan?"


"Iya, Ma."


"Waah, Mama salut sama dia. Pasti anaknya pintar ya.."


"Iya, Ma."


"Hmm, sayang banget ya, beasiswanya di cabut saat itu. Tapi, seharusnya beasiswa tersebut bisa di kembalikan kan?"

__ADS_1


"Abash udah urus masalah itu. Mama jangan khawatir."


Mama Kesya tersenyum. "Kamu suka sama Sifa?"


Abash menghentikan langkahnya tepat di depan lift.


"Membantu bukan artinya suka kan, Ma? Lagian, kasus Sifa sudah termasuk dalam kasus korupsi, tentu saja Abash gak ingin nama kampus tersebut tercemar karena hal tersebut."


Mama Kesya tersenyum dan mengelus lengan sang putra. "Mama bangga sama kamu."


*


Arash sedang mencari buku resep pesanan sang Mama di toko buku lama. Tadi Mama Kesya menghubungi Arash dan menanyakan keberadaannya, saat mengetahui jika Arash berada di tempat kejadian kemarin dan kebetulan berada di dekat toko buku, maka Mama Kesya meminta kepada Arash untuk mencari buku-buku resep yang sekiranya belum pernah Mama Kesya buat.


"Pak, buku yang kemarin saya mau pinjam, masa Baoak kasih ke orang sih?" gerutu Sifa.


"Maaf, neng. Saya pikir neng gak jadi ambil karena tiba-tiba saja lari dan gak kembali."


"Saya ngejar pencopet, Pak."


Sifa sudah mengusap wajahnya dengan kasar. Buku-buku yang ingin dia pinjam, telah di amb oleh orang lain. Sekarang, Sifa harus mencari ke mana? Hanya Toko buku lama ini saja, yang meminjamkan buku-buku dari keluaran lama hingga terbaru. Bahkan, perpustakaan pun tak selengkap toko buku lama menurut Sifa.


"Coba cari yang lain saja neng," ujar si penjaga toko.


Sifa menghela napas kasar, gadis itu pun berjalan menuju rak-rak di mana buku tersusun dengan rapi.


"Kok merenget gitu? Kenapa?"


Terkejut saat ada seorang pria menghampirinya dan berbisik.


"Bapak?"


Arash terkekeh, pria itu pun tersenyum kepada sifa.


"Bapak ngapain di sini?" tanya Sifa.


"Cari buku resep," ujar Arash sambil menunjukkan buku yang ada di tangannya. "Kamu ngapain? Tadi sepertinya kesal banget sama penjaga toko."


Sifa menghela napasnya. "Buku-buku yang saya mau pinjam kemarin, udah di kasih ke orang lain. Padahal saya perlu banget buku-buku tersebut." uajr Sifa dengan nada kesal.


"Buku apa?"


"Buku mengenai latar hitam dan sejenisnya."


"Kamu mau ujian?" tanya Arash.


"Iya, Pak. Perusahaan Pak Abash sedang mengadakan kompetisi karyawan, siapa yang bisa bergabung dengan tim cobra, maka akan di berikan beasiswa lanjutan di luar negeri. Saya sangat berharap dapat kesempatan itu, Pak. Makanya saya harus belajar keras. Tapi, buku-buku yang saya perlu, semuanya udah di ambil orang."


Arash menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu tersenyum.


"ayo, ikut saya."


"Kemana?"


"Ke gudang buku terbaik." ujar Arash sambil mengedipkan matanya sebelah.


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....


...Salam sayang dari Abash n Sifa...

__ADS_1


...Follow IG Author : Rira Syaqila...


__ADS_2