
Sifa mengernyitkan keningnya, di saat melihat Abash mengarahkan setirnya bukan ke arah pulang. Gadis itu pun menoleh ke arah sang tunangan yang ternyata juga sedang menoleh ke arahnya.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Sifa.
"Makan, dari tadi pagi aku belum makan," bohong Abash sambil tersenyum lebar.
Benar saja dugaan pria itu, kalau ekspresi Sifa pasti akan terlihat sangat menggemaskan dengan wajah khawatirnya itu.
"Jangan bohong kamu, Mas," tanya Sifa menahan amarahnya.
"Serius, aku belum makan," jawab Abash tanpa rasa bersalah karena sudah membuat Sifa merasa khawatir. "Emm, tadi malam kayaknya aku cuma makan kacang aja, deh."
"Masss ..." tegur Sifa dengan nada suara yang penuh penekanan.
"Ya? Kenapa sayang?" Abash menoleh sekilas ke arah Sifa dengan senyumannya yang menyebalkan itu. Kemudian, pria itu kembali fokus ke jalanan yang terbilang lumayan cukup ramai.
"Mas, kamu suruh aku jaga kesehatan, tapi kamu sendiri malah gak jaga kesehatan. Kamu mau buat aku selalu merasa khawatir, Mas?" kesal Sifa.
"Tidak, aku hanya ingin membuat kamu menjadi istri aku. Jadi, setiap pagi, siang, dan malam kamu akan selalu mengingatkan aku untuk makan," sahut Abash.
"Mas, belum jadi istri kamu aja aku udah sering ingatin kamu untuk makan. Tapi lihat, tetap aja kan kamu teledor buat gak makan?"
"Beda dong, sayang. Kalau jadi istri, kan makanan yang aku makan dari masakan kamu," goda Abash sambil mengedipkan matanya sebelah.
Sifa menghela napasnya dengan sedikit kasar. "Kamu bohongi aku kan, Mas?" tebak Sifa.
Abash mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan Sifa, kemudian membawa tangan itu ke bibirnya.
"Maaf ya, sayang, udah membuat kamu kesal. Tapi, aku gak bohong dengan semalam aku hanya makan kacang saja. Paginya aku makan nasi kok. Nasi goreng buatan mama," akui Abash akhirnya.
Sifa kembali menghela napsanya dengan pelan. "Lain kali jangan berbohong lagi ya, Mas. Aku tuh khawatir banget kalau kamu gak makan, Mas. Aku gak mau kamu di rawat lagi di rumah sakit," lirih Sifa dengan sendu.
Ya, saat Sifa berada di luar negeri, Abash sempat mengalami kehilangan selera makan. Pria itu pun lebih fokus menyibukkan dirinya untuku bekerja. Bahkan, Abash pernah tidak tidur selama dua hari. Ya, Abash sengaja menyibukkan dirinya untuk mengurangi rasa rindunya dengan sang kekasih. Namun, karena pria itu terlalu memfostir tubuh dan pikirannya untuk bekerja, alhasil Abash harus di rawat di rumah sakit karena terkena penyakit maag.
Saat Abash di rawat di rumah sakit, Sifa rasanya ingin langsung terbang ke pulang ke tanah air. Dia ingin melihat kondisi Abash secara langsung. Namun, apalah daya, Sifa bukanlah Abash yang bisa seenaknya pergi dan kembali kapan saja dia mau. Walaupun Sifa memiliki gaji dan uang saku dari perusahaan, tetap saja wanita itu harus berhemat kan? Karena Sifa bukanlah tipe orang yang bergantungan hidup dengan orang lain.
Apa lagi, saat ini Sifa sudah merencanakan sesuatu untuk sang kekasih. Ya, sebuah rencana yang sama dengan Abash. Sifa akan melamar Abash dan meminta pria itu menikahinya. Selama ini, Abash kan yang melamar dan memintanya untuk menikah. Tapi Sifa malah menolak permintaan Abash karena beberapa hal yang lainnya.
Ya, yang seperti readers tahu, jika Sifa harus mengejar karir dan mimpinya yang sudah berada di depan mata.
"Di dekat sini aku dengar ada restoran yang enak. Gimana kalau kita ke situ aja?" ajak Sifa.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Sifa teringat akan rencananya. Dia pun langsung mengirim pesan singkat kepada seseorang yang dapat membantunya melancarkan rencananya.
Abash mengernyitkan keningnya mendengar permintaan Sifa. Jika dia menuruti permintaan sang pujaan hati, pasti semua rencananya akan berantakan.
"Tidak, kita kan ke restoran yang aku pilih," putus Abash.
"Mas, kemarin aku lihat sosial media. Di restoran itu ada makanan yang sangat ingin aku makan. Kita ke sana aja, ya?" bujuk Sifa sambil mengedip-ngedipkan matanya cepat.
Abash mulai melemah, tetapi pria itu harus tetap pada keputusannya. Semuanya sudah dia siapkan dengan matang. Tidak mungkin kan Abash menggagalkannya? Lagi pula, setelah acara tasyakuran Putri, Abash berencana untuk langsung naik ke pelaminan.
"Sayang, kita ke restoran yang aku pilih aja, ya. Udah dekat kok, aku udah lapar banget ini. Kita pergi ke restoran yang kamu mau, nanti malam aja, ya. Gimana?" bujuk Abash.
"Tunggu, gak biasanya Mas Abash menolak keinginan aku dengan gigih seperti ini? Apa dia memiliki rencana untuk melamar aku?" batin Sifa. "Tidak, aku tidak boleh membiarkannya melamar aku. Aku yang harus memintanya menikahi aku kali ini. Ya, aku harus memberikan kejutan itu untuknya," teguh Sifa pada keyakinannya.
"Gak mau, pokoknya aku mau ke restoran Alfredo," putus Sifa yang terdengar tidak ingin di bantah.
Ciiiiittt ....
Abash mengerem mendadak mobil yang sedang dia setir.
"Ke mana? Restoran Alfredo?" tanya Abash yang sudah siap mengembangkan senyumannya.
"Iya, Mas, aku mau makan di sana. Ya, kita ke sana aja, ya?" bujuk Sifa dengan puppy eyes-nya.
"Baiklah, kita akan ke restoran yang kamu mau, sayang," putus Abash akhirnya, karena restoran yang Sifa inginkan ternyata sama dengan restoran yang dia tuju.
"Dasar mesum, tapi gak pake cium-cium juga kali, Mas. Mana di tengah jalan, lagi," cicit Sifa pelan sambil mengulumm bibirnya.
"Jadi, kamu mau aku cium di parkiran seperti tadi?" goda Abash sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Iih, Mas, jangan diingetin juga kali. Aku kan jadi malu." Sifa pun menangkup kedua pipinya yang terasa memerah.
"Malu tapi suka kan?"
"Maasss ..."
Abash pun tertawa lepas, dia merasa sangat puas sekali menggoda calon istrinya itu.
Sesampainya di restoran, kedatangan Sifa dan Abash pun di sambut oleh para pelayan yang ada di sana.
"Mas, aku ke toilet sebentar, ya," pamit Sifa.
__ADS_1
"Iya, sayang."
Setelah kepergian Sifa, Abash pun memberi kode kepada pelayan untuk memulai semua persiapannya.
Sifa kembali dan duduk di depan hadapan Abash.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Abash yang sudah membuka buku menu.
"Apa aja, Mas, samain aja dengan yang kamu punya juga boleh, kok," jawab Sifa yang sedang mengirim pesan kepada seseorang.
Abash mengernyitkan keningnya, di saat mendengar jawaban Sifa. Bukannya gadis itu ingin memakan sesuatu yang sangat dia inginkan?
"Sayang, bukannya kamu tadi bilang kalau kamu ingin makan sesuatu dari restoran ini?" tanya Abash dengan alis yang naik sebelah.
"Hah?"
Sifa mengernyitkan keningnya, beberapa saat kemudian dia baru teringat apa yang dimaksud oleh perkataan Abash.
"Eh, iya. Lupa, Mas," kekeh Sifa dan membuka buku menu.
Sifa mencari dalam daftar menu, makanan apa yang sekiranya dapat membuat Abash tidak curiga kepadanya.
"Ini aja, Mas," tunjuk Sifa ke salah satu menu yang harganya paling mahal di restoran itu.
Abash tersenyum. Sifa yang ada dihadapannya saat ini terlihat bukan seperti Sifa yang dia kenal. Bukannya Abash menilai jika Sifa matre, tidak. Bukan itu. Tapi, Abash merasa jika ada yang aneh dengan sang kekasih.
"Baiklah, saya pesan menu ini dua," ujar Abash kepada pelayan.
Sifa menghela napasnya pelan, kemudian gadis itu terlihat sedang melirik ke arah lain, seolah sedang mencari seseorang.
"Ada apa, sayang. Apa kamu sedang mencari seseorang?" tanya Abash yang mengambil atensi Sifa.
"Hah? Oh, enggak kok," gugup Sifa.
Saat melihat seorang pelayan mengacungkan jempolnya, Sifa pun bernapas dengan lega.
"Mas, tempatnya bagus, ya?" puji Sifa agar Abash tidak mencurigainya.
"Ya, sayang."
Abash berharap, jika rencananya berjalan dengan baik, begitu pun dengan Sifa.
__ADS_1
Kira-kira, siapa duluan ya yang akan melamar pasangannya? Abash kah yang duluan melamar Sifa? Atau Sifa duluan yang melamar Abash?