
Papa Arka, Papa Satria, Abash, Arash, dan Bara pun bergegas menuju ruangan pemulihan, di mana semua orang sudah berada di sana untuk menunggu Zia tersadar dari obat bius.
"Pa, hiks ..." Mama Nayna langsung memeluk sang suami, di saat melihat pria paruh baya itu sudah tiba di dekatnya.
Mama Nayna datang ke ruangan pemulihan bersama dengan Desi, ada bunda Sasa juga yang mendampingi beliau.
"Zia akan pulih, Ma. Semua akan baik-baik saja," bisik Papa Satria yang mana sebenarnya saat ini hatinya telah hancur lebur melihat kondisi sang putri.
Ya, Zia harus menjalani operasi yang cukup berat dan serius. Tulang kaki gadis itu patah di beberapa bagian. Yang terparah adalah tulang di pergelangan kakinya. Hentakan dari meja yang menghimpit kaki Zia lah yang jadi penyebab tulang kaki gadis itu patah.
"Bagaimana nasib Zia ke depannya, Pa? Hiks .. Ta-tadi Lucas mengatakan jika kemungkinan Zia tidak akan bisa berjalan dalam waktu yang lama," tangis Mama Nayna di dalam pelukan sang suami.
Papa Satria menutup matanya rapat, di saat mendengar apa yang baru saja Mama Nayna sampaikan.
"Zia gadis yang kuat, Ma. Zia pasti akan baik-baik saja." Papa Satria menenangkan sang istri, di saat hatinya sedang bergemuruh.
Tidak, bukan bergemuruh lagi saat ini di dalam hati Papa Satria, melainkan sudah menjadi badai yang begitu dahsyatnya.
Papa Satria mengepalkan tangannya erat, dia tidak akan membiarkan Neli terlepas begitu saja dari jerat hukum. Ya, Papa Satria akan menghubungi sahabatnya--Martin, untuk membantu kasus yang sedang menimpa Putri kesayangannya itu.
Jika Papa Satria sudah turun tangan, maka gak akan ada lagi kata ampun bagi Neli dan orang-orang yang ada di belakangnya.
*
"Ma ..." Suara lirih Zia langsung membuat Mama Nayna menggenggam tangan sang putri.
"Ya, sayang! Mama di sini." Mama Nayna menempelkan telapak tangan sang putri ke pipinya.
"Ka-kaki Zia terasa kebas, Ma. Zia tidak bisa menggerakkan kaki Zia. Apa yang terjadi dengan kaki Zia, Ma?" tanya Zia dengan jantung yang berdebar kencang.
"Sayang---" Mama Kesya tak sanggup berkata-kata, wanita paruh baya yang telah melahirkan Zia dua puluh tahun yang lalu pun memeluk tubuh sang putri.
"Hiks ... Semua pasti akan baik-baik saja, sayang. Semua pasti akan baik-baik saja!"
__ADS_1
"Hiks ... Kaki Zia kenapa, Ma? Apa Zia akan lumpuh?" tanya Zia yang mana membuat Mama Nayna menutup mulut sang putri.
"Jangan berbicara begitu, sayang. Kamu tidak lumpuh. Semua akan baik-baik saja, kamu harus tetap berpikir positif ya?" Mama Nayna kembali memeluk sang putri sambil menahan sesak di dadanya.
"Hiks ... kaki Zia kenapa, Ma? Hiks ... Kaki Zia kenapa???"
Tangisan Zia pun terdengar pilu hingga ke luar ruangan. Sifa yang mendengar suara Zia langsung memeluk tubuh sang suami.
"Semua ini gara-gara aku, Mas, hiks .. Semua ini gara-gara aku."
"Tidak sayang, jangan berkata begitu. Jika ada orang yang harus di salahkan, orang itu adalah aku. Aku yang harus di salahkan, sayang," bisik Abash menenangkan sang istri.
Arash menghela napasnya berat, sedari tadi sang istri terus menghubunginya, akan tetapi Arash tidak berani untuk menerima panggilan dari Putri. Arash bingung harus menjelaskan bagaimana kondisi Zia saat ini. Andai saja dia tidak meninggalkan gadis itu, mungkin saat ini Zia masih baik-baik saja.
"Rash, ponsel kamu mana?" tanya Bunda Sasa.
"Ada, Bun, kenapa?" tanya Arash balik.
"Putri dari tadi menghubungi kamu, Rash. Kok gak kamu angkat?" Bunda Sasa menatap lekat wajah sang keponakan. "Apa kamu sengaja untuk tidak mengangkat panggilan Putri?" tebak Bunda Sasa.
"Jelaskan secara perlahan-lahan, ya! Bunda yakin, kalau Putri pasti akan mengerti."
*
Satu bulan telah berlalu. Zia harus menjalani kehidupannya dengan bantuan kursi roda. Ya, gadis itu belum bisa menggunakan kakinya untuk berpijak.
Papa Satria masih mengumpulkan bukti-bukti bersama dengan Om Martin. Di bantu juga dengan Arash, Abash, Bara, Papa Arka, dan Martin. Ya, mereka bersatu untuk menjatuhkan Neli dan memberikan pelajaran kepada gadis itu.
Semenjak duduk di kursi roda, Zia lebih menjadi anak yang pendiam dari biasanya. Walaupun Putri selalu menghibur adiknya itu dengan membawanya berjalan-jalan di mall atau keliling komplek.
Selama Zia sakit, Putri memutuskan untuk tinggal bersama adiknya, pastinya Arash juga ikut tinggal bersama sang istri. Pria itu tidak bisa hidup berpisah atau menjauh dari Putri. Ah ya, berhubung Zia harus menjalani perawatan, gadis itu pun tinggal di Jakarta, di rumah yang Bara beli di saat pria itu harus berlama-lama tinggal di Jakarta karena sebuah pekerjaan.
Bara memang lebih nyaman tinggal di rumah, dari pada harus tinggal di apartemen, karena pria itu menyukai suasana olah raga yang terbuka.
__ADS_1
"Zia, tadi Mbak bikin brownis crunch untuk kamu. Kamu cicipi ya?" Putri pun memberikan brownis buatannya.
"Nanti aja ya, Mbak. Zia masih kenyang," tolak Zia dan memilih untuk kembali ke kamarnya.
Putri menghela napasnya pelan, saat ini penderitaan sang adik akan dia anggap sebagai penderitaan dirinya.
"Pelan-pelan, sayang. Zia pasti masih butuh waktu untuk menerima keadaannya," bisik Arash yang sedari tadi ternyata memperhatikan sang istri.
"Iya, Mas. Aku tidak akan memaksa Zia untuk bisa kembali ceria seperti sebelumnya.
*
Hari terus berjalan dengan begitu cepatnya. Dari Putri, hingga ke Sifa pun sudah berusaha untuk menghibur Zia. Akan tetapi gadis itu masih saja terlihat murung.
Zia memang tersenyum saat Putri, Sifa, Naya, dan yang lainnya menghibur dirinya, akan tetapi senyuman itu hanya sebuah kamuflase, agar semua orang yang berusaha untuk untuk menghiburnya tidak ikut bersedih dengan penderitaan yang harus dia jalani.
Di saat Sifa, Abash, dan Arash menyalahkan diri mereka masing-masing, Bara adalah orang yang paling terpukul melihat kondisi sang adik. Andai saja dia tidak bersikap gegabah, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.
*
Enam bulan telah berlalu, satu persatu orang yang ada di belakang Neli pun mulai terungkap. Siapa yang menyangka, jika Neli adalah seorang wanita simpanan dari para pejabat dan juga mafia.
Beruntungnya Papa Satria menggait Om Martin untuk membantu dirinya mengungkap kejahatan yang telah Neli perbuatan, bersama dengan orang-orang yang ada di belakang wanita itu.
Duo Martin bergerak, sehingga membuat rencana Arash, Abash, Bara, dan Papa Satria berjalan dengan mulus.
Martin--kakak kandung dari Kak Mana pun mengerahkan semua pengawal terbaiknya untuk melindungi seluruh keluarga Moza dan Papa Satria. Pria itu juga mencari tahu tentang mafia yang membantu Neli melalui kenalannya yang ada di luar negeri.
Om Martin--sahabat Papa Satria yang juga berprofesi sebagai pengacara. Memanfaatkan semua link-nya untuk menjerat Neli dan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Neli memang licik, tapi wanita itu tidak tahu jika ada Duo Martin di dalam keluarga Moza dan Papa Satria. Jika Duo Martin telah bersatu, maka urusan pasti akan beres. Tapi tetap saja, mereka harus berhati-hati dengan wanita licik bernama Neli.
"Andai saja sedari awal kita meminta bantuan Om Martin dan Mister Martin, mungkin Zia akan baik-baik aja," ujar Bara yang masih belum bisa memaafkan dirinya.
__ADS_1
"Menyesal boleh, tapi jangan terlalu larut. Karena menyesali sesuatu yang telah terjadi dengan berlarut-larut pun juga tidak baik. Semuanya kejadian pasti ada hikmahnya. Jadi, jadikan semua ini pelajaran hidup agar kalian bisa tumbuh lebih dewasa dari hari ini," ujar Mama Kesya yang mendengar percakapan Arash, Bara, dan Abash.
"Makanlah dulu, dengan memakan makanan yang manis, insya Allah akan membaut pikirkan menjadi lebih tenang," sambung Mama Kesya sambil memberikan cookies dan bolu yang baru saja keluar dari oven dan langsung di hidangkan untuk tiga pria yang sering terlihat bersama itu.