
Sifa tidak bisa memejamkan matanya, gadis itu merasa penasaran akan hal apa yang akan di sampaikan oleh Abash besok.
"Mas Abash gak selingkuh, kan? Mas Abash gak punya hubungan gelapa dengan Mbak Putri, kan?" tanyanya entah kepada siapa.
"Tidak, Sifa, tidak. Kamu gak boleh berpikiran buruk tentang Mas Abash. Kamu harus tetap percaya dengannya apa pun yang terjadi. Ingat, sebuah hubungan yang langgeng di dasari dengan rasa kepercayaan antara satu dan yang lainnya. Jika kamu tidak percaya dengan Mas Abash, apa yang yang terjadi dengan hubungan kalian? Jika pondasinay saja sudah tidak kuat menahan beban dalam hubungan ini," lirih Sifa meyakinkan dirinya sendiri.
Dan malam ini, Sifa mencoba untuk tidur dengan menggunakan obat anti mabuk. Dia butuh mengistirahatkan pikirannya untuk menerima kenyataan esok harinya.
*
Putri tak bisa memejamkan matanya, sedari tadi dirinya terus berbalik ke arah yang berlawanan.
"Akkh, aku benar-benar gak bisa menutup mata," liirh Putri sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Putri pun bangakit dari tidurnya dan berencana untuk mengambil segelas air putih. Mungkin dengan meminum air putih hangat akan membuat pikirannya menjadi sedikait rileks.
Ceklek ..
Putri terkejut di saat melihat jika Arash atau Abash masih berada di luar kamar.
"Emm? Belum tidur?" tanya Putri mengambil atensi pria yang sedang membaca buku tersebut.
Putri tidak bisa menebak, siapa yang sedang duduk di sana.
"Belum, kamu belum tidur?" tanya Arash.
Putri menggelengkan kepalanya, saat ini dia sudah bisa menebak siapa pria yang duduk di sofa. Gadis itu pun melangkahkan kakinya secara perlahan ke dekat Arash.
__ADS_1
"Emm, aku izin ambil air minum, boleh?" pinta Putri.
Abash tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Silakan."
Putri pun tersenyum tipis dan berlalu menuju dapur, gadis itu pun mengambil segelas air putih hangat, kemudian membawanya ke sofa dan duduk di kursi yang lain bersama Araash.
"Apa aku mengganggu?" tanya Putri yang di jawab gelengan oleh Arash.
"Tidak, kenapa? Kamu gak bisa tidur?" tebak Arash.
Putri menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa masih teringat akan kejadian tadi?" tebak Arash lagi yang di jawab anggukan oleh Putir.
"Baiklah, bagaimana kalau kita nonton film?" ajak Arash.
"Hmm, bagaimana?"
"Mau nonton fim apa?" tanya Putri.
"Kamu maunya nonton film apa?" tanya Arash balik.
"Frozen?" cicit Putri dengan wajah merona.
"Fro-frozen? Frozen fim kartun?" tanya Abash untuk memastikan film yang ingin di tonton oleh Putri.
Putri menganggukkan kepalanya sebagai jawaban 'ya'.
__ADS_1
"Oke, baiklah kalau begitu," lirih Arash dan mencari film yang di maksud oleh gadis cantik yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.
"Duduklah di sini, lebih nyaman untuk menonton," ujar Arash sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Putri menganggukkan kepalanya dan berpindah ke arah Sofa panjang yang memang menghadap ke layar tv, sehingga membuat gadis itu benar-benar nyaman untuk menikmati film.
Arash pun berpindah ke kursi yang lain, agar tidak membuat Putri merasa tak nyaman jika berada di sebelahnya.
"Apa kamu sering mendapatkan kasus seperti ini?" tanya Putri yang mana membuat Arash menoleh ke arahnya.
"Ya, ini memang pekerjaanku. Kenapa?"
"Apa kamu tidak takut?" tanya Putri lagi.
"Sudah menajdi tugasku sebagai perwira polisi, jadi aku tidak boleh takut."
"Ooh, begitu." lirih Putri. "Enga, apa kamu pernah menemukan kasus yang sama seperti ini? Atau pernah lebih parah lagi?" tanya Putri yang terlihat tubuhnya bergetar.
Arash pun berpindah duduk menjadi di samping Putri, pria itu mengambil kedua kepalan tangan Putri yang saling mengunci.
"Hei, dengarkan aku. Lupakan masalaha ini agar kamu tidak terjatuh terlalu dalam ke dalam keterpurukan. Jika kamu terus mengingat akan hal yang terjadi hari ini, itu sama saja kamu menyakiti diri kamu sendiri," lirih," ujar Arash yang sudah menggenggam tangan kedua tangan Putri.
"A-aku takut, hiks ... Aku takut sekali. Hiks ... A-aku takut jika orang-orang yanga ada di sekitarku akan menderita," tangis Putri yang mana membuat Arash menarik tubuh Putri ke dalam pelukannya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," bisik Arash yang seolaha menajdi obat penenang bagai Putri mendengar suara berat Arash dan juga irama jantung yang berdetak normal milik Arash.
"Kamu tau, aku pernah melakukan kesalahan dulu. Di mana aku membahayakan adikku sendiri. Aku tidak mau hal itu terulang kembali," lirih Putri di dalam pelukan Arash.
__ADS_1
"Apa hal ini sebelumnya pernah terjadi kepadamu?" tebak Arash yang di angguki pelan oleh Putri.