Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 423


__ADS_3

Arash mengusap wajahnya dengan kasar, di saat Mbak Anggel mengatakan jika Putri harus menjalani operasi Caesar karena kondisi bayi yang sungsang.


"Tenanglah, Rash, semua akan baik-baik saja. Percaya dengan Anggel dan tim medis lainnya," ujar Mama Kesya sambil menepuk bahu sang putra.


Di sudut lain, Mama Nayna juga terlihat khawatir. Anak yang dilahirkan oleh Putri adalah cucu pertamanya, tentu saja Mama Nayna merasa deg-degan dalam menanti kelahiran  cucu pertamanya itu.


"Tenang, semuanya akan baik-baik saja," bisik Papa Satria sambil mengusap lembut bahu sang istri untuk menenangkannya.


“Iya, Mas.”


Tak berapa lama Sifa dan Abash pun tiba di rumah sakit. Kedua pasangan suami istri itu langsung menuju rumah sakit di saat mendengarkan kabar jika Putri mengalami kontraksi.


“Bagaimana keadaan Putri, Ma?” tanya Sifa dengan napas yang sedikit memburu.


“Putri baik-baik saja, dia harus menjalani operas caesar karena posisi bayi yang sungsang,” jawab Mama Kesya yang diangguki oleh Putri.


“Iya, Ma. Semoga saja Putri baik-baik saja dan operasi caesarnya berjalan dengan lancar.”


“Aamiin …”


Mbak Anggel pun memanggil Arash, bertanya kepada pria itu apakah dia ingin masuk ke dalam ruangan operasi atau tetap menunggu di luar.


“Arash mau masuk, Mbak,” jawab Arash yang di angguki oleh Mbak Anggel.


“Kalau begitu silahkan ganti pakaian kamu dulu, ya,” titah Mbak Anggel yang langsung diangguki oleh Arash.


Abash menurut dan mengikuti perawat yang kan membantunya untuk mengganti pakaian yang dia kenakan sekarang dengan menggunakan pakaian khusus untuk masuk ke dalam ruangan operasi.


“Kami boleh melihat Putri, An?” tanya Mama Kesya.


“Iya, Ma. Silahkan.


Mama Kesya pun mengajak Mama Nayna untuk menemui Putri yang masih berada di dalam ruangan tindakan.


Jantung Mama Nayna semakin berdegup kencang, di saat melihat Putri meringis kesakitan menahan kontraksi yang terus memutar perutnya.


“Sayang.” Mama Nayna langsung mengambil tangan Putri dan menggenggamnya dengan hangat.


“M-maa … hiks …”


“Kamu harus kuat, ya. Banyak beristighfar, Nak,” ujar Mama Kesya seolah memberikan kekuatan untuk sang putri.


“Iya, Ma.”


Putri pun terus mengucap nama Allah dan memohon ampun atas segala dosa yang telah dia perbuat.


“Maa … hiks .. sakit banget, Ma,” ringis Putri lagi, di saat merasakan kontraksi yang lebih kuat dari sebelumnya.


“Iya, sayang. Kamu harus kuat, ya,” bisik Mama Nayna.

__ADS_1


“Iya, Ma.”


Mama Kesya yang berada di sisi lain brankar pun juga ikut mengusap lengan Putri dengan lembut. Tak lupa pula, wanita paruh baya itu membacakan dzikir yang dibacakan oleh nabi Yunus saat beliau berada di dalam perut ikan paus.


Perlahan, Putri merasa sakit pada perutnya pun hilang. Ya, walaupun sakitnya tidak sepenuhnya hilang.


“Ma, Tante, saatnya Putri masuk ke ruangan operasi,” tegur Mbak Anggel memberitahu.


“Ah ya.” Mama Nayna pun mengusap air matanya, wanita paruh baya itu mendaratkan kecupan di seluruh wajah Putri.


“Mama percaya sama kamu, kamu pasti kuat,” bisik Mama Nayna dan tak lupa membacakan ayat kursi di telinga Putri.


“Iya, Ma, insya Allah.”


Mama Kesya pun melakukan hal yang sama, di mana beliau juga mengecup seluruh wajah Putri.


“Perjuangan seorang wanita untuk mendapatkan gelar menjadi seorang ibu itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, sayang. Ada rasa sakit yang harus dirasakan, tapi rasa sakit itu hilang seketika di saat mendengar tangisan bayi mungil yang selama sembilan bulan berada di dalam perut. Dan Mama percaya sama kamu, kalau kamu adalah anak yang kuat,” bisik Mama Kesya.


“Iya, Ma. terima kasih banyak.”


Mama Kesya dan Mama Nayna pun memundurkan langkahnya, di saat perawat ingin membawa Putri menuju kamar operasi.


Brankar Putri pun di dorong keluar dari ruang tindakan bersalin. Saat brankar wanita itu keluar, Papa Satria, Papa Arka, Sifa dan Bara pun langsung menghampiri Putri.


“Semua akan baik-baik saja, sayang. Bismillah,” ujar Papa Satria sambil menggenggam tangan sang putri.


“Iya, Pa.”


Sifa reflek menyentuh perutnya yang rata, tiba-tiba saja dia merindukan sosok malaikat mungil hadir di dalam perutnya.


Profesional kerja? Apa itu?


Sepertinya Sifa harus melupakan semuanya. Bahkan, dia juga harus merelekan mimpi-mimpinya yang telah dia raih dengan susah payah selama ini.


“Kenapa, hmm?” tanya Abash yang sudah merangkul tubuh mungil Sifa.


Pria itu dapat melihat bagaimana mimik wajah Sifa yang terlihat sedih.


“Tidak ada, Mas,” bohong Sifa dan mencoba tersenyum kepada sang suami.


Sifa tidak ingin membuat Abash merasa khawatir dengan apa yang dia rasakan saat ini.  Sebenarnya, sudah dua bulan ini Sifa berhenti meminum pil KB. Wanita itu berhadap jika dirinya bisa mengandung buah cintanya dengan Abash.


“Kita tunggu di ruang tunggu, yuk,” ajak Abash yang diangguki oleh Sifa.


Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang tunggu, mereka sedang menantikan kabar baik yang akan menambah daftar silsilah keluarga.


“Kok lama ya proses operasinya?” tanya Mama Nayna yang merasa khawatir dan juga gugup.


“Sabar ya, Ma, mungkin sebentar lagi juga bakal selesai, kok,” bisik Papa Satria.

__ADS_1


Di ruang operasi.


Tim anastesi sudah menyuntikkan obat bius di urat saraf yang ada di bagian pinggang Putri. Putri yang seolah tidak memiliki lagi tenaga untuk duduk pun, di bantu oleh sang suami.


Secara perlahan, Arash menurunkan tubuh Putri agar kembali tertidur di atas meja operasi yang terasa dingin.


“Semuanya akan baik-baik saja kan, Rash?” tanya Putri yang merasa takut sekali jika terjadi sesuatu kepada bayinya.


“Iya, sayang, semuanya akan baik-baik saja,” sahut Arash dan mengecup kening Putri sebagai penyemangat wanita itu.


“Gimana, Put? Sudah siap?” tanya Mbak Anggel, di mana wajahnya sudah ditutupi oleh masker.


“Iya, Mbak. Insya Allah siap.”


“Sekarang, coba angkat kaki kanan kamu!” titah Mbak Anggel.


Putri pun mencoba mengangkat kakinya, tetapi wanita itu merasa jika dia tidak mampu mengangkat kakinya lagi.


“Angkat yang tinggi,” titah Mbak Anggel.


“Sudah, Mbak.”


“Tinggi lagi,” titah Mbak Anggel lagi.


“Sudah, Mbak, Putri gak sanggup menganggak kaki lebih tinggi lagi,” jawab Putri dengan suara yang lirih.


Mbak Anggel tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada tim medis yang akan membantunya selama operasi berlangsung.


Dengan tangan lentik dan sudah terlatih, Mbak Anggel pun mulai melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter kandungan.


Arash sedikit pun tak melepas genggaman tangannya dari sang istri. Walaupun Putri tidak lagi merasakan bagian bawa tubuhnya, akan tetapi wanita itu masih dapat merasa jika perutnya seolah dengan di aduk-aduk.


Sebenarnya Arash ingin melihat proses persalinan secara caesar, akan tetapi pandangan pria itu terhalang oleh kain yang terbentang di atas tubuh Putri. Kain yang menjadi penghalang agar pasien tidak dapat melihat proses saat persalinan caesar terjadi.


“Mas, aku merasa mual,” ujar Putri dengan suaranya yang lirih di saat perutnya semakin terasa seakan di aduk-aduk.


“Mbak, Putri mual, dia mau muntah,”  ujar Arash yang mana membuat Anggel menoleh.


“Muntahkan saja, tidak apa-apa,”  jawab Mbak Anggel.


Salah satu perawat pun memberikan alat tampung jika Putri ingin muntah.


“Muntahkan saja jika ingin muntah ya, jangan ragu-ragu,” ujar perawat tersebut.


Putri rasanya ingin muntah, akan tetapi dia tidak mampu mengeluarkan apa yang saat ini dia rasakan. Saat rasa mual itu tiba-tiba hilang, Putri pun mendengar suara tangisan seorang bayi.


Oweeek …. oweeekk .. oweee ….


“M-mas, apa itu suara anak kita?” tanya Putri yang dijawab anggukan oleh Arash.

__ADS_1


“Iya, sayang. Itu suara anak kita.” Arash pun meneteskan air matanya. Pria itu sunggu terharu dengan perjuangan Putri mempertaruhkan nyawanya demi memberikan gelar ayah untuk dirinya.


__ADS_2