
"Kalian kenal?" tanya Quin.
Arash menganggukkan kepalanya.
"Woow, luar biasa," ujar Quin sambil menatap takjub kedua adik kembarnya itu. "Gimana ceritanya?" tanyanya lagi.
"Panjang ceritanya, di singkat pun juga bingung mau nyingkatnya gimana, intinya Arash juga kenal dengan Sifa," jawab Arash yang mana membuat sang Kakak merengut kesal.
"Gimana sama si pencopet itu?" tanya Papa Arka kepada Arash.
"Udah di masukin ke dalam tahanan sementara selama kasusnya masih di proses. Ini Arash mau minta keterangan dari Mama dan Sifa."
"Ooh, tapi, apa Sifa udah bisa di mintai keterangan?" tanya Quin dengan menatap Lucas.
Dengan segera Lucas memeriksa tekanan darah Sifa dan denyut nadinya.
"Satu jam lagi, biarkan Sifa istirahat di sini," ujar Lucas yang secara tak langsung menyuruh seluruh keluarga untuk keluar dari ruangan IGD.
Sebenarnya tak boleh ramai di IGD, tapi mau gimana lagi? Yang punya rumah sakit siapa coba? Diam-diam bae aja lah ya...
"Kalau begitu kita harus keluar, biar Sifa bisa istirahat." ujar Papa Leo.
"Ayo, kita keluar," ajak Papa Arka kepada seluruh keluarganya.
"Sifa, terima kasih ya, kamu harus tetap sehat," ujar Mama Kesya sebelum meninggalkan ruangan IGD. Tak lupa Mama Kesya membelai lembut rambut Sifa.
"Ma-makasih Nyonya,"
"Panggil Tante aja, ya," ujar Mama Kesya dengan lembut.
"Eh, tap-tapi__"
"Gak terima penolakan," ujar Mama Kesya dengan nada sedikit mengancam.
Sifa meringis dan menganggukkan kepalanya.
Bunda Sasa pun ikut mengusap kepala Sifa dengan sayang. "Tetap sehat dan terus jaga kesehatan ya, sayang."
"I-iya, Nyo__"
"Bunda, panggil bunda," ujar Bunda Sasa yang mana membuat Sifa rasanya semakin ingin menangis karena mendapatkan perhatian yang luar biasa dari keluarga bosnya itu.
"Bu-bunda. Terima kasih."
"Manis banget sih, so cute. Jadi ingat Empus. Gemesin, tapi pemberani." ujar Quin dengan mencubit pipi Sifa dengan pelan.
Abash memutar bola matanya malas. Yang benar saja Sifa mirip Empus. Empus Yang sangat menggemaskan.
'Menggemaskan dari mana?' batin Abash.
"Empus?" tanya Sifa.
"Iya, lain aku bakal kenalin Empus sama kamu." Entah mengapa Quin bisa berbicara seperti itu. Padahal, dia tak pernah mengajak orang asing untuk bertemu dengan Empus.
Setelah semuanya berpamitan, mereka pun serentak ingin keluar. Akan tetapi tidak dengan Abash, yang mana jasnya di tarik oleh Sifa.
__ADS_1
"Bapak, jangan tinggalin saya. saya takut." cicit Sifa pelan, tetapi masih di dengar oleh yang lainnya.
Mama Kesya dan yang lainnya pun langsung mengulum senyumnya. Tak pernah mereka melihat Abash sedekat ini dengan seorang wanita. Mungkinkah Sifaa???
"Kamu tinggal di rumah sendirian berani, kenapa di rumah sakit takut?" tanya Abash dengan pelan namun ketus.
"Itu di rumah, ini rumah sakit. Beda dong, Pak."
"Udah, Bash. Temenin aja kenapa sih? Kasihan juga Sifa-nya. Mungkin dia takut suasana rumah sakit." ujar Lucas sambil mengedipkan matanya sebelah penuh arti.
Abash memutar bola matanya sekali lagi, melihat kakak sepupunya itu bertingkah konyol. Dengan menghela napasnya kasar, pria itu pun kembali memundurkan langkahnya dan menarik kursi untuk dirinya duduki.
"Ayo keluar, biar Abash yang jagain Sifa," ujar Papa Arka kembali mengajak seluruh keluarga untuk membiarkan Sifa beristirahat.
"Udah, tidur sana," ujar Abash kepada Sifa saat seluruh keluarga telah keluar.
Kriiiuuuuukkk ....
Abash menoleh ke arah gadis yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat lucu. Ternyata Sifa sengaja menahan Abash, karena perutnya sedari tadi terasa lapar. Hanya dengan Abash lah dia berani mengatakannya. Entah keberanian dari mana Sifa miliki, untuk meminta makan kepada Abash.
"Kamu lapar?"
Sifa menganggukkan kepalanya dengan puppy eyesnya.
"Makanya kamu menahan saya di sini?" tanya Abash lagi.
Kembali, Sifa menganggukkan kepalanya. Abash menghela napas sedikit kasar dan berdiri.
"Bapak mau ke mana?" tanya Sifa sedikit panik saat melihat Abash berdiri.
"Jangan tinggalin saya, saya serius takut rumah sakit," ujar Sifa dengan cepat.
Abash menaikkan alisnya sebelah saat mendengar ucapan gadis yang sedang menahan lengannya saat ini dengan tatapan memohon.
Abash kembali menghela napas dan mendudukkan dirinya lagi. Pria itu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Bapak suruh siapa? Kenapa gak pesan online aja?" tanya Sifa.
"Bawel banget sih?" gerutu Abash.
"Ya bukan gitu, Pak. Tapi saya merasa gak enak aja. Sebenarnya bisa aja saya memesan sendiri. Tapi___"
"Tapi apa?" tanya Abash yang sedari tadi menunggu ucapan Sifa, akan tetapi gadisbitu malah menggantung ucapannya dan mengulum bibirnya.
"Paket saya habis." cicit Sifa dengan cepat.
"Hah? Apa?"
"Nyantai aja, Pak, terkejutnya. Bikin saya kaget aja," ujar Sifa sambil mengelus dadanya.
"Kamu bilang apa? Paket habis? Kok bisa?"
"Ya bisa lah, Pak. Namanya juga paket mingguan."
"Hah? Paket mingguan? Emang ada?" tanya Abash.
__ADS_1
"Lah, masa Bapak gak tahu sih?"
Abash pun menggelengkan kepalanya.
"Emangnya Bapak selama pake paket apa? Perbulan?"
"Perbulan? Emangnya ada? Gimana cara pakainya itu?" tanya Abash dengan bingung.
"Lah? Masa Bapak gak tau sih?"
"Emang gak tau. Saya pakai dan bayar sesuai dengan yang saya gunakan."
"Ooh, Prabayar. Wajar sih Bapak gak tau paket yang perbulan dan mingguan. Bahkan ada yang perharian loh, Pak."
"Perharian? Kok Bisa? Gimana ceritanya?"
"Gak pake cerita, Pak. Ya gitu lah, paketnya sehari itu satu giga. Lumayanlah bisa nonton Drakor beberapa episode."
"Sehari satu giga?" ujar Abash dengan terkejut yang mana membuat Sifa juga ikut terkejut dan mengelus dadanya lagi.
"Biasa aja kenapa pak terkejutnya, bikin saya jantungan aja," ujar Sifa dengan ketus.
"Kok kamu sewot kalau saya bikin kamu jantungan? Pas Mbak saya aja bikin kamu jantungan, kamu gak marah?"
"Ya beda, Mbak yang cantik itu. cantiknya bagaikan malaikat."
"Kalau saya? Saya kan tampan. Gak bikin kamu jantungan?" tanya Abash dengan pedenya.
"Kepedean banget sih, Bapak. Kalau Bapak beda, Bapak emang tampan, mirip sih sama malaikat. Tapi, malaikat pencabut nyawa," ujar Sifa dengan tersenyum mengejek.
Abash siap kembali membalas ucapan Sifa, akan tetapi gorden penutup ruangan terbuka dan menampilkan suster yang baru saja datang dengan membawa obat.
"Ini vitaminnya, silahkan di minum, ya Non," ujar suster sebut.
'Non?' batin Sifa.
Gadis itu melongo mendengar saat sang suster menyebutnya dengan panggilan 'Non'. Rasanya terdengar aneh, belum lagi senyuman suster tersebut sangat mencurigakan sekali.
"Kenapa jadi bengong? Di minum vitaminnya," tegur Abash yang melihat Sifa hanya melongo menatap kepergian suster tersebut.
Sifa menerima uluran gelas yang di berikan oleh Abash. Gadis itu meminum vitamin yang baru saja di berikan oleh suster tadi.
"Pembicaraan kita belum selesai, jadi kamu serius ada paket yang harganya 1 giga?" tanya Abash lagi yang benar-benar penasaran dengan hal tersebut.
Sifa menatap bosnya itu dengan tatapan tak percaya. Masa sih hal begitu saja sang bos tidak tau? Bukannya di iklan sering muncul yaa? Tiba-tiba saja Sifa kepikiran akan hal lainnya.
"Jangan bilang kalau Bapak juga gak tahu token listrik yang seharga dua puluh ribu? Trus bunyi token listris saat pulsanya habis?"
Seperti dugaan Sifa, Abash kembali terkejut dengan ucapan gadis itu.
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
...Follow IG Author : Rira Syaqila...
__ADS_1