
Mama Nayna menoleh ke arah besannya itu. Wanita paruh baya itu tersenyum dengan lembut.
"Bukankah Zia sudah menjadi ibu pengganti bagi Yumna dan Rayyan?" ujar Mama Kesya masih dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Iya, Mbak. Tapi maksud aku---"
"Jujur saja! Saat di rumah sakit, aku sempat berpikir bagaimana jika Zia menikah dengan Arash. Pastinya Yumna dan Rayyan tidak akan bisa kehilangan sosok ibu yang benar-benar tulus menyayangi mereka. Tapi, mengingat bagaimana hubungan Arash dan Zia yang penuh dengan konflik, terlalu egois rasanya jika kita sebagai orang tua memaksakan kehendak yang kita inginkan," ujar Mama Nayna memotong ucapan Mama Kesya.
"Lagi pula, rasanya tidak enak dengan Mbak Sasa. Beliau sebelumnya sudah berniat melamar Zia untuk Ibra."
Mama Kesya menghela napasnya dengan pelan, apa yang di katakan oleh Mama Nayna memang benar adanya. Andai saja mereka memaksakan kehendak yang ada di dalam hati, terlalu sangat egois dan tidak memikirkan pihak yang lainnya. Mungkin Arash akan setuju dengan keinginan Mama Kesya yang ingin menikahan putranya itu dengan Zia. Akan tetapi, bagaimana dengan Zia sendiri? Trauma yang di buat oleh putranya itu pasti akan membuat Zia menolak keberadaan Arash.
Dan satu hal lagi yang menjadi masalah yaitu di mana Ibra menyukai Zia. Bahkan pria itu sudah berniat untuk melamarnya.
"Mbak benar. Kenapa aku sampai melupakan hal itu, ya?" ujar Mama Kesya sambil tersenyum sendu.
"Sebagai orang tua, sebaiknya kita berdoa saja untuk yang terbaik bagi Arash, Zia, dan kedua cucu kita. Yumna dan Rayyan," saran Mama Nayna.
"Iya, Mbak benar."
"Kita ke dapur yuk, siapin makan siang," ajak Mama Nayna yang di angguki oleh Mama Kesya.
*
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah seminggu Rayyan dan Yumna tinggal bersama Zia. Kondisi kesehatan mereka pun sudah terbilang sangat membaik. Bahkan, napsu makan Rayyan terlihat bertambah dari sebelumnya.
"Rayyan sepertinya makin gembul ya?" ujar Sifa kepada Zia.
"Iya, Mbak. Makannya juga udah lumayan banyak." Zia tersenyum dan memandang ke arah perut Sifa yang sudah terlihat membesar.
__ADS_1
"Sudah kelihatan ya, Mbak, perutnya," ujar Zia sambil menatap ke arah perut Sifa.
"Iya. Alhamdulillah. Udah kelihatan."
"Gimana, Mbak? Sehat kan?" tanya Zia lagi.
"Iya, Alhamdulillah."
"Ada mual-mual gak, Mbak?"
"Alhamdulillah, gak ada. Malahan napsu makan aku makin banyak," kekeh Sifa.
"Kalau Mas Abash sendiri bagaimana? Ada mual-mual, gak?" tanya Zia penasaran.
Biasanya, jika si ibu yang sedang hamil tidak mengalami mual-mual, pasti si ayah yang mengalaminya. Zia hanya penasaran saja tentang hal tersebut. Karena selama ini dia tidak pernah melihat kalau si ayah yang mengidam, bahkan sampai muntah-muntah. Bahkan, saat Putri hamil saja, Arash sama sekali tidak mengalami sindrom simpatik seperti apa yang selalu di harapkan oleh para wanita.
"Gak ada. Palingan napsu makannya juga ikut bertambah," jawab Sifa.
"Iya, setiap aku ajakin cari makanan, dia pasti ikut pesan juga. Pernah sekali Mas Abash hanya melihat aku makan saja. Eh, pulang-pulang malah dia yang kelaparan. Sejak saat itu, Mas Abash ikut memesan makanan yang sama dengan apa yang aku makan," ujar Sifa bercerita.
"Oh, begitu. Pantas saja Mas Abash terlihat sehat ya, Mbak," kekeh Zia.
"Iya. Padahal dulu dia kan orangnya rajin banget olah raga. Tapi sekarang tuh ya, bawaannya malas dan suka banget ngekorin aku ke mana-mana," ujar Sifa sambil tersenyum malu.
"Itu tandanya Mas Abash khawatir kalau Mbak kenapa-napa."
"Iya sih. Dia juga bilangnya begitu saat aku tanya. Tapi kan, kalau kita lagi kerja di ekorin melulu, risih juga ya?" kekeh Sifa yang di angguki oleh Zia.
"Sepertinya seperti itu, Mbak. Soalnya aku belum pernah rasa sih!"
__ADS_1
Sifa dan Zia pun terlihat mengobrol dengan sangat akrabnya. Bahkan, Sifa merasa jika dirinya seolah tidak kehilangan Putri. Sifa merasa jika di dalam diri Zia juga terdapat bagian dari Putri. Rasa rindu wanita itu terhadap almarhumah pun terpuaskan. Bersama Zia, Sifa merasa rindunya sudah terlepas dengan bebas begitu saja.
Di tempat lain.
"Apa kamu tidak berniat melamar Zia, Rash?" tanya Abash.
Arash tersenyum miring, pria itu menyesap kopi yang ada di tangannya saat ini. "Untuk apa?"
"Bukankah kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat kepadanya?" ujar Abash menatap lurus ke arah sang kembaran.
"Jika Zia saja sudah menolak, untuk apa lagi aku memaksa?" Arash menoleh ke arah Abash dan membalas tatapan mata kembarannya itu. "Setidaknya aku sudah menujukkan niat baik aku untuk bertanggung jawab. Tapi, jika dia yang menolaknya aku bisa apa? Bukankah itu hal yang bagus untuk aku? Untuk kami berdua?"
"Kamu tau, Rash. Semenjak tiga tahun belakangan ini, aku seolah tidak mengenal siapa kamu. Aku seolah merasa kita bukanlah seperti saudara kembar seperti dulu, di mana pemikiran kita sering banyak kesamaannya. Aku seolah melihat diri aku dalam versi yang berbeda, Rash. Aku seolah melihat diri aku yang sulit untuk aku gapai," ujar Abash mengungkapkan isi hatinya.
Berawal dari sejak Arash terlihat tidak menyukai Sifa, karena wanita itu sedang mengandung dan mendapatkan perhatian dari semua orang. Tapi, tidakkah pria itu berpikir bagaimana perasaan Sifa di saat semua orang sedang fokus memberikan perhatiannya kepada Putri dulu?
Ya, walaupun kejadian itu sudah lama dan Arash juga sudah meminta maaf kepada Sifa. Tapi, tetap saja Abash merasa jika kembarannya itu seolah sulit untuk di raihnya. Arash yang sekarang, lebih sulit untuk di ajak berbincang bersama.
"Setiap orang pasti berubah pada waktunya, Bash," jawab Arash. "Seperti halnya diri kamu yang sekarang. Di mana dulu untuk melihat senyuman kamu aja, sungguh sangat sulit sekali. Tapi, bagaimana dengan sekarang? Kamu terus tersenyum, kan?"
Ya, apa yang di katakan Arash memang benar kan? Abash juga telah berubah, tidak seperti Abash yang dulu.
"Jadi, tidak ada salahnya kan kalau aku berubah? Lagi pula, aku hanya ingin setia kepada Putri, Bash. Aku hanya ingin menjaga cinta aku tetap untuk Putri."
"Menjaga cinta, bukan berarti kamu harus terpuruk terus dalam bayang-bayang Putri, Rash. Setidaknya kamu harus bisa melepaskan pikiran kamu dari Putri, agar Putri di tempatnya saat ini juga merasa tenang. Jika kamu terus memikirkan Putri, aku yakin pasti dia juga merasa sedih, Rash. Putri pasti sedih jika melihat kamu seperti ini. Putri hanya ingin kamu mengiklhlaskan kepergiannya, Rash. Hanya itu."
"Kamu pasti mengatakan hal itu dengan sangat mudahnya, Bash. Karena kamu tidak pernah merasakan apa itu arti kehilangan. Kamu tidak tahu apa artinya, Rash."
"Putri memang bukan istriku. Tapi dia sudah aku anggap sebagai sahabat dan juga adik. Apa kamu lupa, jika aku yang duluan bertemu dengan Putri. Aku yang duluan mengenalnya dari pada kamu, Rash. Jadi, sebagai seorang sahabat dan abang, aku pastinya juga merasakan hal yang sama seperti apa yang kamu rasakan. Aku juga merasakan bagaimana sedihnya kehilangan seorang sahabat dan adik sekaligus. Aku juga merasa kehilangan Putri, Rash. Bukan cuma aku atau kamu, tapi semuanya. Kita semua merasa kehilangan Putri." ujar Abash panjang lebar.
__ADS_1
"Kamu harus ingat, Rash. Kamu tidak sendiri menjalani kesedihan ini. Semuanya balik lagi kepada kamu, bagaimana cara kamu ingin mengatasi kepergian Putri. Haruskah kamu terus bersedih dan berduka? Atau kamu mengikhlaskan kepergiannya dan fokus merawat anak-anak kalian dan menata masa depan kamu yang sedang menanti." Abash tersenyum kecil, pria itu pun berdiri dari duduknya.
"Semua kembali lagi kepada kamu, Rash. Bagaimana cara kamu ingin menyikapinya. Karena hidup ini terus berjalan maju dan gak akan pernah kembali mundur."