
Arash baru saja mendapatkan telepon dari seseorang, di mana orang tersebut memberitahu dimana keberadaan Putri saat ini. Pria itu pun bergegas mengambil kunci mobil untuk melihat keadaan orang yang dia cintai.
"Dia sedang tidur, kondisinya sangat lemah sekali, karena seminggu ini Putri tidak mengisi perutnya dengan makanan," jelas Luna.
Ya, orang yang menghubungi Arash adalah Luna. Gadis itu sengaja memberitahu Arash, karena tidak ingin membuat masalah ini tidak ada jalan keluarnya. Bahkan, saat keluarga Putri menghubungi dirinya untuk menanyakan kabar sang anak, Luna terpaksa berbohong dan mengatakan jika Putri sedang ada masalah dengan Arash, masalah kecil yang sering di hadapi oleh setiap pasangan yang ingin menikah. Untungnya alasan yang Luna katakan, sama seperti apa yang Abash dan Arash sampaikan di saat mencari keberadaan Putri ke Bandung.
Walaupun begitu, tetap saja Papa Satria merasa ada sesuatu yang telah terjadi terhadap Putri mereka. Hal itu pun membuat Papa Satria menyuruh orang bayaran untuk memantau Abash dan Arash, serta Luna yang ikut masuk ke daftar kecurigaan Papa Satria.
Arash menghela napasnya pelan, pria itu pun masuk ke dalam ruang inap Putri dan melihat wajah tirus sang kekasih yang terlihat pucat. Rasa bersalah pun semakin membucah di dalam hatinya, sehingga Arash tidak sanggup lagi menahan air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk mata.
Arash berjalan mendekat ke arah Putri yang masih tidak sadarkan diri, dengan tangan yang tertancap selang infus dan hidung yang di berikan selang oksigen.
"Putri, maafin aku, sayang. Maafin aku," lirih Arash sambil menggenggam tangan Putri yang terasa sangat dingin sekali.
Luna yang melihat adegan itu pun, memilih untuk keluar dan membiarkan Arash menghabiskan waktu bersama sang sahabat.
Di tempat lain.
"Apa? Masuk rumah sakit?" kejut Papa Satria di saat mendengar kabar tentang sang putrii.
"Baiklah, terima kasih informasinya."
Papa Satria pun memanggil pengawalnya dan menyuruh menyiapkan helikopter untuk keberangkatannya menuju ke tempat di mana Putri di rawat.
"Mau ke mana, Mas?" tanya Mama Nayna yang melihat sang suami terlihat terburu-buru untuk pergi.
"Ah, aku ada urusan sebentar. Urusan penting. Mungkin aku tidak akan pulang dalam waktu beberapa hari," ujar Papa Satria sambil tersenyum manis.
"Loh, kalau sampai gak pulang, itu sih namanya lama, Mas. Bukan bentar," cibir Mama Nayna sambil memanyunkan bibirnya.
Papa Satria pun terkekeh pelan, kemudian menarik tubuh Mama Nayna ke dalam pelukannya.
"Papa da pertemuan penting di luar daerah, mendadak juga baru di kasih tau. Makanya Papa butuh waktu sedikit lama di sana," ujar Papa Satria.
"Sedikit lamanya berapa lama?" tanya Mama Nayna.
"Em, paling cepat tiga hari, paling telat seminggu," ujar Papa Satria.
"Memangnya kamu mau ke mana, Mas?"
"Surabaya," bohong Papa Satria.
Ya, Papa Satria sengaja berbohong agar sang istri tidak merengek untuk minta ikut ke Jakarta dan melihat keadaan putriii sulungnya.
__ADS_1
"Hmm, kirian ke Jakarta. Kalau ke Jakarta, Mama mau ikut," rengek Mama Nayna.
"Terus, kalau kamu ikut, Zia gimana?" tanya Papa Satria. "Zia butuh kamu di sini, sayang."
"Iya, tapi aku akhir-akhir ini sangat khawatir dengan keadaan Putri, sayang. Makanya aku ingin melihat keadaan dia," ujar Mama Nayna dengan sendu.
"Iya, nanti kalau pekerjaan aku udah selesai, Zia juga udah libur sekolah, kita jenguk Putri, ya?" bujuk Papa Satria.
"Janji?"
"Iya sayang, janji."
Urusan Mama Nayna pun selesai, Papa Satria bergegas pergi setelah berpamitan dengan sang istri dan juga sang anak.
Papa Satria berangkat ke Jakarta dengan menggunakan helikopter miiliknya dan langsung mendarat di atas atap rumah sakit. Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya menuju ruang inap sang putri. Pihak rumah sakit yang mendengar kedatangan Papa Satria pun, langsung menyambutnya dengan segera.
"Om Satria, apa kabar?" Lucas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan menyambut kedatangan Papa Satria.
"Baik," jawab Papa Satria dan membalas uluran tangan Lucas.
"Ah ya, di kamar mana Putri di rawat?" tanya Papa Satria.
"Mari, Om. Saya antar." Lucas pun mempersilahkan Papa Satria untuk berjalan duluan di depan dan mengantarkannya ke kamar inap Putri.
*
"Bagaimana bisa, Rash? Hiks ... aku bukan gadis seperti dulu. A-aku .. aku sudah menjadi wanita kotor---"
"Tidak, Put, tidak. Aku tidak pernah menilai kamu seperti itu. Aku akan menerima kamu apa adanya, Put. Karena aku mencintai kamu."
"Hiks .. tidak, Rash, tidak. Aku tidak bisa, hiikss ..."
"Kenapa, Put? Kenapa tidak bisa?" tanya Arash dengan bingung. "Apa kamu merasa ragu dengan cinta aku, Put?"
"Tidak, Rash, bukan itu. Tapi----"
"Tapi apa, Put? Katakan ...."
"A-aku ... hiks ... aku tidak bisa menikah dengan kamu, Rash. Karena wajah kamu sangat mirip dengan dia. Hiiks .. Aku tidak bisa menikah dengan kamu, karena aku tidak bisa melupakan kejadian itu, Rash. Aku tidak biisa, hiiks .. Setiap aku melihat wajah kamu, maka aku akan selalu teringat akan kejadian laknat itu, Rash, aku gak bisa. Aku gak bisa menikah dengan kamu, hiks .."
Untuk pertama kalinya, Arash merasa ingin mengubah bentuk wajahnya.
"Put, anggap saja jika malam itu aku yang telah melakukannya," lirih Arash.
__ADS_1
"Tidak, Rash, tidak. Hiks .. kamu dan dia berbeda. Aku tidak bisa, hiks .."
"Put--"
"Aku mohon, Rash, jangan paksa aku lagi. Aku mohon," pinta Putri.
"Put, aku tidak bisa tanpa kamu. Biarkan aku yang bertanggung jawab, Put."
"Tidak, Rash, aku tidak bisa. Hiks ... Walaupun aku ingin, tapi aku tidak bisa melupakan kejadiian itu. Aku membencii kamu, Rash, karena wajah kamu yang sangat sama dengannya. Aku membenci kamu, hiks.. aku tidak ingiin membenci kamu, tapi aku tidak biisa, aku membencii kamu. Sangat membenci kamu," lirih Putri.
"Jadi, pergilah dan jangan pernah kembali lagi di hadapanku."
"Put, tidak, Put. Aku mohon, jangan bencii aku. Jika kamu ingin, aku akan merubah wajahku, Put. Aku mohon, jangan pernah menyuruh aku pergi," mohon Arash.
"Jangan konyol, Rash. Aku mohon, pergilah."
Pintu kamar inap Putri pun terbuka, sehingga menampilkan sosok yang sangat Putri rindukan.
"Sayang?" tegur Papa Satria.
"Papa, hiiks ..."
Arash langsung memundurkan langkahnya, memberikan ruang untuk calon mertuanya itu.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu bisa sampai di rawat, hmm? Dan ini, kenapa kamu menangis?" tanya Papa Satria sambil mengusap air mata sang anak.
"Papa, hiks .." Putri menangis di dalam pelukan sang papa, sehingga membuat pria paruh baya itu pun mengernyitkan keningnya.
"Ada apa, sayang? Apa yang sedang terjadi sebenarnya?" tanya Papa Satria dengan kening mengkerut.
Arash yang ada di sana pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Pria itu sedang mencari kata-kata yang pantas untuk diucapkan kepada sang calon mertua.
"Arash, ada apa? Kenapa Putri sampai masuk rumah sakit seperti ini?" tanya Papa Satria. "Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian? Apa masalahnya sangat besar sehingga Putri harus menghilang dan jatuh saki?" Papa Satria menatap calon menantunya itu dengan tajam.
"I-itu ..."
"Om, sebaiknya masalah ini kita bicarakan di rumah san secara kekeluargaan," potong Lucas dan menatap dingin kepada adik sepupunya agar tetap diam saat ini.
"Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Papa Satria merasa curiga jika hal buruk telah terjadi kepada sang putri.
Papa Satria pun menatap wajah Arash yang tertunduk dengan wajah yang basah dengan air mata. Dan juga, melihat kondisi sang putri yang terlihat tidak baik-baik saja, membuat Papa Satria semakin curiga jika hal yang tejadi di antara Arash dan Putri bukanlah masalah yang mudah, melainkan masalah yang cukup serius.
Tapi apa?
__ADS_1
Papa Satria harus bersabar saat ini, hingga sang Putri merasa tenang dan tertidur dengan pulas.
Lucas bergegas menghubungi Papa Arka dan mengatakan jika Papa Satria sudah berada di Jakarta. Mungkin inilah saat yang tepat untuk mereka membahas masalah yang telah menimpa Putri dan juga Abash. Kemungkinan terbesar akhirnya, apapun yang terjadi terhadap Putri, Abash harus tetap bertanggung jawab. Terlepas Putri hamil ataupun tidak.