Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 370


__ADS_3

Abash sudah mempersiapkan semuanya untuk melamar sang pujaan hati. Saat semua orang tengah sibuk mempersiapkan acara syukuran atas usia kandungan Putri yang memasuki empat bulan, Zia malah sibuk membantu Abash untuk membuat kejutan untuk Sifa.


"Sudah, Mas. Semuanya sudah aku pesankan sesuai dengan yang Mas minta. Aku harap, kejutan ini tidak mengecewai Mas Abash dan Mbak Sifa, ya," ujar Zia dari seberang panggilan.


"Iya, terima kasih atas bantuannya, Zia. Kalau gak ada kamu, mungkin aku akan keteteran sendiri mengurusnya," kekeh Abash.


Kalian masih ingatkan, Abash tidak pernah dekat dengan seorang wanita, kecuali keluarganya sendiri. Tapi, dengan Zia Abash merasa berbeda. Dia seolah memiliki seorang adik yang bisa dia andalkan. Entah mengapa, Arash yang memiliki adik ipar, tetapi Abash yang serasa jadi abang iparnya. Bukannya Abash tidak tahu apa yang terjadi antara Zia dan Arash, pria itu bisa dikatakan sudah merasa lelah menasehati sang kembaran untuk berpikiran positif terhadap Zia. Tapi, Arash adalah Arash. Walaupun mereka kembar, jalan pikiran mereka tetaplah berbeda.


Tapi, semenjak Putri hamil Abash merasa jika Arash berbeda, pria itu dapat merasakan jika Arash mulai membuka dirinya untuk menerima keberadaan Zia. Syukurlah, jika Arash bisa berdamai dengan masa lalunya. Tapi, bagaimana dengan Zia? Abash dapat melihat dan merasakan, jika Zia masih merasa enggan untuk dekat dengan pria itu.


Tapi, semua itu adalah hak Zia, Abash tidak bisa menasehati gadis cantik itu.


"Sama-sama, Mas. Aku senang kok bisa membantu Mas Abash dan Mbak Sifa. Aku harap, semoga kalian hidup bahagia dan langgeng sampai nenek dan kakek, ya?" ujar Zia dengan tersenyum lebar.


"Amiiin ...."


"Oh ya, Mbak Sifa jam berapa sampai?" tanya Zia mengalihkan pembicaraan. Ada beberapa hal lagi yang harus dia kerjakan untuk memberikan kejutan kepada Sifa.


"Sekitar satu jam lagi."


"Oke, kalau begitu aku lanjut lagi ini siapin kejutannya ya, Mas. Ada beberapa bonus dari aku," kekeh Zia.


"Wah, terima kasih banyak Zia."


Panggilan pun terputus. Zia kembali menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Abash sedang sibuk mencari bunga apa yang akan dia berikan untuk menyambut kepulangan sang kekasih.


Pilihan Abash pun jatuh kepada bunga mawar merah yang sangat cantik sekali. Pria itu pun membayar bunga yang sudah dia beli, kemudian kembali ke dalam mobil dan melajukannya menuju bandara. Abash sudah berdiri tegak dengan sebuket bunga mawar merah yang ada di tangannya. Tak lupa, kaca mata hitam yang menghiasi wajah tampannya itu. Siapapun yang melihat Abash saat ini, pasti merasa penasaran siapa yang sedang ditunggu oleh pria tampan itu. Jika pria tampan itu sedang menunggu kekasihnya, secantik apa sih kekasihnya itu?


Beberapa orang yang sedari tadi sengaja lalu lalang di dekat Abash, benar-benar merasa kagum dengan ketampannya dan juga merasa penasaran dengan sosok yang ditunggu olehnya.


Beberapa orang mulai keluar dari pintu kedatangan luar negeri. Abash bergerak sedikit untuk menegakkan punggungnya semakin tegap, kemudian sudut bibirnya bergerak membentuk sebuah senyuman yang sangat indah sekali, sehingga membuat wanita yang ada di sekeliling Abash merasa terkesima.

__ADS_1


Abash melambaikan tangannya kepada Sifa, di saat melihat sosok yang dia nanti sedari tadi.


Sifa sempat terdiam di tempat, di saat melihat betapa tampan tunangannya itu. Bahkan, Sifa merasa minder dengan ketampanan yang Abash tunjukkan saat ini. Melihat Abash yang melambaikan tangan dan memanggil dirinya, Sifa pun tersadar dari lamunannya. Gadis itu kembali melangkahkan kakinya mendekati pria yang sangat dia rindui itu.


"Mas," sapa Sifa saat sudah berada di dekat Abash.


Berbeda dengan Abash, pria itu malah menarik Sifa ke dalam pelukannya.


"Mas, malu dilihatin orang banyak," bisik Sifa dengan wajah yang merona.


"Biarin aja. Kan mereka punya mata, wajar aja kalau bisa melihat," jawab Abash yang tidak peduli dengan orang-orang yang ada disekitarnya.


Abash sangat merindui gadis yang ada didalam pelukannya saat ini. Sudah lama sekali dia tidak berjumpa dengan Sifa. Ternyata menuruti perkataan sang mama untuk tidak sering mengunjungi gadis pujaan hatinya itu ada manfaatnya juga. Rasa rindu Abash yang terlepas sudah, hingga dadanya yang terasa sesak kembali lega. Namun, rasa cintanya seolah semakin bertambah untuk sang kekasih, rasa untuk memiliki pun semakin kian terasa sangat kuat sekali.


"Apa kamu tidak merindukan aku?" bisik Abash yang masih memeluk Sifa.


"Aku sangat merindukan kamu, Mas. Tapi, lepasin dong pelukannya. Aku malu dilihat sama orang," pinta Sifa.


"Kamu kurusan, sayang. Apa kamu sengaja diet?" tanya Abash sambil membelai pipi Sifa dengan lembut.


"Enggak, Mas. Aku gak diet kok. Mungkin karena aku terlalu kelelahan dan banyak bergadang, makanya aku kurusan."


"Hmm, kamu gak boleh kurusan. Aku gak mau orang berpikir jika kamu kurusan karena menderita memiliki hubungan dengan aku. Tidak, aku tidak mau."


"Mas, siapa yang berani berkata begitu? Kalau ada yang berani berkata begitu, aku akan cubit mulutnya," ancam Sifa.


Abash membulatkan matanya, baru kali ini dia mendengar Sifa berani mengancam seperti tadi.


"Kamu belajar dari siapa berani seperti tadi, sayang?" tanya Abash dengan kening mengkerut.


"Naya dan Zia yang ngajarin, Mas," kekeh Sifa yang mana membuat mata Abash membulat. Tapi sayangnya Sifa tidak dapat melihat mata sang kekasih, karena Abash masih menggunakan kacamatanya.

__ADS_1


"Waah, sepertinya kamu belajar banyak dari mereka, ya?" kekeh Abash.


"Iya, Mas."


"Oh ya, ini untuk kamu." Abash pun memberikan buket bunga mawar yang ada ditangannya kepada sang kekasih.


"Waah, ini cantik banget, Mas. Terima kasih banyak." Zia mengambil buket bunga tersebut dan mencium aromanya. "Hmm, wanginya seger banget, Mas. Aku suka. Terima kasih banyak untuk semuanya, Mas."


"Sama-sama, kalau begitu, ayo kita ke tempat sepi. Bukannya kamu bilang kalau kamu malu berada di tempat keramaian?" ujar Abash dengan kerlingan matanya yang menggoda.


"Ngapain ke tempat sepi, Mas?" tanya Sifa dengan wajahnya yang polos.


Abash sedikit memonyongkan bibirnya, memberikan kode kepada sang kekasih.


"Bibir Mas kenapa? Sariawan?"


Abash mendengus pelan, pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Sifa.


"Bunga ini gak gratis, sayang. Aku butuh vitamin C dari kamu," bisik Abash.


"Vitamin C? Ya udah kalau gitu, aku ke apotek dulu, ya."


Sifa ingin menjauh dari Abash, akan tetapi pria itu dengan cepat menahan lengannya.


"Bukan vitamin c yang itu, sayang. Tapi vitamin c yang lain. Vitamin ciuum," bisik Abash lagi yang mana membuat mata Sifa membulat sempurna.


"Maasss, jangan mesum, deh," cicit Sifa dengan wajah yang merona.


Abash terkekeh pelan, merasa lucu melihat wajah sang pujaan hati. "Mau kasih vitamin c-nya di sini, atau di tempat sepi?"


"Maasss ..."

__ADS_1


__ADS_2