
"Pa, kartu Putri kenapa gak bisa di gunakan, ya?" tanya Putri
"Loh, yang terblokir kartu kamu? bukannya kartu Zia?" tanya Papa Satria yang ternyata salah memblokir kartu.
Putri pun menatap kartu yang ada di tangannya saat ini. Dia pun menepuk keningnya, karena kartu yang ada bersamanya saat ini adalah kartu milik Zia--adik Putri.
"Kayaknya Putri bawa kartu Zia deh, Pa. Kartu Putri sama Zia," cicit Putri setelah menyadari kebenarannya.
"Ya ampun anak itu. Bisa-bisanya dia tukar kartu kamu sama miliknya," gerutu Papa Satria.
"Emang Zia kenapa lagi, Pa?" tanya Putri.
"Hmm, biasalah. Dia traktirin teman-teman gak jelasnya itu. Masa iya dia yang bayarin semua biaya ulang tahun temannya. Gak bener kan itu? Yang ada dia itu cuma di jadiin azas manfaat aja sama teman-temannya itu," kesal Papa Satria.
"Ya udah, Pa. Blokir aja kartu Putri," titah Putri.
"Iya, ini Papa blokir dulu kartu kamu ya," ujar Papa Satria. "Ah ya, kamu memangnya perlu banget pakai kartu itu?" tanya Papa Satria lagi.
"Gak kok, Pa. Putri masih ada kartu lain. Ya udah kalau gitu ya, Pa. Papa jangan marah-marah sama Zia. Dia masih mencari jati dirinya itu, Pa. Kasih tau aja kalau berteman itu jangan mau di manfaati," ujar Putri.
"Iya, Kamu juga. Jangan terlalu baik sama orang," ujar Papa Satria dan menghela napasnya dengan berat. "Heran Papa, sifat mama kalian kok pada turun ke anak gadis Papa semua, sih? Gak papa sih bersikap baik kepada siapa aja, tapi ya lihat-lihat juga," gerutu Papa Satria.
"Iya, Pa. Ya sudah kalau begitu, Putri tutup dulu ya, Assalamualaikum ."
"Walaikumsalam."
Panggilan pun berakhir, Putri menoleh ke arah mbak penajga kasir, tetapi dia malah di kejutkan oleh keberadaan Arash di sana.
"Anda?"
"Ini," ujar Arash sambil memberikan ponsel yang tadi ingin di beli oleh Putri.
"Untuk apa?" tanya Putri bingung.
"Ini permintaan maaf saya ke kamu. Pertama, ponsel kamu retak karenan saya, kedua, ucapan terima kasih saya ke kamu karena telah menolong saya waktu di parkiran, dan ketiga, karena kesalahan yang sudah saya perbuat kepada kamu," ujar Arash dengan tulus.
Putri masih menatap ponsel yang ada di tangan Arash, dia merasa taka membutuhkan pemberian dari pria itu.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bisa me--,"
"Halo, Ma. Putri gak mau menerima ponsel pemberian Arash sebagai ucapan rasa bersalah Arash. Gimana, Ma?" tanya Arash kepada orang yang ada di seberang panggilan.
"Eh, Iya. Saya terima," ujar Putri dan langsung mengambil ponsel yang ada di tangan Arash.
Arash tersenyum miring, padahal dia hanya spontan saja menghubungi Mama Kesya secara pura-pura, ternyata rencananya itu malah berhasil dengan mulus.
Tunggu, kenapa Putri sangat takut sekali jika sudah menyangkut tentang Mama Kesya?
"Jadi, kamu terima pemberian saya, kan?' tanya Arash.
"Iya, saya terima," jawab Putri dengan terpaksa. "Lain kali jangan bawa-bawa Tante Kesya dalam masalah kita," gerutu Putri.
"Kenapa?" Arash benar-benar penasaran akan hal tersebut.
"Saya hanya tidak ingin beliau mengetahui jika kita sering bertemu. Itu saja," jawab Putri.
Ya, bukannya Putri tak tahu, jika gelagat dari Mama Kesya seolah ingin menjodohkan dirinya dengan salah satu anak kembarnya itu. Maka dari itu, Putri berusaha sekeras mungkin agar Mama Kesya tak mengetahui jika dirinya sering bertemu dengan salah satu anaknya. Apa lagi Araash, yang sifatnya benar-benar tak Putri sukai. Sungguh berbeda dengan Abash yang terlihat cuek dengan wanita yang ada di sekitarnya.
"Baiklah," jawab Arash yang sebenarnya meyakini jika ada alasan lain yang di sembunyikan oleh Putri.
"Hmm, sudah," jawab Putri dengan malas.
"Hai, Kak Arash," sapa Luna, yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Kalian kenal?" tanya Putri.
"Kamu ini lupa atau bagaimana sih? Kan di rumah sakit udah aku bilang, kalau aku kenal sama seluruh keluarga Moza, termasuk ya Kak Arash ini," ujar Luna sambil terkekeh.
Putri pun mecoba mengingat kapan Luna mengatakan hal tersebut. Ah, ternyata saat dirinya di rawat di rumah sakit berbarengan dengan pria yang ada di hadapannya saat inni.
"Kalian habis belanja?" tanya Arash.
"Iya, kakak?" tanya LUna.
"Oh, baru ganti casing aja," jawab Arash sambil menunjukkan ponselnya. "Habis ini kalian mau ke mana?" tanya Arash.
__ADS_1
"Mau nonton, Kak. Kakak mau ikut?" tawar Luna yang mana membuat Putri menyikut lengan wanita itu.
"EMm, boleh. Mumpung lagi libur," kekeh Arash.
Putri langsung mendelikkan matanya kepada Luna, sedangkan gadis itu malah terkekeh geli melihat mata Putri yang menatapnya tajam.
"Ayo, Kak." ajak Luna yang sudah menggandeng tangan Putri.
"Sini, barang bawaannya saya bawa," pinta Arash yang sudah mengambil alih semua kantong plastik yang ada di lantai dan juga tangan Luna.
"Itu, kotak ponselnya jangan lupa ambil," ujar Arash sambil berlalu.
"Heran, stres ku rasa tuh orang," cibir Putri pelan yang mana membuat Luna terkekeh.
"Awas, jangan terlalu benci, ntar bucin loh," goda Luna.
"Kamu ih, ngapain juga ajakin dia nonton?" kesal Putri
"Ya gak papa. Biar ram dan makin seru aja, tau. Udah ah, yuk kita susul, ntar tiketnya kehabisan lagi."
Dengan terpaksa, Putri pun mengikuti Luna yang sudah menarik tubuhnya dengan paksa.
Dan, di sinilah dia. Duduk di antara Luna dan Arash. Jangan di tanya kenapa dia bisa berada di tengah-tengah mereka berdua, sudah menjadi suratan takdir yang harus dia jalani saat ini.
Film pun di putar, di mana sedang di tayangkan sebuah film romantis yang berasal dari barat. Putri dengan fokus menatap layar besar itu, karena filmnya sangat menarik bagi dirinya. Ada action dan juga kisah cinta yang rumit.
"Mau?" Arash menawari popcorn kepada Putri.
"Hmm? Ya, terima kasih," jawab Putri dan mengambil popcorn tersebut.
Putri kembali memfokuskan pandangannya ke layar besar, di mana film itu benar-benar sangat menarik perhatiannya.
Arash yang melihat wajah Putri terlihat serius pun, menyunggingkan sebuah senyuman yang dia sendiri tak menyadari akan hal itu. Tak ingin berlarut memandangi wajah PUtri, Arash pun ikut memfokuskan pandangannya ke arah layar besar tersebut.
Di tengah film, Putri yang sedang asyik mengambil popcorn pun, tanpa sengaja dan tak sadar mengambil jari Arash dan memasukkannya ke dalam mulut, sedangkan sang pemilik tangan hanya menatapnya dengan kening mengkerut, hingga kejadian yang sudah di prediksi oleh Arash, tetapi pria itu masih merasa ragu pun akhirnya terjadi.
Kraak ..
__ADS_1
"Awww... " ringin Arash saat jarinya di gigit oleh Putri.