
Sifa sudah terlihat sangat cantik sekali dengan gaun pesta pernikahannya. Gaun yang kembang, persis seperti apa yang ada di film-film kartun yang pernah dia tonton. Rambut yang di ikat terurai panjang di punggungnya, tak lupa ada hiasan bunga putih di setiap ikatan rambut hitamnya itu, membuat penampilan Sifa terlihat semakin elegan. Yang paling menarik dari hiasan bunga tersebut adalah, jika Sifa berada di tempat yang gelap atau redup, maka dari hiasan-hiasan bunga itu akan muncul cahaya, membuat penampilan Sifa semakin bersinar walaupun di tengah ruang yang minim cahaya. Hal itulah yang membuat Sifa tak sabar untuk muncul dihadapan semua orang yang sudah menunggunya. Sifa ingin menunjukkan hiasan bunga yang ada di rambutnya itu.
Sifa memandang kembali penampilannya di cermin. Wanita itu melihat dengan teliti bahu dna lehernya, apakah masih terlihat bekas merah hasil karya sang suami?
"Bagaimana? Tidak terlihat lagi, kan?" bisik perias yang mana membuat Sifa menoleh ke arahnya.
"Iya, Mbak. Gak terlihat lagi," jawab Sifa dengan tersenyum kecil. "Tapi, bagaimana jika saya berkeringat? Apa foundationnya akan luntur?"
Perias itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu tenang aja, foundation ini waterproof, sehingga tahan akan segala badai."
"Oh, begitu ya. Nanti bersihinnya gimana?" tanya Sifa lagi.
"Pakai remover atau baby oil juga bisa kok. Di usap-usap aja pakai kapas."
"Iya, baiklah kalau begitu, terima kasih banyak atas kerja kerasnya," ujar Sifa yang benar-benar puas dengan hsail karya tangan perias tersebut.
"Sama-sama. Saya juga merasa senang jika klien merasa puas."
Pihak dari petugas wedding organizer pun kembali masuk ke dalam kamar Sifa dan Abash, wanita itu memberitahu jika sudah waktunya Sifa dan Abash keluar.
Berhubung Abash bukan seorang perwira polisi seperti Arash, maka tentu saja tidak ada acara tradisi pedang pora, walaupun Sifa sangat menginginkan hal tersebut. Ya, siapa sih yang tidak menginginkan acara pesta pernikahannya di sambut dengan tradisi pedang pora? Seolah-olah para pengantin terlihat seperti dari bangsawan yang ada di cerita disney.
Sifa pun merangkul lengan sang suami, wanita itu berjalan pelan mengikuti arahan dari petugas wedding.
"Kamu sangat cantik sekali, sayang," bisik Abash saat mereka sedang berjalan menuju ballroom hotel.
"Kamu juga, Mas, kamu terlihat sangat tampan sekali."
"Itu karena kita adalah pasangan yang saling menyempurnakan satu sama lainnya."
Sifa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang Abash katakan adalah sebuah kebenaran.
Sifa membulatkan matanya, di saat melihat para sahabat baik dan saudara iparnya itu berdiri di samping karpet merah dengan keranjang kecil yang ada di tangan mereka masing-masing.
"Mas, ini?" lirih Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kejutan untuk kamu, sayang," bisik Abash dengan mesra.
Sifa tak bisa menahan rasa harunya. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca, di mana kelopak matanya sudah menjadi sebuah mendungan air mata. Sifa mencoba menahan air matanya sekuat tenaga, agar tidak merusak momen indah ini dengan air matanya. Ya, walaupun air matanya adalah air mata kebahagiaan. Tapi, tetap saja dia tidak ingin terlihat cengeng di hari pernikahannya.
Cukup Sifa menangis hingga sesenggukan saat prosesi sungkeman. Di mana yang menjadi pendamping keluarganya adalah Bunda Sasa dan Daddy Bara. Ya, Sifa menagis di dalam pelukan Mama Kesya, di saat Papa Arka dan Daddy Bara memberikan petuah kepada Abash. Andai saja Abash menyakiti Sifa, maka Papa Arka dan Daddy Bara meminta Abash untuk mengembalikan Sifa kepada mereka. Sifa memang bukan anakk kandung dari Papa Arka dan Daddy Bara, akan tetapi, gadis itu sudah menjadi bagian dari hidup kedua pria paruh baya tersebut.
Sifa semakin sesenggukan di dalam pelukan Abash, di saat Mama Kesya dan Bunda Sasa yang berbicara.
Mama Kesya mengatakan, walaupun Sifa tidak terlahir dari rahim wanita paruh baya itu. Tapi, Mama Kesya merasa jika Sifa tetaplah anugerah terindah yang diberikan oleh Allah. Sifa hadir di dalam hidup Mama Kesya, layaknya putri yang telah lama hilang. Di tubuh Sifa memang tidak mengalir darah Mama Kesya dan Papa Arka, akan tetapi, detak jantung Mama Kesya akan berdetak cepat jika Sifa berada di dekatnya. Layaknya detak jantung Mama Kesya yang berdetak untuk para anaknya.
Dan kata-kata terakhir Mama Kesya yang membuat Sifa semakin menangis adalah Mama Kesya berterima kasih kepada Sifa, karena sudah hadir ke dunia dan melengkapi kebahagiaan Mama Kesya yang menginginkan memiliki seorang anak perempuan lagi.
Sifa tidak tahu lagi, bagaimana cara dia mengungkapkan rasa bahagia dan terima kasih yang teramat sangat besar untuk Mama Kesya dan Papa Arka. Wanita itu sampai bersumpah, dia akan menuruti semua keinginan Mama kesya dan Papa Arka, apapun itu. Walaupun keinginan Mama Kesya meminta Sifa melepas impiannya, Sifa akan melakukan hal itu. Bagi Sifa, di terima di dalam keluarga Moza, lebih berharga dari impiannya.
Abash mengusap punggung tangan Sifa dengan lembut, menenangkan perasaan wanita itu yang ingin menangis.
"Lepaskan saja, sayang," bisik Abash.
Sifa menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Abash untuk melepaskan air matanya. Tidak, Sifa tidak ingin terlihat cengeng.
Tapi, seberapa besar usaha Sifa untuk menahan air matanya dan berkata tidak, tetap saja wanita itu tidak bisa menahan air matanya yang mengalir dengan mulus dan sempurna membasahi pipinya.
"Sungguh sangat indah sekali, Mas," lirih Sifa.
Quin, Anggel, Kayla, Raysa, Nafi, Naya, Luna, Zia, Putri, Arash, Veer, Abi, Bang Fatih, Kak Zein, Kak Lana, Martin dan yang lainnya pun berdiri di samping karpet merah pada sisi kiri dan kanan. Mereka melemarkan kelopak bunga berwarna merah, kuning, pink, dan putih ke udara, di saat Abash dan Sifa melewati karpet merah tersebut.
"Karena kamu pantas mendapatkan ke indahan dan keistimewaan ini, sayang," ujar Abash yang mana membuat Sifa kembali merasa terharu.
"Terima kasih banyak, Mas," lirih Sifa. Sifa pun menoleh ke arah para sahabat dan kakak iparnya itu. "Terima kasih banyak," lirihnya dengan gerakan bibir.
Setelah acara karpet merah selesai, Sifa dan Abash pun di minta untuk berdansa.
"Mas, aku tidak berdansa," lirih Sifa gugup.
"Tenang saja, sayang. Ikuti saja pergerakanku."
__ADS_1
Sifa mengangguk dan mempercayai sang suami, jika Abash tidak akan pernah membuatnya merasa malu. Sifa pun mengikuti pergerakan kaki Abash, mengikuti alunan musik yang terdengar sangat indah sekali. Sifa tersenyum malu, karena Abash terus saja memandang ke arahnya.
"Kenapa lihat aku seperti itu, Mas?" tanya Sifa kepada sang suami.
"Karena kamu sangat cantik sekali, sayang."
Para tamu undangan yang datang pun merasa takjub, di saat melihat hiasan rambut Sifa yang mengeluarkan cahaya di saat lampu di redupkan kala mereka berdansa, membuat penampilan gadis itu semakin terlihat menakjubkan.
Satu persatu para pasangan pun ikut turun ke lantai dansa, menemani Abash dan Sifa yang sedang berdansa.
"Mau berdansa, sayang?" ajak Arash kepada Putri.
"Tentu."
Zia tersenyum, di saat melihat sang kakak terlihat sangat bahagia pada malam ini.
"Apa?" tanya Bara kepada sang adik, di saat Zia menatapnya dengan tatapan manja.
Zia mengernjapkan matanya dengan menggoda, memberi kode kepada sang kakak untuk mengajaknya berdansa.
"Maaf, adikku tersayang, kali ini Mas kamu yang tampan ini tidak bisa berdansa dengan kamu," ujar Bara sambil mengedipkan matanya sebelah.
Zia mengernyitkan keningnya, gadis itu pun mengikuti ke arah mana sang abang pergi.
"Siapa gadis itu?' lirih Zia, di saat melihat seorang gadis cantik dan ayu yang di samperin oleh Bara.
Zia menghela napasnya pelan, mungkin inilah saatnya sang kakak bertemu dengan gadis pujaan hatinya.
"Mau berdansa?"
Zia menoleh ke arah pria yang berada di sampingnya. Gadis itu mengenal bentul siapa pria itu. Ya, dia adalah Ibra, adik dari Raysa yang berprofesi sebagai seorang tentara.
Zia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tentu."
Zia dan Ibra pun ikut bergabung di lantai dansa. Tubuh mereka bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti irama musik.
__ADS_1
"Oke, mari kita mulai permainan dansanya," ujar MC dan memutar musik dengan alunan yang berbeda dari sebelumnya.
"Ini?" gumam Zia yang paham ke mana permainan dansa tersebut.