Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 409


__ADS_3

Abash dan Sifa baru saja sampai ke hotel. Tubuh keduanya merasa lelah karena seharian ini terus saja melakukan kegiatan tanpa beristirahat. Sifa juga merasa kakinya terasa pegal, karena berjalan dengan menggunakan high heels di saat tubuhnya terasa kelelahan. Bagaimana tidak, seharian ini mereka benar-benar melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Dari bercinta dan meluapkan segala perasaan yang ada di dalam hati, hingga berolah raga di air hingga baju mereka pun basah. Tentu saja tenaga Abash dan Sifa benar-benar terkuras, kan?


Sifa langsung mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur, di saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar. Wanita itu langsung melepas high heelsnya yang sedari tadi menyiksa telapak kaki dan betisnya. Ahh, rasanya sungguh lega sekali di saat kaki Sifa yang tak beralas itu menapak di lantai yang datar.


"Huuff, leganya," lirih Sifa pelan dengan kepala yang terdongak ke atas.


"Capek?" tanya Abash. Pria itu pun menghampiri sang istri dan duduk tepat di samping Sifa.


Sifa menegakkan duduknya dan menoleh ke arah sang suami. "Hmm, lumayan, Mas. Kaki aku rasanya pegal karena harus memakai high heels," jawab Sifa dengan jujur.


Abash melihat ke arah kaki sang istri. "Mau aku pijitin?" tawar Abash. Abash dapat membayangkan bagaimana rasa pegal pada kaki Sifa saat ini. Di tambah lagi, kaki wanita itu penuh dengan parutan bekas luka. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa kaki Sifa bisa pegal?


Jujur saja, tawaran Abash untuk membantu Sifa mengurut kakinya benar-benar murni hanya ingin membuat sang istri merasa enakan. Abash tidak berniat untuk melakukan hal yang lain, karena dia merasa tidak tega jika harus membuat Sifa kelelahan lagi. Lagi pula, seharian ini mereka benar-benar menguras tenaga untuk bersenang-senang kan?


"Yakin cuma pijitin? Ntar ada yang lain, lagi?" tanya Sifa sambil menatap menggoda ke arah sang suami.


Boleh kan Sifa merasa curiga kepada sang suami? Karena biasanya alasan memijit selalu digunakan untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih dalam. Ya, setidaknya itulah yang ketahui dari para tetua dan senior, di saat mereka sedang memberikan pelajaran dan masukan kepada Sifa.


"Iya, yakin," jawab Abash penuh dengan keyakinan.


Ya, Abash tidak akan meminta yang lainnya. Pria itu benar-benar akan memijit sang istri saja. Beneran, Abash janji tidak akan meminta hal yang lebih dalam. Ya, walaupun sebenarnya pria itu menginginkan hal tersebut, tapi tetap saja Abash akan memegang teguh janjinya. Kalian percaya kan, readers?


"Ayo, buruan ganti baju, biar langsung tidur pas di pijitin," titah Abash kepada sang istri.


"Memangnya Mas bisa mijit? Mas kan gak bisa mijit," ledek Sifa yang berlum terlihat bergerak dari tempat duduknya.


"Istri aku pintar mijit, masa aku gak bisa, siih. Pasti bisalah. Ayo buruan, sebelum aku berubah pikiran loh ini. Lagi pula aku kan bisa tanya sama kamu bagaimana caranya," ujar Abash yang mana membuat Sifa langsung bergegas untuk berganti pakaian.


"Baiklah Mas, jika Mas memaksa, tunggu sebentar." Sifa pun mengambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.


Ya, banyak hal yang harus Sifa bersihkan pada tubuhnya. Terutama bagian leher yang penuh dengan foundation. Sifa harus membersihkan semua foundation itu agar bisa tidur dengan lebih nyaman.


Sifa pun masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakainnya dengan baju piyama tidur berkancing depan dan bawahannya sebuah celana panjang. Sifa tidak pede jika harus memakai pakaian yang terbuka, di tambah lagi kakinya memilih cacat yang cukup besar.


Loh, kenapa sih Sifa selalu mengganti pakaian di kamar mandi? Kenapa gak di depan Abash saja? Sebenarnya bisa aja sih Sifa mengganti pakaian di depan Abash, tetapi wanita itu masih merasa malu. Apa lagi dengan bentuk kulit tubuhnya yang terbilang tidak sesempurna orang biasa pada umumnya. Entah kapan Sifa akan berani mengganti pakaian di depan Abash. Padahal dia sudah berpenampilan tanpa busana di hadapan sang suami dan Abash sudah melihat tubuhnya berkali-kali, bahkan Abash juga sudah melihat parutan luka Sifa berkali-kali juga kan. Tapi, tetap saja Sifa merasa malu dan tidak pede. Walaupun Abash tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.


Tak berapa lama wanita itu keluar dari dalam kamar mandi dan melihat jika Abash juga sudah berganti pakaian dengan kaos oblong yang longgar di tubuh pria itu dan juga celana pendek yang hanya menutupi sebagian pahanya saja. Memamerkan paha berotot Abash yang menggoda.


"Ayo, sini berbaring," titah Abash sambil menepuk tempat tidur tepat di sebelahnya.


Sifa dapat melihat, jika di tangan Abash sudah terdapat minyak zaitun yang selalu dia bawa ke mana pun pergi. Sifa pun berjalan menghampiri sang suami dan naik ke atas tempat tidur, kemudian dia berbaring di atas tempat tidur dengan posisi yang terlentang.  Abash pun mulai menuangkan minyak zaitun ke atas telapak tangannya, kemudian membaluri minyak tersebut ke telapak kaki Sifa sambil mengusap-usapnya dengan pelan


"Gimana, enak kan?" tanya Abash sambil mengusap-usap pelan telapak kaki sang istri, berharap Sifa merasakan kenikmatan pijitan tangannya.


"Mas, yang ada kaki aku bukannya hilang pegalnya, tapi malah makin pegel dan kegelian, Mas," kekeh Sifa pelan sambil menahan rasa geli pada kakinya.


"Loh, memangnya kenapa? Salah ya cara aku urutnya?" tanya Abash.


"Iya salah, Mas. seharusnya di tekan-tekan gitu loh," jawab Sifa. "Di pijit-pijit."


"Di tekan-tekan begini?" tanya Abash sambil mempraktekkannya di betis Sifa hingga sampai ke paha sang istri.


"Iya, Mas. Duh, kalau di tekan-tekan begini kan rasanya enak, Mas," ujar Sifa yang merasa jika pijitan sang suami cukup lumayan.

__ADS_1


"Jadi aku tekan-tekan begini aja?" tanya Abash memastikan sambil terus menekan-nekan kaki Sifa dari betis hingga ke paha.


"Huum, iya, Mas. Pijit di telapak kakinya juga, Mas, tolong," pinta Sifa kepada sang suami.


"Baiklah." Abash pun kembali memijit kaki Sifa dari telapak kaki hingga ke betis wanita itu. "Jadi, gunanya minyak zaitun apa, dong? Kalau di tekan-tekan begini kan tidak memerlukan minyak zaitun? Lagi pula, biasanya aku melihat kamu kalau mau mijit, selalu pakai minyak zaitun," tanya Abash.


"Iya, Mas. Itu kalau cara mijitnya dengan cara di urut. Tapi ini kan di pijit," jawab Sifa.


"Memangnya berbeda, ya?" tanya Abash lagi yang merasa tidak paham dengan maksud yang dikatakan oleh sang istri.


"Ya beda dong, Mas."


"Kayaknya sama aja, deh. Sama-sama menggunakan tenaga," sahut Abash lagi.


Sifa pun bangkit dari tidurnya, sehingga membuat Abash menghentikan pergerakan tangannya memijit kaki sang istri. Kemudian wanita itu menarik kaki Abash dan memberikan contoh kepada sang suami yang mana yang namanya di pijit dan di urut. Karena dua hal itu menurut Sifa adalah dua hal yang berbeda.


"Kalau ini namanya dipijit, Mas," ujar Sifa memberitahu sambil menekan-nekan atau memjijit paha Abash. "Enak, kan?"


Ya, tentu saja enak. Secara Sifa kan memang bisa pijit. Tapi, entah mengapa telapak tangan Sifa yang sedikit hangat membuat darah Abash berdesir.


"Ya enak lah, Dek,  kan kamu memang bisa mijit," sahut Abash sambil menahan rasa yang mulai bangkit.


"Nah, kalau ini namanya di urut, Mas," ujar Sifa sambil menuang minyak zaitun ke telapak tangannya, kemudian mulai mengusap paha Abash yang sedikit ditumbuhi bulu dengan cara menaik turunkan tangannya dengan gerakan menekan kulit daging paha Abash.


Abash menggeram pelan, di saat sentuhan tangan Sifa malah semakin membangunkan sesuatu di balik celananya. Membuat Abash menginginkan sesuatu yang nikmat bersama Abash. Ya, katakanlah jika Abash ingin jagoannya juga di pijit oleh Sifa.


"Enak kan, Mas?" tanya Sifa kepada sang suami.


"Sekarang sudah tahu kan bedanya? Yang mana di pijit dan yang mana di urut?" tanya Sifa lagi.


"Hmm, iya, sayang," jawab Abash lagi sambil menggeram pelan dengan nikmat da menahan sesuatu yang terus bergerak dan semakin membesar tinggi.


Sifa pun menengadahkan pandangannya, kemudian menatap ke arah sang suami yang saat ini sudah menatapnya dengan sayu. Wanita itu merasa curiga dengan nada suara Abash yang berbeda.


"Mas kenapa?" tanya Sifa dengan suara yang pelan.


Sebenarnya Sifa sudah dapat menduga, jika ekspresi sang suami saat ini pasti sedang kepingin bercinta dengannya. Jika benar apa yang Sifa duga, tenyata teori yang diajarkan oleh para tetua dan suhu ada benarnya.


"Tangan kamu membuat dia bangun, sayang," cicit Abash pelan sambil menunjuk ke arah jagoannya.


Sifa mengulum bibirnya, kemudian wanita itu perlahan mendekat ke arah sang suami dan berbisik dengan menggoda.


"Apa dia butuh di pijat juga, Mas?" bisik Sifa yang mana membuat Abash semakin tergoda dan menegang.


Di tambah lagi tangan Sifa mulai meraba-raba pangkal pahanya, membuat darah Abash semakin berdesir dengan hebat dan meminta untuk di puaskan.


"Apa boleh?" tanya Abash meminta izin kepada sang suami.


"Tentu saja, Mas, karena aku ini milik kamu," bisik Sifa dengan menggoda.


Tak perlu waktu lama, langsung saja Abash menyambar bibir sang istri dan mencecapnya dengan menggoda.


Sepertinya Abash tidak bisa menepati janjinya malam ini, karena gairah yang tidak bisa pria itu tahan lagi dan minta di puaskan. Apa lagi, jagoannya sudah bisa menaklukkan nyai-nya Sifa.

__ADS_1


*


"Sarapan di mana kita pagi ini, Mas?" tanya Sifa yang sudah bersiap untuk pergi.


"Emm, kita lihat-lihat saja dulu di warung yang dekat-dekat sini, ya?" saran Abash.


"Oke, cintaku," jawab Sifa mematuhi apa yang dikatakan dan di rencanakan oleh sang suami.


"Ayo," ajak Abash sambil mengulurkan tangannya untuk Sifa genggam.


Sepanjang dari keluar kamar hingga masuk ke dalam lift, Abash dan Sifa masih terus bergandengan tangan, sehingga membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa iri sekali.


Sifa dan Abash pun keluar dari dalam lift, mereka pun masih melenggang dengan tangan yang saling bertautan. Mereka tidak peduli dengan orang-orang yang memandang iri kepada mereka. Toh, setiap orang kan berhak untuk menggandeng istrinya dengan mesra? Halal juga kan? Yang gak berhak itu adalah menunjukkan kemesraaan di depan umum dengan orang yang bukan muhrimnya, apa lagi hubungannya belum di halalkan secara agama dan negara. Itu baru yang gak boleh, dosa juga kan jadinya.


"Pak Abash," tegur seorang wanita yang mana membuat Sifa dan Abash menghentikan langkahnya.


Abash dan Sifa pun serentak menoleh ke arah orang yang baru saja menegur salah satu dari mereka. Kening Abash pun langsung mengerut dengan sempurna, di saat mengenali siapa wanita yang telah menghentikan langkahnya dengan sang istri.


"Nona Nola?" lirih Abash yang mana membuat Nola tersenyum dengan lebar.


Ya, Nola sangat bahagia sekali, karena ternyata Abash masih mengingat wajah dan namanya. Dalam pikiran Nola, wajar saja sih jika Abash mengenal dirinya, karena dia itu cantik dan tidak bisa terlupakan. Padahal kenyataannya, Abash mengingat nama Nola karena menghargai Pak Bobbi yang sebagai klien bisnisnya, itu saja, tidak lebih.


Dan jika Abash tidak tertarik dengannya, mana mungkin pria itu dengan mudah mengingatnya dengan penampilan yang sedikit berbeda dari semalam. Ya, kali ini Nola sengaja berpenampilan sedikit sederhana, karena melihat jika Sifa berpenampilan dengan sederhana tadi malam. Maksudnya make up wanita itu yang terbilang tipis. Maka dari itu, Nola mencoba dengan penampilan barunya yang sedikit mirip Sifa. Eh, bukan berarti Nola ingin ikut-ikutan meniru gaya Sifa, ya. Tidak, bukan karena itu. Tapi, ya karena memang Nola ingin menunjukkan kecantikan alaminya kepada Abash. Mana tau kan, kalau Abash sudah melihat kecantikan alami pada dirinya, bisa jadi pria itu terpikat dengan kecantikan Nola. Ya, itu sih harapan Nola.


"Pak Abash, seperti janji saya kemarin, kalau saya akan memberikan hadiah untuk anda," ujar Nola sambil menjulurkan papar bag berukuran kecil kepada Abash.


"Ah, kenapa repot-repot sih, Nona Nola. Seharusnya Anda tidak perlu memberikan hadiah segala," ujar Abash. "Tapi, kenapa harus Anda yang mengantarkannya? Kenapa tidak menyuruh pegawai anda saja?" tanya Abash.


Ingin rasanya menolak, tapi dia takut jika Nola merasa tersinggung. Untuk itu, Abash pun terpaksa menerimanya.


"Tidak apa-apa, Pak Abash. Lagi pula anda ini kan adalah kolega papa saya. Jadi, sudah sewajarnya jika saya harus bersikap baik." ujar Nola dengan tersenyum manis. "Lagi pula, Pak Abash ini kolega terbaik papa saya, tentu saja harus di perlakukan dengan spesial.


Lagi-lagi alasan yang digunakan oleh Nola adalah kolega papanya. Padahal Abash tidak juga terlalu peduli akan hal itu.


Abash pun hanya tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Nola. Sebenarnya pria itu sudah tahu maksud dari Nola, jika wanita itu terang-terangan seolah menyatakan jika dia tertarik kepada Abash. Tapi ya mau bagaimana lagi, Abash sudah memiliki Sifa di dalam hatinya. Dan itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Usaha Nola akan menjadi usaha yang sangat sia-sia.


"Ah ya, Pak Abash mau ke mana?" tanya Nola yang sedari awal terus mengabaikan keberadaan Sifa.


"Kami kebetulan mau cari sarapan," jawab Abash sopan.


"Kebetulan sekali. Saya tahu di mana tempat yang enak. Dan ya, saya juga belum sarapan. Bagaimana kalau kita sarapan bersama?" tawar Nola.


"Maaf, tapi saya hanya ingin berdua dengan istri saya saja," tolak Abash dengan kata-kata yang jelas.


"Ayolah, anggap saja ini salam perkenalan dari saya. Mau kan Nyonya?" ajak Nola kepada Sifa.


"Hmm? I-itu, saya terse---"


"Nah, Nyonya saja sudah setuju, ayo." Tanpa izin dan aba-aba, Nola pun menarik tangan Sifa dan mengajaknya berjalan bersama.


Abash merasa geram, tapi dia tetap menahan amarahnya demi menjaga hubungan yang terjalin baik dengan Pak Bobbi. Andai saja wanita itu bukan anak Pak Bobbi, mungkin saat ini Abash sudah menendangnya sejauh mungkin.


Abash melirik ke arah Sifa, wanita itu pun memberikan kode jika tak masalah Nola ingin ikut sarapan bersama. Lagi pula hanya sarapan saja, kan? Ya, tidak masalah lah.

__ADS_1


__ADS_2