
"Sifa," Panggil Abash saat mereka berada di baseman.
"Ya, Pak?"
"Ini, untuk kamu." Abash memberikan paperbag berukuran sedang kepada Sifa.
"Apa ini, Pak?"
"Buka di rumah, jangan di sini. Sudah ya, saya duluan." Abash berjalan terburu-buru menuju parkiran mobilnya.
Sifa mengerutkan keningnya melihat punggung Abash, kemudian ia kembali melihat kearah paperbag yang ada ditangannya.
"Apaan sih ni?" lirih Sifa dan mengintip kedalamnya.
Sifa membelalakkan matanya saat melihat isinya adalah steak. Cukup tahu dari bungkus dan aromanya saja, Sifa sudah menebak jika itu sebuah daging.
"Tumben banget baik? Eh, tapi emang baik kayaknya," cicit Sifa dan memasukkan paperbag tersebut kedalam keranjang sepedanya.
Sesampainya dirumah, Sifa langsung menikmati steak yang diberikan oleh Abash.
"Eem, enaaakk ...," serunya.
*
Abash menggaruk alisnya, dia bingung kenapa harus memesan dua paket steak daging dan kenapa juga dia harus memberikanya kepada Sifa.
"Ah ya, ini karena aku merasa kasihan dengannya. Yaa, tentu saja. Bagaimana bisa dia tumbuh kuat jika tak makan makanan yang bergizi. Sayur bergizi sih, tapi ya gak sayur-sayur terusan kan?" monolog Abash berbicara dengan dirinya sendiri.
Abash menghentikan mobilnya, entah kenapa Abash merasa ingin memastikan Sifa untuk pulang dengan selamat. Apa lagi malam ini sepertinya akan hujan. Abash tak ingin kejadian seperti saat itu terulang kembali.
Maraknya penjualan secara bebas minuman beralkohol, membuat kejahatan semakin merajalela. Mereka selalu beralasan tak sadar melakukan hal tersebut. Lalu? saat mereka meminumnya, bukankah mereka dalam keadaan sadar? Abash merasa kesal saja melihat kejahatan yang ada saat ini.
Sebenarnya, Abash merasa kasihan dengan sang kembaran yang harus menghadapi bahaya setiap dia berpatroli.
Abash mulai memfokuskan pandangannya saat melihat Sifa tengah mendayung sepedanya. Tanpa Abashbsadaei, sudut bibir Abash terangkat membentuk sebuah senyuman.
Mungkin Abash merasa salut dengan Sifa yang berjuang untuk biaya kuliahnya. Lagi pula, Abash sudah mengetahui perihal tentang dicabutnya beasiswa Sifa. Menurut Abash, itu hanya sebuah kesalahpahaman. Namun, bagi seorang Sifa, tentu saja sulit untuk memperjuangkan hal tersebut karena lawannya adalah orang berada.
Lagi, Abash melihat ketidakadilan di sini. Untuk itulah, Abash menerima Sifa sebagai anak magang dikantornya. Apalagi, Sifa sangat berbakat.
Setelah memastikan Sifa pulang dengan selamat, Abash pun melajukan mobilnya menuju apartemennya. Malam ini ada yang harus Abash kerjakan, untuk itu Abash memerlukan waktu untuk menyendiri.
__ADS_1
*
Sifa mematuk penampilannya dicermin. Hari ini dia akan melakukan wawancara untuk masa magangnya.
"Oke Sifa, kamu pasti bisa." seru Sifa kepada dirinya sendiri. "Semangat."
Sifa tersenyum kepada satpam yang bertugas. "Loh, tumben rapi amat, Sifa?" tanya satpam bernama Yono tersebut.
"Iya, Pak. Mau wawancara."
"Wawancara? ah, wawancara untuk anak magang?" tanya Yono dengan nada yang sedikit tinggi, sehingga mengambil atensi beberapa karyawan lain.
Sifa merasa tak enak dengan pandangan yang diberikan oleh para karyawan tersebut. Sifa sangat tahu, jika perusahaan ini tak menerima karyawan magang sepertinya.
Sifa mulai melihat beberapa karyawan mulai berbisik sambil melihat terang-terangan kepada Sifa.
"Nona Sifa?" ujar pria yang baru saja datang dan menghampiri dirinya dan satpam.
"Iya, saya." Sifa mengenal pria tersebut. Dia adalah sekretaris sang bos.
Sifa pun diberikan tanda pengenal sebagai tamu yang masuk ke perusahaan Abash, kemudian Sifa mengikuti langkah dari sekretaris Abash yang telah berajlan didepannya.
"Silahkan masuk, duduklah." ujar sekretaris Abash.
Sifa pun duduk disebuah kursi yang telah disediakan.
"Baiklah, apa kamu sudah siap untuk diwawancara?" tanya seorang pria paruh baya.
Tak tahu saja Sifa, jika yang sedang berbicra itu adalah Papa Fadil, yang mewakili Papa Arka. Ya, di ruangrapat ini hadir Papa Fadil, Papa Arka, dan juga beberapa IT diperusahaan Abash.
Sebenarnya kehadiran Papa Arka tidak disengaja. Beliau hanya ingin mengunjungi sang putra, namun siapa sangka jika Papa Arka ikut disertakan oleh Abash untuk mewawancara seorang anak magang.
SEORANG ANAK MAGANG.
itu seharusnya bukan hal yang penting yang harus Papa Arka hadiri, namun, mendengar cerita dari Abash, jika SIfa memiliki kemampuan yang luar biasa, Papa Arka tertaik dan ingin melihat kemampuan dari gadis yang bernama Sifa tersebut.
"Saya siap," ujar Sifa tanpa ragu.
Abash memberi kode kepada seorang IT untuk memberikan sebuah data coding yang harus diperbaiki oleh Sifa.
Tanpa bertanya dan disuruh untuk kedua kali, Sifa langsung saja mengerjakan program tersebut dan melengkapi coding yang beberapa sudah dihapus dan disalahkan oleh Abash.
__ADS_1
Semua orang yang ada didalam ruangan tersebut pun mulai merasa kagum kepda Sifa. Sifa mampu memperbaiki program tersebut hanya dalam waktu 15 menit.
Memang, bukan sesuatu yang sulit, hanya daja jika kita memangn tak engerti dan tak paham Tetap saja tak tahu ap ayang harus diperbaiki.
Sifa pun diberi beberapa pertanyaan seputar It, dengan lugas dan tanpa gugup, Sifa menjawabnya.
Papa Arka kagum dengan Sifa, walaupun masi semester tengah, namun Sifa sudah mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Dapat Papa Arka lihat jika Sifa memiliki kemampuan yang sangat bagus. Sayang sekali jika tak digunakan dengan baik. Beruntung SIfa karena Abash mau menerima Sifa sebagai anak magang dikantornya.
Padahal Papa Arka tahu, jika Abash tak menerima anak magang untuk bekerja diperusahaannya.
Papa Arka pun akhirnya mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Bahwa Abash menerima Sifa karena kemampuannya. Entah Sifa yang beruntung bisa diterima diperusahaan Abash, atau karena Abash yang beruntung menemukan berlian seperti Sifa.
Berlian dalam kata arti, orang yang cerdas dan pintar.
*
"Huuf, rame banget yang ngujinya ya, Mas." ujar Sifa kepada Sekretaris Abash.
"Kebetulan Bos Besar datang."
"Hah? BOs besar? Siapa? yang mana?" tanya Sifa yang memang tak mengetahui bagaimana rupa Papa Arka, si pemilik perusahaan raksasa bernama group Moza.
"Lah, masa kamu gak tau Tuan Arka sih? orang tuanya pak Bos?"
"Hah? beneran ada tadi? yang mana? sumpah, aku gak tahu loh, Mas," ujar Sifa yang memang sama sekali tak mengetahui rupa papa rka. bahkan seluruh keluarganya. Itu semua karena Sifa memang tak memilki rasa keingin tahuannya terhadap seluruh anggota keluarga bosnya.
Lagian, untuk apa juga coba? Selama ini Sifa selalu bersikap sopan kepada siapapun. Bahkan, mengetahui identitas mereka pun, bisa membuat Sifa merasa gugup, takut, dan malah membuat kesalahan karena grogi.
"Masa sih kamu gak tahu yang mana bos besar?" ujar sekretaris Abash.
"Serius, aku gak tau,"
Tanpa mereka ketahui, jika percakapan mereka didenagr oleh Papa Arka dan juga Abash.
"Masih ada orang yang gak eknal gue?" ujar Papa Arka sambil terkekeh.
"Sama bos-nya sendiri aja tuh cewek gak kenal, Pa." uajr Abash yang mana membuat Papa Arka penasaran dengan gadis yang bernama Sifa.
\=\= Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari ABASH dan ARASH
__ADS_1