Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 416


__ADS_3

Arash baru saja memarkirkan mobilnya di parkirkan, tepat di saat Sifa baru saja turun dari mobil.


"Mas, itu mobilnya Mas Arash, kan?" tanya Sifa kepada sang suami.


"Iya."


Abash pun merangkul sang istri sambil menunggu sang kembaran turun dari mobilnya.


"Loh, Bash?" sapa Arash sedikit terkejut, di saat melihat sang kembaran ada di depannya.


"Tumben ke sini? Sama siapa?" tanya Abash dan melihat ke arah belakang Arash, di mana ada Zia dan Putri yang baru saja turun dari mobil.


"Hai," sapa Putri kepada Sifa.


'Wah, sudah kelihatan sangat besar, ya?" Sifa pun mendekati Putri, kemudian mengusap lembut perut buncit dari iparnya itu.


"Semoga cepat nular, ya?" goda Putri sambil tersenyum manis.


Sebenarnya Putri tahu, jika Sifa sedang menunda kehamilan. Tapi, gadis itu pernah menangis di depan Putri, di saat acara tujuh bulanan kehamilannya. Awalnya Sifa menangis sendirian, menyimpan kesedihannya tanpa ingin seorang pun tahu apa yang dia rasakan, hingga Putri menghampiri Sifa dan memeluknya.


Putri sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh Sifa. Di umurnya yang masih muda, di tambah lagi dia baru saja meraih semua impian yang selama ini di perjuangkannya dengan susah payah.


Tak mudah bagi Sifa untuk melepas karirnya, karena untuk meraih karirnya sampai di titik ini, dan tak mudah juga bagi Sifa untuk memutuskan menunda kehamilan. Syukurlah sang suami memahami apa yang Sifa rasakan, beruntungnya lagi Sifa memiliki keluarga yang mendukung segala keputusan dan karir yang sedang Sifa jalani saat ini.


Tidak mudah sebenarnya mengambil keputusan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Sifa. Memang, dia memiliki suami yang mampu membiayai segala kebutuhan hidupnya. Tapi, Sifa juga memiliki mimpikan di saat sebelum bersama Abash.


Intinya, Sifa juga tidak merasa bahagia dengan keputusannya yang menunda kehamilan.


Pernah wanita itu berpikir untuk tidak lagi meminum pil KB, tapi dia kembali memikirkan jika Abash harus menanggung semua biaya pinalti yang harus di bayar oleh Sifa, karena telah melanggar kontrak perjanjian kerja, di mana dirinya tidak boleh hamil selama lima tahun di awal kerja.


Kesedihan itu Sifa pendam sendirian. Setiap malam dia menangis dan merindukan sesuatu yang juga tumbuh dari rahimnya. Sifa benar-benar merasa bersalah terhadap calon anaknya, suami, dan keluarga Moza. Ya, Sifa benar-benar merasa sangat bersalah.


Kesedihan itu Sifa sembunyikan sendirian, berharap tidak ada seorang pun yang tahu jika dirinya bersedih. Tapi, Sifa tidak pernah tahu, jika seluruh keluarga tahu apa yang dirasakan oleh wanita itu.


Mungkin Sifa bisa bersembunyi dan menangis agar tidak diketahui oleh orang lain, tapi Sifa lupa, jika mata sembab dan raut wajah kesedihan yang wanita itu rasakan tidak bisa dia sembunyikan, walaupun Sifa menunjukkan tawanya.


"Eh, gerak dia," kejut Sifa, di saat merasakan pergerakan calon bayi yang ada di dalam perut Putri.


Lagi, mata Sifa kembali berkaca-kaca di saat merindukan moment itu hadir di dalam perutnya. Tapi kapan? Sedangkan dirinya saja masih mengkonsumsi pil KB.


"Kita masuk ke dalam aja, yuk, biar ngobrolnya tambah seru," ajak Arash yang diangguki oleh semuanya.


"Mas," tegur Zia saat berpas-pasan dengan Abash.


"Ya, kapan kembali ke sini?" tanya Abash.

__ADS_1


"Kemarin, Mas."


Abash pun mempersilahkan Zia, Sifa, dan Putri untuk berjalan duluan masuk ke dalam cafe.


Arash memilih tempat yang nyaman untuk mereka duduki, di sebuah gazebo yang di bawahnya terdapat air dan ikan emas hias.


"Sepertinya banyak perubahan ya, Mbak?" ujar Zia melihat dekorasi cafe tersebut.


"Iya."


"Kalian pernah ke mari?" tanya Abash penasaran.


"Huum, dulu sekali," jawab Putri.


Pelayan yang sudah mengenal siapa Abash ddan Arash pun langsung saja menyajikan air mineral dan beberapa cemilan, seperti peyek dan kerupuk.


Arash pun mengambil sebotol air mineral dan membuka tutup botolnya.


Putri pun bercerita, kenapa mereka sering berkunjung di cafe. Alasan yang pertama adalah karena makanan yang enak dan minuman jus yang benar-benar terbuat dari buah yang masih segar. Alasan lainnya adalah dekorasi dan tempatnya yang adem. Itulah yang membuat Putri, Zia dan Bara betah selalu berkunjung ke greenday.


"Oh ya, dulu kami pernah menonton live musik di sini. Terus, ada seorang pria yang pernah sempat menolong Zia. Pria itu terbilang sangat tampan, walaupun hanya sebatas matanya saja," kekeh Putri menggoda sang adik.


"Mbaak .." tegur Zia sambil dengan mata yang melotot.


"Kalian tahu, saat itu Zia sedang flu. Dia terus saja bersin-bersin hingga mengeluarkan ingus," kekeh Putri.


"Oke-oke, Mbak agak melanjutkannya lagi," ujar Putri.


"Tapi nanggung banget, sayang. Mbak lanjutin ya?" izin Putri yang di jawab gelengan oleh Zia.


"Lanjutin aja, penasaran. Apakah Zia menemukan seorang pria seperti apa yang ada di dalam cerita dongeng?" goda Sifa pula.


"Oh tentu saja, Zia bertemu dengan seorang pangeran dan memberikannya sebuah sapu tangan," ujar Putri.


"Benarkah? Apa pria itu tampan Zia?" tanya Sifa merasa penasaran.


"Sayangnya kami tidak mengetahui siapa pria itu, karena dia menggunakan masker," ujar Putri dengan sendu.


"Mbak, udah deh," tegur Zia dengan wajah yang merona.


"Yah, sayang sekali," lirih Sifa.


"Tapi, asal kamu tahu saja, Fa. Sampai saat ini Zia masih menyimpan sapu tangan tersebut. Zia berharap, jika suatu saat dia akan berjodoh dengan pria yang memberikan sapu tangan tersebut."


"Mbak--"

__ADS_1


Byurrr ....


Arash menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya, sehingga membuat pria itu terbatuk.


"Sayang, kenapa?" tanya Putri dan mengulurkan tisu kepada Arash. "Minumnya pelan-pelan, dong."


Putri pun mengelap bibir sang suami yang basah.


"Iya, sepertinya aku terburu-buru saat minum karena merasa kehausan," ujar Arash dan melirik ke arah sang istri.


"Makanya, hati-hati dong minumnya, sayang."


Pelayan pun datang membawakan makanan yang sudah di pesan oleh Arash dan Abash.


"Terima kasih, Mbak," ujar Sifa dan mengambil menu makanan yang sudah tersaji tersebut.


"Ayo kita makan, wanginya benar-benar mengunggah selera," ajak Sifa yang diangguki oleh semuanya.


"Makannya pelan-pelan ya, sayang, biar gak keselek lagi," ujar Putri mengingatkan kepada sang suami.


"Iya, sayang."


Diam-diam, Arash melirik ke arah Zia, di mana gadis itu tengah menikmati makanan yang ada di hadapannya.


"Jadi, gadis yang waktu itu?" batin Arash dan menutup matanya sejenak.


"Ini benar-benar enak. Rasanya masih sama seperti yang dulu ya, Mbak?" ujar Zia yang kembali mengambil alih perhatian Arash.


"Iya, kamu benar. bebek panggang ini benar-benar enak."


"Boleh aku cicipi?" pinta Sifa yang merasa penasaran dengan rasanya.


"Tentu saja." Zia pun memberikan bebek panggangnya kepada Sifa, membiarkan wanita itu mencicipi pesanannya.


"Huum, benar-benar enak ya," seru Sifa.


"Kamu mau, sayang? Biar aku pesankan lagi." tawar Abash.


"Boleh, Mas."


Abash pun memanggil pelayan dan memesankan bebek panggang untuk sang istri.


"Awww ..." ringis Putri di saat merasakan perutnya bergerak.


"Kenapa, sayang?" tanya Arash merasa khawatir dan memegang punggung Putri.

__ADS_1


Tidak hanya Arash, tetapi Zia juga merasa khawatir dan ikut memegang punggung Putri, sehingga tangan Arash tersentuh oleh tangan Zia.


Zia dan Arash pun saling melirik, kemudian dengan cepat Zia menarik tangannya dan menoleh ke arah lain dengan perasaan kesal.


__ADS_2