
Zia menangis sesenggukan, dirinya saat ini sudah berada di rumah sakit bersama si mbok dan pak supir.
"Zia," tegur Arash dengan napas yang memburu.
Zia menengadahkan kepalanya, menatap sang kakak ipar.
"Mas, hiks ... Mbak Putri ... Hiks ... Mbak Putri ..." Zia tidak tahu harus berkata apa, karena saat ini kondisi Putri cukup memprihatinkan.
"Rash," tegur Mbak Anggel yang baru saja keluar dari ruangan bersalin.
"Mbak! Mbak apa yang terjadi dengan Putri?" tanya Arash dengan jantung yang berdebar-debar hebat.
"Putri mengalami pendarahan hebat. Dia harus segera menjalani operasi, Rash," ujar Mbak Anggel memberitahu.
"Ya, Mbak, lakukanlah."
"Tapi, dalam operasi Caesar kali ini, ada hal yang harus kamu ketahui kondisinya terburuknya."
__ADS_1
mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Mbak Anggel. Kali ini jantung Arash bukan lagi berdetak dengan cepat, akan tetapi dia merasa seolah jatuh di ketinggian tanpa menggunakan parasut sebagai penyelamatnya.
"Mak-maksud, Mbak?" tanya Arash yang ingin mengetahui apa sebenarnya kalimat yang baru saja di katakan oleh Mbak Anggel yang sekaligus sebagai dokter kandungannya Putri.
Pendarahan yang Putri alami bukanlah pendarahan biasa. Operasi kali ini juga bukan hanya operasi untuk membantu mengeluarkan sang bayii dari dalam perut sang ibu. Akan tetapi, ada resiko yang harus di tanggung, yaitu antara menyelamatkan bayi yang ada di d kandungan atau menyelamatkan sang ibu.
Bagai di sambar petir, tubuh Arash pun oleng dan hampir kehilangan kekuatan pada kakinya. Arash harus memilih antara satu, apakah dia harus memilih sang ibu, atau memilih sang anak. Walaupun Mbak Anggel tahu akan pilihannya, tapi tetap saja sebagai seorang dokter, dia wajib memberitahu apa yang terjadi kepada pasien.
Jika Papa Satria tidak cepat berlari menyambut tubuh Arash, bisa jadi bokong pria itu mencium lantai yang berdebu dan sunyi.
"Rash, kamu harus kuat," bisik Papa Satria yang juga mendengar apa yang di katakan oleh Mbak Anggel.
"Mbak, bisakah aku bertemu dengan Putri dulu?" tanya Arash dengan suara yang bergetar.
"Ya, silahkan. Tapi, jangan lama-lama ya, Rash, karena waktu berjalan terus.".
Arash menganggukkan kepalanya, pria itu pun perlahan mengumpulkan kembali semua tenaganya agar bisa berjalan dengan menggunakan kakinya sendiri menuju ruang bersalin.
__ADS_1
"Rash," tegur Putri, Arash langsung berlari untuk menggenggam tangan sang istri.
"Sayan,g aku di sini."
"A-aku mohon, tolong kamu selamatkan anak kita, Rash," pinta Putri yang merasa jika tidak ada harapan lagi untuk dirinya atau bayi yang ada di dalam kandungan.
"Aku mohon, tolong kamu selamatkan anak kita."
Arash menggelengkan kepalanya, pria itu menangis sesenggukan sambil mencium tangan sang istri.
"Tidak, hiks .. Aku tidak bisa tanpa kamu, Sayang. Aku tidak bisa, hiks ... Kamu harus selamat, kamu harus tetap hidup," pinta Arash yang mana membuat air mata Putri semakin berlinang.
"Aku mohon, Rash, tolong selamatkan bayi kita."
Arash pun kembali menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menuruti keinginan sang istri kali ini. Arash tidak ingin berpisah dengan Putri.
"Rash," tegur Mbak Anggel dan membuat Arash menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
"Putri harus segera masuk ke ruang operasi." Mbak Anggel pun mengulurkan sebuah dokumen untuk di tanda tangani oleh pria itu.
"Siapa yang kamu pilih, Rash? Putri atau anak kamu."