Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 422


__ADS_3

Waktu terus berlalu dengan begitu cepatnya. Zia telah kembali ke Paris, gadis itu akan mengadakan pameran perhiasan di sana. Dan saat yang bersamaan luka, Bang Fatih berencana untuk mengajak Zia bekerja sama dengan perusahaan miliknya.


"Serius? Bang Fatih mau mengajak Zia bekerja sama?" tanya Putri dengan mata yang berbinar.


Saat ini mereka sedang berada di cafe Mbak Quin. Putri yang tetiba pingin menikmati makanan manis pun, membuat Arash harus mengajak sang istri berjalan-jalan ke toko kue.


"Iya, lagian nih ya, kalau bisa bekerja sama dengan saudara sendiri, kenapa harus bekerja sama dengan yang lain?" ujar Bang Fatih dengan tersenyum lebar.


"Ya gak, Rash?" tanya Bang Fatih kepada adik sepupunya itu.


Bang Fatih yang memang memimpin perusahaan di bidang kecantikan pun memutuskan untuk mengajak Zia bekerja sama dengan perusahaan yang sedang dirinya pimpin. Lagi pula, hasil karya perhiasan yang Zia gambar dan ukir terlihat begitu indah dan sangat berkelas.


"Iya," jawab Arash dengan terpaksa.


"Putri ikut senang mendengarnya, Bang. Dengan Zia bisa bekerja sama dengan perusahaan Abang, itu artinya dia akan kembali ke Indonesia," seru Putri dengan bahagia.

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika Zia bisa saja bolak balik ke luar negeri," kekeh Bang Fatih.


"Iya sih, tergantung pekerjaan dia juga ya."


Bang Fatih menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Putri.


"Aww ..." ringis Putri tiba-tiba dan menyentuh perutnya.


"Ada apa, Put?" tanya Bang Fatih yang menduga jika Putri pasti sedang mengalami kontraksi.


"Sayang, kenapa?" tanya Arash dengan jantung yang berdebar.


Arash mulai terlihat semakin panik, di tamabh lagi melihat wajah Putri yang dengan cepat langsung dipenuhi oleh keringat dingin.


"Sa-sayang---"

__ADS_1


"Rash, tuntun Putri ke mobil, kamu harus segera membawanya ke rumah sakit," titah Bang Fatih yang langsung di angguki oleh Arash.


Bang Fatih pun segera menghubungi Mbak Anggel untuk memberitahu jika Putri sedang mengalami kontraksi. Setelah menghubungi Mbak Anggel dan pihak rumah sakit, Bang Fatih pun bergegas berdiri dan juga ikut bergerak untuk membantu Arash membawa Putri ke rumah sakit.


"Loh, kok buru-buru, Tih? Ada apa?" tanya Mbak Quin yang baru saja ingin bergabung dengan Bang Fatih, Putri, dan Arash.


"Sepertinya Putri mengalami kontraksi. Aku harus menemani Arash ke rumah sakit," ujar Bang Fatih dan langsung berpamitan kepada Quin.


"Ah ya, hati-hati Tih." Mbak Quin pun mengambil ponselnya yang ada di dalam saku bajunya, kemudian mencari nama Mama Kesya dan memberitahu kepada wanita yang telah melahirkannya ke dunia jika Putri sedang menuju ke rumah sakit, karena mengalami kontraksi.


"Makasih Quin, infonya. Mama akan segera ke sana," ujar Mama Kesya dan memutuskan panggilannya setelah mengucapkan salam.


Mama Kesya pun bergegas memanggil sang suami dan menyuruh pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan itu untuk bersiap dan pergi ke rumah sakit.


"Maas, buruan. Putri udah mau lahiran itu," geram Mama Kesya karena sang suami yang masih saja terlihat mondar mandir karena kebingungan.

__ADS_1


Semenjak Putri hamil, Arash dan istrinya itu pun tinggal di rumah Mama Kesya. Mereka sengaja tinggal di sana, agar Putri ada yang menemani dan juga mendapatkan teman ngobrol.


"Cepetqn, Maas ..." geram Mama Kesya lagi, saat Papa Arka malah melupakan kunci mobilnya.


__ADS_2