Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 268 - Sholat Berjamaah


__ADS_3

Arash membersihkan sisa bara yang membakar daging ikan, sehingga membuat ikan itu gosong dan terasa pahit. Putri hanya memperhatikan pria itu dengan mengulum bibirnya saja. Inilah akibatnya mau mesum, jadinya mereka harus memakan sebelah daging ikan untuk berdua saja kan?


"Biar aku yang bersihkan, kamu tusuk-tusuk saja jagung dan yang lainnya." Putri pun mengambil alih ikan yang ada di tangan Arash.


"Jari kamu gak papa?" tanya Arash sambil memperhatikan jari telunjuk Putri yang masih terlihat memerah.


"Gak papa. Setidaknya sudah tidak mengeluarkan darah lagi," cicit Putri dengan wajahnya yang bersemu merah.


Jangan di tanya ya kenapa wajah Putri bersemu. Pokoknya jangan di tanya, karena emak yakin, kalau readers itu sudah tau mengapa wajah Putri bisa bersemu merona begitu.


"Oke, baiklah kalau begitu." Arash pun memberikan panggangan ikan kepada Putri, kemudian pria itu mengambil alih pekerjaan gadis itu yang tertunda.


"Kamu suka terong?" Arash sengaja memberikan pertanyaan kepada Putri, karena pria itu ingin menghilangkan kesunyian di senja hari ini.


"Huum, aku suka semua sayur, kecuali toge dan daun selederi," jawab Putri, sehingga membuat Arash terkekeh.


"Kenapa gak suka selederi?" tanya Arash merasa penasaran.


"Gak tau, gak suka aja. Aku kalau makan seledri itu kayak lagi makan rumput," cicit Putri yang mana membuat Arash tertawa terbahak-bahak.


"Memangnya kamu sudah pernah makan rumput?" goda Arash.


Putri melirik ke arah pria itu dengan kesal.


"Kamu pikir aku kambing, apa?"


Arash pun kembali tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Aku kan gak bilang begitu, Put. Kamu sendiri yang bilang kalau seledri itu rasanya mirip sama rumput," kekeh Arash. "Maka aku penasaran, memangnya kamu pernah makan rumput?"


"Iih, dasar nyebelin," kesal Putri dan mencoreng wajah Arash dengan tangannya yang terkena noda hitam di besi panggangan ikan.


"Put? Kamu?" araash menyentuh wajahnya yang terkena noda hitam.


"Haa .. ha .. kamu lucu banget gitu, mirip empus," kekeh Putri sambil tertawa geli.


"Awas kamu ya." Arash pun meletakkan jagung yang sudah di tusuk, kemudian dia menghampiri Putri yang sudah berlari duluan menjauh darinya.


"Weeekk, gak dapaat," ledek Putri sambil menjulurkan lidahnya.


"Awas kamu, ya. Kalau sampai dapat sama aku, maka aku akan---"


"Akan apa?" tanya Putri penasaran.


"Maka aku akan menggelitik pinggang kamu, sampai kamu menerima cinta aku," jawab Arash dan berusaha untuk menangkap Putri.


"Kejar aku kalau bisa," ledek Putri dan terus berlari mengitari mobil.


Arsah tersenyum licik, pria itu sudah bisa menebak ke arah mana Putri akan berlari jika dia berpura-pura mengejar gadis itu dari arah kiri. Benar saja apa yang di tebak oleh Arash, jika Putri akan berlari ke arah kanan, dan itu adalah kesempatan emas untuk Arash. Pria itu naik ke atas mobil dengan menginjak ban mobil, kemudian langsung memotong langkah Putri dan menangkap tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Aaaaammpp ..." pekik Putri terkejut di saat Arash berhasil mengurung dirinya.


"Dapat," bisik Arash dengan napas yang memburu.


Allahu akbar, allaaahu akbaaar ...

__ADS_1


Terdengar suara azan magrib berkumandang. Hal itu pun membuat Putri lagi-lagi terselamatkan dari kemesuman pria yang bernama Arash.


"Su-sudah magrib. Kita sholat dulu, yuk?" ajak Putri sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Arash.


"Lagi-lagi kamu selamat, Put," bisik Arash dan melepaskan tangannya dari pinggang Putri.


Putri berjalan mundur untuk menjauh dari Arash, kemudian gadis itu merasa bingung di saat melihat ke arah sekitarnya.


"Kita sholat di mana?" tanya Putri, kerena saat ini mereka benar-benar berada di pinggir danau.


Sebenarnya tidak jauh dari danau itu, terdapat villa pribadi keluarga Moza, tetapi Arash sudah merencanakan semuanya, jika mereka akan sholat di tepi danau nanti.


"Di sini. Aku sudah menyiapkan semuanya," ujar Arash sambil menunjuk ke arah yang tak jauh dari mereka.


"Kamu bisa mengambil air wudhu dari keran air galon itu," tunjuk Arash. "Aku akan membentang tikar untuk tempat kita sholat."


Arash pun berjalan menuju tikar yang terlipat di dekat meja. Kemudian pria itu membentangnya di atas rumput. tak lupa dia langsung meletakkan sajadah, di mana mereka akan melaksanakan sholat magrib berjamaah.


"Tunggu aku, kita sholat bersama," ujar Arash saat Putri sudah selesai mengambil air wudhu.


"Sholat berjamaah? Di tempat terbuka seperti ini? Di tepi danau lagi?" gumam Putri sambil melihat ke arah sekitar, di mana perlahan lampu-lampu yang tadinya mati, telah menerangi tempat tersebut.


"Sungguh indah," lirih Putri merasa tersentuh dengan pemandangan senja hari ini.


Arash sudah selesai mengambil wudhu, pria itu pun langsung berdiri di tempatnya sebagai seorang imam.


"Aku harap, ini sholat pertama kita, yang mana nantinya akan terus membawa kita tetap sholat berjamaah seperti ini hingga maut memisahkan," ujar Arash saat pria itu berbalik dan melihat ke arah Putri.

__ADS_1


Lagi, wajah Putri pun kembali merona karena ungkapan manis yang Arash katakan barusan.


Jika begini terus, apa Putri bisa menahan hasratnya untuk tidak menolak Arash?


__ADS_2