
"Kenapa? Kok malah melamun?" tanya Arash kepada Putri.
"Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan apa yang ada di dalam pikiran kamu?" ujar Putri sehingga membuat Arash mengernyitkan keningnya.
"Ada apa dengan pikiran aku?" tanya Arash lagi.
Putri pun menatap lekat mata sang suami, mengunci setiap gerak gerik manik mata indah itu.
"Sayang, katakan yang jujur kepadaku, apa telah terjadi sesuatu di antara kamu dan Zia?" tanya Putri langsung, sehingga membuat Arash kesulitan untuk menghindar dari tatapan mata Putri, karena istrinya sudah mengunci tatapan matanya.
"Apa Putri tahu? Tapi dari mana dia tahu? Tidak ada yang tahu tentang kejadian itu," batin Arash. "Apa Zia yang memberitahunya?"
"Sayang, kok malah melamun, sih? Apa dugaan aku benar?" Jika telah terjadi sesuatu di antara kalian berdua?" tanya Putri lagi.
Araash menelan ludahnya dengan kasar, kemudian memutar otaknya untuk berpikir cepat. Beberapa detik setelahnya, Arash pun tersenyum dengan begitu manisnya.
"Apa yang kamu duga memangnya?" tanya Arash balik, memastikan apakah sebenarnya Putri mengetahui rahasia tentang dirinya dan Zia, atau tidak.
"Apa kamu belum bisa memaafkan Zia?" jawab Putri, sehingga membuat Arash sedikit bernapas lega.
"Lalu? Apa hanya itu saja?" tanya Arash memastikan kembali.
"Iya, apa ada yang lain?" tanya Putri balik.
Arash mengedipkan matanya sekali, kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, tidak ada," jawab Arash dengan tersenyum lebar.
Haruskah Arash bernapas dengan lega, karena Putri tidak mengetahui jika ada konflik baru di antara dirinya dan Zia?
Putri masih mengunci tatapan mata sang suami, dia merasa jika Arash sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Putri mengangkat tangannya dan menangkup pipi Arash.
__ADS_1
"Sayang, katakanlah yang sejujurnya, kenapa kamu belum bisa memaafkan Zia? Apa sebesar itu kesalahan Zia? Sehingga membuat kamu tidak bisa memaafkannya?" tanya Putri dengan sendu.
Arash kembali menghela napasnya dengan pelan. Pria itu pun ikut mengambil tangan sang istri yang ada di pipinya, kemudian menggenggamnya dengan hangat.
"Aku tidak bisa memaafkan orang ingin mencelakai kamu, sayang. Bagiku, kesalahan Zia adalah kesalahan yang besar, karena tidak enggan untuk menyelamatkan kamu dan bahkan berharap jika kamu--kamu..."
"Rash, semua itu telah berlalu. Zia tidak bermaksud seperti itu, sayang. Aku sangat mengenal siapa Zia. Dia bukanlah orang yang tega melihat penderitaan orang lain."
"Tidak, kamu tidak mengenal Zia dengan baik. Terkadang, kita seolah mengenal bagaimana saudara kita sendiri. Tapi, kita tidak pernah tau apa yang ada di dalam pikiran dan di dalam hatinya yang sebenarnya. Bisa saja selama ini dia berpura-pura, hingga sifat aslinya pun muncul dan menunjukkan siapa dia sebenarnya, Put. Dan pada hari itu, Zia menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya," ujar Arash yang terlihat dari sinar matanya, jika pria itu masih menaruh dendam kepada Zia.
"Rash, aku sangat yakin, jika Zia tidak seperti yang kamu pikirkan, Rash. Dia---"
"Sayang, aku mohon, jangan membela dia lagi ya di depan aku. Aku hanya ingin melupakan kejadian itu, sayang. Untuk itu, aku minta sama kamu, untuk tidak pernah mengingatkan apa yang terjadi di antara aku dan Zia," ujar Arash. "Biarkanlah hubungan aku dan dia bagaikan orang asing, sayang. Aku mohon," pinta Arash.
Putri hanya bisa menghela napasnya dengan pelan. Mungkin Arash benar, jika setiap orang akan berubah pada masanya. Seperti Arash saat ini, di mana keras kepala pria itu tidak dapat lagi Putri kendalikan. Dia seolah hampir tidak mengenal kepribadian suaminya yang sekarang.
"Maafin aku, aku tidak akan membahas tentang Zia lagi," lirih Putri akhirnya mengalah.
Putri terkekeh pelan sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, tentu saja boleh."
"Apa kamu mau ikut?" ajak Arash.
"Enggak, aku mau bantu Mama bikin kue," tolak Putri.
"Hum, baiklah. Kalau begitu aku siap-siap untuk pergi dulu, ya?" ujar Arash dan malah memeluk tubuh Putri.
"Rash, bukannya kamu mengatakan ingin bersiap untuk pergi? Lalu kenapa kamu malah memeluk aku?" tanya Putri yang sudah kegelian akibat ulah dari sang suami.
"Sebelum pergi, aku mau nge-cas dulu. Boleh kan?" bisik Arash dengan merdu di telinga Putri, tak lupa pria itu meniupkan napas hangatnya di tengkuk sang istri.
"Rashh.. ahh ..."
__ADS_1
Putri memekik pelan, saat Arash merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hingga akhirnya apa yang seharusnya terjadi pun, terjadi. Suhu kamar yang terasa dingin, tiba-tiba terasa hangat dan menjadi panas. Setiap helaian baju yang terbuka, terlempar begitu saja hingga jatuh ke lantai dan berserakan. Hanya deruan napas yang tersenggal dan berat saja saat ini yang mengisi seluruh kamar tersebut.
*
"Aku pergi dulu, ya. Kamu hati-hati kerjanya," pamit Arash dan mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri.
"Iya, kamu hati-hati juga nyetirnya."
Setelah mengantarkan Arash pergi, Putri pun kembali masuk ke dalam rumah dan menyusul sang mama yang sudah berada di dapur.
"Basah nih? Apa sebentar lagi Mama akan mendapatkan kabar baik?" goda Mama Nayna sehingga membuat wajah Putri bersemu merah.
"Mamaa ..."
Di tempat lain.
Arash baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran caffe, di mana dia akan bertemu dengan temannya. Tapi, langkah Arash terhenti, di saat melihat siluet yang sangat dia kenali.
"Zia? Abash?" lirih Arash pelan.
Merasa tidak percaya dan kurang yakin dengan apa yang dia lihat, Arash pun mengikuti kedua orang tersebut itu yang terlihat sedang berpelukan, hingga keyakinan Arash semakin kuat, di saat melihat mobil yang di gunakan oleh pria itu.
"Itu benar Abash. Tapi, apa yang telah mereka berdua lakukan? Apa mereka---"
Tiba-tiba saja Arash teringat, di mana Abash selalu membela Putri, sehingga di antara mereka sempat terjadi perdebatan kecil karena gadis itu. "jangan bilang kalau Abash berselingkuh dengan Zia?" gumam Arash. "Tidak, Abash bukanlah tipe orang yang mudah berpaling." Arash terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu. "Atau jangan-jangan, Zia yang telah menggoda Abash?" lirih Arash. "Dia kan pernah bilang ke Putri, jika dia berharap memiliki seorang pria seperti aku dan Abash, di mana karakter kami bagaikan kotoh yang ada di dalam novel?" ujarnya pada diri sendiri.
Arash tersenyum miring, di saat merasa apa yang telah dia pikirkan adalah sebuah kebenaran.
"Dasar gadis licik, berani-beraninya dia merusak hubungan Sifa dan Abash. Apa dia tidak tahu berterima kasih, kalau Sifa sudah berbaik hati dengannya?" geram Abash. "Atau jangan-jangan, dia sebenarnya menyukai aku? Maka dari itu dia berharap Putri meninggal?" lirih Arash setelah terdiam beberapa detik.
"Ck, dasar gadis licik. Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu merusak hubungan Abash dan Sifa. Aku akan terus mengawasai kamu, Zia. Lihat saja, kamu salah dalam memilih orang."
__ADS_1