Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 9 - Suara Kodok


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, Abash keluar dari ruangannya saat Sifa sedang mengambil tong sampah yang ada di dekat meja sekretaris-nya.


Seluruh karyawan lain sudah pada pulang karena memamg sudah masuk jam pulang kerja, namun Didi belum pulang sebelum sang bos pulang, ataupun mendapatkan izin dari sang bos.


Sekretaris Abash yang bernama Didi pun langsung berdiri dan membungkukkan badannya sedikit saat melihat Abash keluar dari ruangannya, begitu pun dengan Sifa.


Abash sempat melirik kearah Sifa, tanpa adanya senyuman, Abash langsung meninggalkan Sifa dan Didi yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Pak, pak bos emang pelit senyum gitu ya?" tanya Sifa kepada Didi.


Didi menoleh dan menganggukkan kepalanya.


"Jangan harap deh bakal dapat senyuman dari pak bos," ujar Didi.


Sifa menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sifa mengambil keranjang sampah yang berisi dengan kertas-kertas yang sudah di sobek.


Sifa membuang sampah tersebut kedalam troli yang ia bawa, setelah isi keranjang kosong, Sifa pun mengembalikan keranjang sampah tersebut ketempatnya semula.


Sifa mengangguk sekilas kepada Didi, sebelum ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Sifa harus menunggu Abash pulang, untuk membersihkan ruangannya, jadi sembari menunggu, Sifa pun membersihkan toilet yang ada di lantai tersebut.


*


"Di, Kamu pulang aja, saya masih banyak kerjaan yang harus di kerjakan." titah Abash saat kembali entah dari mana.


"Mau saya pesankan makan malam, Pak?"


"Gau usaj, nanti saya pesan sendiri saja." ujar Abash.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Didi pun menganggukkan kepalanya dan tak lupa memberi hormat.


Abash pun berlalu dari hadapan Didi dan masuk kedalam ruangannya. Didi pun membersihkan dan merapikan mejanya serta bersiap untuk pulang.


*


Abash merasa kepalanya sedikit pusing, mungkin karena ia melewatkan jam makan siang yang sangat terlambat. Dan itu semua karena Sifa.

__ADS_1


Ya, karena sifa. Jika saja gadis itu tak pingsan tak membuang-buanv waktu Abash yang sangat berharga, mungkin Abash tidak akan terlambat dalam pertemuan meeting nya.


Abash melewatkan jam makan siangnya karena harus mengejar kembali meeting selanjutnya. Sialnya, Abash saat itu meminum. kopi hitam dengan perut kosong.


Mama Kesya sudah sering sekali mengingatkan Abash untuk tidak melupakan jam makannya. Namun Abash tetaplah Abash, ia selalu melewatkan jam makannya di saat tengah serius bekerja. Yaa, seperti alasan dasar pada umumnya. 'Ah, dikit lagi, nanggung.'


Abash melirik kearah jam tangannya, sudah pukul 9 malam, rasanya Abash tak memiliki tenaga lagi. Sudahlah melewatkan makan siang, Abash kembali melewatkan makan malamnya.


Sepertinya beristirahat sebentar adalah jalan yang terbaik untuk mengumpulkan tenaganya. Yaah, beginilah hidup seorang pecinta IT, tak kenal malam dan siang.


Abash berjalan ke arah sofa dan membaringkan tubunya di sana. Abash bersyukur, semakin majunya zaman, maka semua perabotan pun semakin maju. Termasuk sofa yang Abash miliki. Sofa multifungsi yang bisa di jadikan tempat duduk, dan bisa di jadikan sebuah kasur.


Abash merebahkan dirinya tanpa repot-repot ingin membuka sepatunya, Abash meletakkan satu tangannya sebagai bantalan dan satu tangan lagi menutup matanya, dengan kaki yang bersilang lurus.


*


Sifa yang baru saja mengisi perutnya pun melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Memang, jam tersebut terlihat tua dan usang. Tapi jam itu adalah jam pemberian sang nenek. Sampai kapan pun Sifa tak akan membuang ataupun mengganti jam tersebut.


Sudah pukul 9 lewat 25 menit. Sifa pun menghela napasnya pelan dan kembali masuk kedalam kantor Abash.


Ah ya, Sifa sering menghabiskan waktunya untuk membersihkan ruangan Abash di balkon lantai tersebut.


Hari ini Lia izin cepat pulang, karena ia sedang datang bulan dan mengalami senggugutan atau sakit di bagian pangkal perut. Hal biasa yang sering di alami oleh beberapa wanita pada umumnya saat sedang menstruasi.


Sifa yang sudah kembali masuk kelantai di mana kantor Abash berada pun, menatap kearah ruangan Abash yang sudah terlihat gelap, menandakan jika Abash sudah tak berada di dalam ruanganya.


"Ayo, saatnya bersih-bersih. Biar cepat pulang," seru Sifa kepada dirinya sendiri.


Sifa pun membuka pintu ruangan Abash sambil bersenandung. Tanpa menghidupkan lampu utama, Sifa langsung berjalan menuju kamar mandi untuk di bersihkan.


Untuk mengusir kebosanannha pun karena bekerja sendiri hari ini, Sifa pun bernyanyi dengan suara cempreng nya.


"Doraeeeemooooonn.... La ..la .. la .. aku sayang sekali ... Dora eeemmmoooonnn..."


"Cicak cicak di dinding, diam-diam merayap, datang seekor nyamuk. Huup, lalu di tangkap..."

__ADS_1


"Huuff, kasian banget tuh cicak, cuma bisa nempel di dinding. Sekalinya tepuk tangan jatuh dah. Ya... ya.. aku tau, suara aku bagus, janga tepuk tangan ya, ntar jatuh lagi," ujar Sifa kepada cicak yang ada di dalam kamar mandi tersebut.


Tanpa Sifa sadari, jika suara cempreng nya itu telah mengusik ketenangan seseorang.


*


Abash baru saja ingin terlelap dalam tidurnya, namun sebuah suara cempreng mengganggu ketenangannya. Abash pun berdecak kesal dan bangkit dari tidur nyamannya.


"Siapa sih yang nyanyi? udah suara mirip kodok juga, pede banget dia nyanyi." geram Abash dan berjalan menghampiri sumber suara.


Abash semakin kesal karena orang yang bernyanyi itu adalah seorang cleaning servis, yang mana lampu dalam ruangan Abash tak di hidupkan olehnya. Mana ada sih orang yang bekerja bersih-bersih dalam kegelapan. Gak becus banget.


Abash mengerutkan keningnya saat melihat sosok yang ia kenali di dalam kamar mandi sambil bernyanyi seolah-olah dirinya tengah konser.


Abash memicit keningnya yang terasa pening, sudahlah perutnya lapar, sekarang harus di siksa dengan suara kodok cempreng.


Abash menatap tak percaya saat melihat Sifa berbicara dengan cicak di dinding. Namun, terlalu lama memandang, Abash menyunggingkan senyumnya sedikit, saat melihat Sifa yang memiliki sifat yang sama dengan Quin. Yaitu berbicara dengan binatang.


Namun bedanya, Quin sangat takut dengan cicak. Anehkan? padahal peliharaan Quin itu singa putih loh ...


Sifa membalikkan tubuhnya dan terkejut saat mendapati Abash berdiri di depan pintu.


"Aaaaa ..."


Sifa sudah menaikkan gagang pel dan sial untuk memukul orang yang bikin ia terkejut, untungnya gerakan Abash lebih cepat dari gerakan Sifa.


"Kamu hobi banget sih main mukul orang?" geram Abash.


"Ma-maaf, Pak. Saya refleks," cicit Sifa.


Abash menurunkan gagang pel tersebut dan kembali memasang wajah dinginnya.


Sifa merasa jika dirinha dalam bahaya saat ini. Bagaimana tidak? Sifa takut jika Abash memecatnya dan membatalkan kontrak magangnya. Duuh, bisa berabe ini urusannya.


"Pak, maafin saya." ujar Sifa yang mana malah membuat dirinya terjatuh kedalam pelukan Abash.

__ADS_1


\=\=  Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari ABASH dan ARASH.


__ADS_2