Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 315


__ADS_3

Keputusan sudah di buat, tak ada satu orang pun yang dapat merubah keputusan tersebut. Bahkan, Putri yang menjadi korban pun tidak dapat merubah keputusan yang sudah di buat oleh Papa Arka dan Papa Satria.


Mama Nayna juga sudah mendapatkan kabar tentang musibah yang menimpa Putri. Jangan di tanya lagi apa yang terjadi kepada Mama Nayna. Wanita paruh baya itu sangat murka, sehingga mendaratkan sebuah tamparan di pipi Abash.


Namun, ada satu hal yang unik yang terlontar dari mulut Mama Nayna, yaitu wanita paruh baya itu setuju dengan permintaan Arash, di mana jika Putri tidak hamil, maka Mama Nayna mendukung jika Putri menikah dengan tungangannya. Seperti apa yang seharusnya sudah diputuskan sebelumnya.


Akan tetapi, hal itu di tolak mentah-mentah oleh Papa Satria dan Papa Arka, begitu pun dengan Mama Kesya yang tidak ingin jika Putri menjadi istri Arash, karena rasanya tidak sangat etis dan masuk di akal, jika Putri menjadi istri Arash dan menjadi ipar dari pria yang telah menodainya. Itu pasti akan menjadi luka yang tidak akan pernah sembuh di dalam hati Putri, di tambah lagi mereka memiliki wajah yang sama.


Mama Nayna tidak bisa berbuat apapun, dia hanya memikirkan kebahagiaan sang putri yang ada bersama Arash, karena mereka saling mencintai, tanpa Mama Nayna tahu, jika Putri menolak untuk menikah dengan Arash ataupun Abash.


"Luna, apa yang harus aku lakukan?" lirih Putri dan memeluk lengan sang sahabat.


"Aku tidak ingin merusak hubungan orang lain, Lun. Aku tidak ingin merusak kebahagian orang lain." Air mata yang menganak sungai di mata Putri pun, mengalir membasahi pipinya yang sudah terasa lembab.


Entah berapa banyak air mata yang dia keluarkan, sehingga membuat mata gadis itu terlihat membengkak dan menghitam.


"Putri, sayang, kamu jangan nangis lagi, ya. Ini sudah menjadi keputusan kedua belah pihak, Put. Aku paham apa yang kamu rasakan, tapi jujur saja, aku tidak setuju dengan apa yang kamu katakan. Aku tidak setuju jika kamu ingin melarikan diri dari masalah ini, Put. Aku tidak setuju jika kamu menolak untuk dinikahkan. Setidaknya, biarkan Abash bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat, Put."


Air mata kembali terjatuh ke pipi Putri, gadis itu berusaha melupakan apa yang terjadi malam itu.


Mama Nayna dan Mama Kesya pun sudah mempersiapkan pernikahan Abash dan Putri. Sedangkan Arash hanya bisa merengek dan meminta agar dirinya yang menjadi pengantin prianya. Namun, keputusan memang sudah diputuskan dan tidak bisa di ganggu gugat. Sebesar apapun cinta Arash, itu tidak akan merubah kenyataan jika Putri pernah di nodai oleh Abash.


Kabar ini pun akhirnya sampai di telinga Kakek Farel, sehingga keadaan kesehatan pria yang paling di sayang dan disegani itu pun, menurun drastis. Entah siapa yang memberikan kabar tersebut, sehingga sampai ke telinga Kakek Farel. Padahal, seluruh keluarga sudah berusaha untuk menyembunyikan kabar tentang pernikahan Putri dan Abash, yang mana seluruh keluarga sepakat mengatakan jika yang menikah dengan Putri adalah Arash.


Berbeda dengan halnya Abash, pria itu malah berpikir dengan keras apa yang terjadi sebenarnya malam itu. Kebalikan dari apa yang Putri inginkan. Abash merasa ada yang aneh dengan kejadian malam itu. Bahkan, dia sudah menemui Tuan Albert dan bertanya tentang tujuannya untuk mengajak dirinya dan Putri duduk bersama di meja yang sama.

__ADS_1


Tuan Albert sempat tersinggung dengan apa yang Abash tuduhkan, hingga mereka sempat di usir dari ruang kerja pria paruh baya itu. Untungnya Arash berhasil menenangkan amarah Tuan Albert dan menjelaskan apa yang terjadi. Berkat bantuan Tuan Alber, Abash dan Arash pun berhasil mendapatkan nama-nama pelayan dan juga cctv yang ada di sekitar sana.


Empat hari mereka habiskan hanya untuk memeriksa cctv, mengulang kembali apa yang terjadi di sana dan mencari kejanggalan yang terjadi. Dari hasil cctv, tidak ada hal yang mencurigakan sedikit pun, hanya saja, cctv yang mengarah ke arah penginapan nomor 73, tertutup oleh daun.


Abash dan Arash pun langsung bergegas mengecek ke lokasi, kenapa sampai bisa cctv yang ada di sudut bangunan sampai tertutup oleh daun.


Entah ini memang suratan takdir, atau si pelaku terselamatkan oleh alam. Di mana pohon yang berada di dekat penginapan itu, sudah tumbuh besar sehingga salah satu rantingnya mengarak ke arah penginapan dan menutup cctv yang ada di sana dengan daunnya yang hijau dan lebar.


Lagi dan lagi, mereka seolah kehilangan jejak si pelakku.


"Tunggu, ada seorang pria yang ingin melecehkan Sifa malam itu," ujar Arash mengingat tentang pria yang ingin melecehkan Sifa.


"Apa? Melecehkan Sifa?" kejut Abash.


Ya, karena masalah Putri, membuat Arash melupakan hal itu. Untungnya dia sudah menyuruh penjagal yang ada di sana untuk menahan pria yang bernama Dika tersebut.


'Semoga saja aku menemukan siapa pria itu dari cctv," lirih Arash dan memperhatikan satu persatu kembali wajah para tamu undangan yang datang.


Sudah hampir setengah harian Arash melihat hasil cctv tersebut, di mana menunjukkan wajah-wajah para tamu undangan yang datang. Satu persatu Arash melihat dan memastikan wajahnya dengan pria yang sama yang ingin melecehkan Sifa malam itu,  hingga akhirnya dia menemukan pria yang bernama Dika.


Abash dan Arash pun langsung mendatangi pria itu, akan tetapi seolah takdir tidak berpihak kepada mereka, di mana ternyata Dika telah berada di luar negeri.


Abash pun menyuruh orang untuk mencari pria itu, di mana pun Dika berada.


"Apa yang harus kita lakukan lagi, Rash?" tanya Abash kepada sang kembaran.

__ADS_1


"Untuk saat ini, kita hanya bisa mengikuti apa yang papa perintahkan."


"Waktu kita tidak banyak lagi, Bash. Memangnya kamu rela jika aku menikah dengan Putri?" tanya Abash dengn frustasi.


"Kamu pikir aku bakal senang kalau kamu menikah  dengan dia? Kamu pikir aku bahagia?" kesal Arash pula.


"Jika kamu sampai menikah dengan Putri, maka aku akan  mengundurkan diri dari kepolisian dan mengurus perusahaan kita yang ada di swiss," tegas Arash.


"Rash, kamu gila?" bentak Abash.


Menjadi perwira polisi adalah mimpi dan cita-cita Arash sedari kecil, tetapi saat ini dia dengan mudahnya berkata untuk ingin melepaskan cita-citanya? Apa pria itu benar-benar sudah gila?


"Ya, aku gila, Bash. Aku sudah gila." pekik Arash. "Aku dan kamu ini sama, Bash. Jika kita sudah bisa mencintai dan berkomitmen dengan satu orang, maka kita tidak akan bisa berpaling," geram Abash.


Abash terdiam, apa yang dikatakan oleh Arash memanglah benar. Jika saja posisi mereka di tukar saat ini, maka Abash juga akan melakukan hal yang sama.


"Rash, aku punya satu rencana yang gila," ujar Arash dan mengatakan apa yang menjadi rencananya saat ini.


"Kamu gila, Rash," lirih Abash.


"Ya, aku memang sudah gila, Bash. Demi Putri, aku akan melakukan apapun."


"Bash, kita bisa di bunuh sama papa dan Om Satria jika ketahuan."


"Dan aku tidak takut mati," jawab Arash dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Tidak merasa rela jika pujaan hati menikah dengan pria lain, Arash pun berubah menjadi pria gila yang nekad menghalalkan segala cara.


__ADS_2