
Abash menarik kursi untuk Sifa duduki, pria itu terlihat sangat senang sekali, karena Sifa ternyata tak menyukai Arash -- kembarannya.
"Selamat malam, silahkan di lihat menunya," ujar pelayan sambil memberikan buku menu kepada Sifa dan Abash.
Abash pun meraih buku menu itu dan membukanya
"Kamu mau makan apa?" tanya Abash.
"Hah? Oh, saya?" Sifa merasa bingung, perlakuan yang Abash berikan kepadanya sejak turun dari mobil hingga beberapa menit yang lalu membuat jantungnya semakin berdegup kencang tak karuan, juga membuatnya bingung apa arti dari semua perlakuan sang bos.
Sifa membaca tulisan yang tertera di atas buku menu, gadis itu membelalakkan matanya di saat melihat harga yang tertera di setiap menu makanan yang ada.
Harga paling murahnya adalah seratus dua puluh ribu. Itu adalah harga yang sangat fantastis untuk sebuah salad buah, alias menu makanan pencuci mulut.
"Sifa," panggil Abash lagi, karena gadis itu belum juga mengatakan apa yang ingin dia pesan.
"Ya?" tanya Sifa.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Abash.
"Hah? Oh, itu ... Emm, Sa-saya terserah Bapak aja," lirih Sifa pelan sambil menyengir tak enak.
"Baiklah." Abash pun kembali melihat ke arah buku menu.
"Emm, saya pesan Beef steak black papper sauce, dua porsi. Bound salad satu, Fruit salad satu, orange jus dua, dan ice cream sorbet dua," ujar Abash menyebutkan pesanannya.
"Baik, terima kasih. Mohon di tunggu sebentar pesanannya," ujar pelayan dan pamit undur diri dari Abash dan Sifa.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Abash.
Ya, Abash membawa Sifa ke sebuah retoran yang sangat mewah dan berkelas, akan tetapi gadis itu merasa sangat tidak nyaman dan merasa semakin minder.
"Bapak kenapa bawa saya ke sini?" tanya Sifa.
"Bukankah tadi saya sudah mengatakan? Jika saya akan membawa kamu ke sini?" ujar Abash.
__ADS_1
"Iya, tapi kenapa harus ke sini?" tanya Sifa.
"Kenapa?"
"Saya merasa gak pantas aja, Pak, ke sini. Sepertinya yang datang ke sini semuanya berpasangan," lirih Sifa sambil melihat ke sekelilingnya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Abash. "Saat ini kamu sudah resmi jadi pacar saya, jadi wajar saja kan kalau kita ke sini," ujar pria itu lagi yang mana membuat Sifa membelalakkan matanya.
"Mak-maksud Bapak apa?" tanya Sifa gugup.
"Tadi kamu di mobil bilang, kalau kamu tidak suka sama Arash, kan?" ujar Abash yang di angguki oleh Sifa.
"Iya, tapi kan saya juga gak bilang kalau suka Bapak!" ujar Sifa dengan mengedipkan matanya lucu.
"Tunggu, jadi itu artinya kamu juga tidak menyukai saya?" ujar Abash yang mana membuat Sifa mengedipkan cepat.
Gadis itu bingung harus menjawab bagaimana. Bukankah kalau seorang pria sedang menyatakan cintanya kepada sang kekasih, maka akan menggunakan sebuah kalimat ungkapan yang terdengar sangat romantis?
Tapi kenapa ini sangat berbeda sekali? Sedangkan Sifa saja belum menjawab 'ya' untuk menyetujui hubungan ini. Bukankah ini seperti suatu pemaksaan dalam sebuah hubungan?
"Jika kamu tidak menyukai Arash, itu tanda kamu juga tidak menyukai aku" lirih Abash. "Masuk akal sih, karena wajah kami begitu sangat mirip. Iya kan?" tanya Abash.
Sifa semakin bingung harus menjawab apa. Masa dia yang menyatakan cintanya kepada sang bos? Bagaimana jika tiba-tiba saja gadis itu di prank oleh Abash, mau taruh di mana wajah Sifa.
"Hmm, baiklah. Kalau begitu mari kita lupakan apa yang terjadi di mobil tadi. Anggap saja saya khilaf. Saya minta maaf," potong Abash dan kembali memasanag wajah dinginnya.
Sifa menghela napasnya pelan, pria yang ada di hadapannya saat ini maunya apa sih? Kalau suka, kenapa gak perjalas aja? Kenapa harus bertele-tele seperti ini?
Kalau tidak suka, ngapain juga pakai acara cium-cium segala. Apa dia pikir Sifa ini sebuah boneka atau anak kecil yang boleh di cium sembarangan?
"Sungguh menyebalkan," batin Sifa dengan menatap kesal ke arah Abash. Gadis itu pun menolehkan kepalanya ke arah lain.
Abash menghela napasnya dengan sedikit kasar dan kembali menatap wajah gadis yang sedang duduk di hadapannya saat ini.
"Kenapa wajahnya kesal begitu? Apa dia kesal karena udah aku ajak pacaran dan ke sini? Atau karena aku cium tadi? Kan aku cium untuk mengungkapkana rasa cinta aku. Bukannya begitu ya kalau orang mengungkapkan cinta?" batin Abash.
__ADS_1
"Setidaknya dia sudah tau, kalau aku itu cinta sama dia," sambung Abash lagi di dalam hati.
Hening pun melanda, hanya hembusan napas saja yang terdengar satu sama lainnya. Hingga pesanan makanan mereka pun tiba.
"Ayo di makan," titah Abash dan mengambil sendok dan garpu.
Sifa menoleh ke arah Abash yang sedang menatap menu makanan yang ada di atas meja, gadis itu pun kembali menghela napasnya dengan pelan.
"Baiklah, mari kita makan untuk melampiaskan kekesalan ini," batin Sifa dan mengambil garpu yang ada di samping piring.
"Duh, gimana cara makannya ini?" lirih Sifa yang kesusahan dalam meotong daging.
"Ini, ambil saja punya saya. Sudah saya potong-potong dadu dan tinggal di makan saja" ujar Abash dan mengganti daging milik Sifa dengan miliknya.
Sifa pun menatapa daging yang ada di hadapannya saat ini dengan bingung.
"Makanlah, itu bukan bekas saya. Saya hanya memotonginya saja," ujar Abash dan kembali fokus memotong daging yang ada di hadapannya saat ini.
"Hmm, terima kasih," cicit Sifa dan mulai memasukkan satu potong daging ke dalam mulutnya.
Mata Sifa langsung berbinar di saat merasakan betapa enaknya rasa daging yang ada di dalam mulutnya. Seketika, kemarahannya pun langsung menguap entah ke mana.
"Emm, ini sungguh enak sekali," ujar Sifa dengan wajah berbinar.
Abash pun menoleh ke arah Sifa, kekesalan yang ada pada pria itu pun juga seketika menguap entah ke mana. Pria itu ikut tersenyum melihat betapa imut dan lucunya wajah gadis yang ada di hadapannya saat ini.
"Enakkan? Ayo di habiskan," titah Abash dengan tersenyum lebar.
Sifa pun menganggukkan kepalanya dan kembali memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
"ini enak, benar-benar enak," seru Sifa lagi. "Berapa harga makanan seenak ini, Pak" tanya Sifa penasaran.
"Kenapa? Kamu mau membayarnya?" tanya Abash sambil terkekeh.
"Ya bukan gitu. Saya cuma pingin tahu aja. Daging seenak ini di harga berapa," ujar Sifa sambil memasukkan kembali sepotong daging ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Abash meletakkan agrpu dan pisaunya, kemudian dia menautkan jari jemarinya di atas meja dan menatap wajah Sifa. Pria itu ingin melihat ekspresi lucu bagaimana yang akan gadis itu tunjukkan.
"Satu juta tiga ratus empat puluh lima ribu rupiah," ujar Abash yang sontak langsung membuat Sifa tersedak pedasnya bumbu dari saus black papper.