
Jelas sudah perselisihan paham tentang kejadian di mana Zia tidak sengaja menabrak Arash hingga mencium pria itu. Seluruh keluarga merasa tenang, karena nyatanya kejadian pada malam itu adalah sebuah kesalahpahaman saja. Dan tentang wanita yang ingin mencelakai Ibra, dia telah mendapatkan hukuman yang setimpal. Akan tetapi, Ibra tidak ingin memperpanjang masalah ini.
"Di mana Zia?" tanya Ibra kepada Bara.
Saat Ibra sedang sibuk mengurus kesalahpaham yang terjadi, nyatanya Zia meminta bantuan sang kakak untuk menyembunyikan dirinya. Bahkan, Zia meminta tolong kepada Bara agar mengurus keberangkatannya ke suatu tempat yang jauh, di mana tidak ada seorang pun yang tahu di mana dirinya berada. Zia akhirnya kembali memlih pergi, agar tidak ada lagi yang terluka atas keberadaannya.
Bagi Arash, Zia adalah sebuah kesialan yang muncul di dalam hidupnya. Sedangkan bagi Putri, Zia adalah anugerah terindah yang pernah dia miliki.
"Maaf, Bra, aku tidak bisa memberitahu di mana Zia berada," tolak Bara.
"Bahkan kepada Mbak sekalipun, Bara?" tanya Putri yang mendengar perkataan Bara kepada Ibra.
"Maaf, Mbak. Aku tidak bisa mengatakannya. Bahkan, kepada Mama dan Papa pun, aku tidak bisa mengatakannya," akui Bara.
"Kenapa, Bara? Kenapa? Kenapa kamu membiarkan Zia lari dari masalah?" tanya Putri merasa kesal dengan sang adik.
"Mbak, Zia tidak lari. Dia hanya ingin menyendiri, Mbak."
"Apa itu bukan lari namanya?" tanya Putri.
Putri berjalan cepat menuju ke arah sang adik. "Cepat katakan, di mana Zia?" tanya Putri dengan tatapan matanya yang tajam dan tidak bersahabat.
"Maaf, Mbak, aku tidak bisa mengatakannya."
"Katakan, Bara. Katakan di mana Zi--aakhh …" Putri meringis, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit dan keram.
__ADS_1
"Mbak?" Bara langsung memeluk tubuh Putri, agar tidak terjatuh ke lantai.
Pria itu langsung membawa sang kakak ke dalam gendongannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Arash yang baru saja tiba di sana.
"Sebaiknya kita bawa Mbak Zia ke rumah sakit dulu," usul Bara.
Arash langsung menghubungi supir untuk menyiapkan mobil. Pria itu juga menyuruh Mbak Anggel untuk bersiap memerika keadaan Putri. Arash melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, bahkan pria itu sampai membunyikan sirine untuk meminta jalan. Sesampainya di rumah sakit, Putri langsung di ambil oleh tim medis.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Bara?" tanya Arash, di saat Putri sudah di tangani oleh tim medis.
Bara menghela napasnya pelan. "Ini urusan keluarga, aku tidak akan memberitahukannya kepada kamu."
"Aku adalah suami sah Putri, dan otomatis aku juga sudah menjadi bagian keluarga kalian, Bara. Aku rasa kamu tahu akan silsilaha itu. Jadi, sekarang katakan, apa penyebab Putri sampai kesakitan?" tanya Arash dengan kesal.
Bara mencengkram kembali tangan Arash, kemudian menghempaskannya sehingga terlepas dari jas yang dia kenakan.
"Ini semua karena salahmu. Jadi, jangan pernah menyalahkan orang lain," geram Bara.
"Apa semua ini karena Zia?" tuduh Arash.
"Jaga omonganmu, Zia tidak salah di sini. Jika kamu tidak membencinya terlalu dalam, maka Zia tidak akan pergi. Dan jika kamu tidak menyalahkan semua kesalahan pada saat kejadian di malam itu kepada Zia, maka dia tidak akan pergi. Dan jika kamu langsung menuruti perkataanku, agar kamu yang menjauh dari Zia, maka Zia tidak akan pergi," geram Bara.
"Tapi apa? Kamu malah menghampiri Zia dan mengatakan jika dia adalah pembawa sial. Iya, kan? Jadi, demi kamu dan keluarga kamu tidak terkena sial yang ada di dirinya, maka Zia pergi," ujar Bara dengan tegas dan jelas.
__ADS_1
"Ap-apa? Jadi, Zia pergi karena perkataan Arash?" lirih Mama Nayna yang mendengar semua perkataan Bara.
Tidak hanya Mama Nayna, Papa Satria, Papa Arka dan Mama Kesya juga mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Bara.
"Berani sekali kamu mengatai Zia pembawa sial, Arash?" geram Papa Satria yang sudah berjalan mendekat ke arah Arash.
"Pa, Arash tidak bermaksud begitu. Tapi, menurut Arash, keberadaan Zia di dekat Putri selalu membuat dia terluka, Pa. Buktinya hari ini, Putri kesakitan karena Zia, padahal dia tidak ada di sini, Pa. Namanya saja sudah membuat Putri kesakitan. Jadi, gak salah kan jika Arash mengatakan kalau Zia itu pembawa sial bagi Putri?"
Plaaak …
Sebuah tamparan pun mendarat di pipi Arash, sehingga membuat sudut bibir pria itu berdarah.
"Dengar, Arash. Tidak ada orang tua mana pun yang rela jika anaknya di hina. Dan ini peringatan pertama dan terakhir untuk kamu, jangan pernah kamu menghina anak Papa. Atau Papa akan membuat kamu berpisah dengan Putri," ancam Papa Satria yang mana membuat Arash terdiam dan tak berani berkutik.
Mama Kesya dan Papa Arka hanya bisa menghela napasnya berat, dia tidak menyangka jika Arash bisa berpikiran seperti itu.
"Arash, Papa kecewa sama kamu. Selama ini Papa selalu mengajarkan kamu untuk tidak mudah menilai seseorang dari penampilannya. Tapi kali ini, Papa benar-benar kecewa sama kamu, Arash. Papa seolah tidak mengenal siapa kamu sekarang. Kamu tidak seperti Arash yang dulu, yang bisa berpikir dengan jernih dan tenang di setiap ada masalah," ungkap Papa Arka.
"Pa---" lirih Arash yang merasa bersalah karena sudah membuat orang tuanya merasa kecewa terhadap dirinya.
Tanpa Mama Kesya berbicara, pria itu sudah dapat menduga, jika wanita yang telah melahirkannya ke dunia juga merasa kecewa atas apa yang telah dia katakan tadi.
"Maafin Arash, Ma," lirih Arash menyesal.
Tapi, di dalam hati pria itu masih merasa jika Zia adalah pembawa sial bagi dirinya dan Putri.
__ADS_1