Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 353


__ADS_3

Zia berlari menjauhi Arash, gadis itu benar-benar merasa murka terhadap calon kakak iparnya.


"Pria bangsat," maki Zia sambil mengusap air matanya dengan kasar. "Mana ciuman pertama aku, lagi."


Haap ...


Langkah Zia terhenti, di saat sebuah tangan mencekal tangannya.


"Zia, what happened?"


Zia yang melihat sosok pria yang selama ini mengisi hatinya pun, semakin tak kuasa menahan air matanya.


"Hei, Zee, apa yang terjadi? kenapa kamu menangis?"


Davidson Antonius. Pria berdarah Indo-australia itu pun mengusap air mata Zia yang semakin menganak sungai.


"Dav, bawa aku pergi dari sini, pliiss .." mohon Zia.


David pun langsung menganggukkan kepalanya, pria yang berstatus sebagai sahabat Zia pun langsung merangkul bahu gadis itu dan membawanya ke parkiran mobil.

__ADS_1


Arash berlari mencoba mengejar Zia, akan tetapi pria itu malah kehilangan calon adik iparnya.


"Aaaakkhh ...." pekik Arash sambil meremas rambutnya karena sudah kehilangan jejak calon adik iparnya itu.


*


Arash baru saja tiba di bandara, pria itu langsung menuju kantor polisi untuk bertugas. Sedikit terkejut saat membuka pintu, Arash pun dengan cepat merubah ekspresi wajahnya.


"Ngapain kamu ke sana, Rash?" tanya Abash.


Ya, pria yang sudah menunggu kedatangan Arash adalah Abash--kembaran pria itu.


"Kamu tau maksud aku, Rash. Jangan berpura-pura seolah kamu tidak mengerti," ujar Abash menahan rasa geramnya.


Sejak kehilangan Putri dua tahun lalu, membuat jati diri Arash yang ceria, baik, dan ramah pun seolah hilang entah ke mana. Hilangnya Putri, seolah membawa jiwa Arash juga ikut pergi entah kemana.


Namun sayangnya, saat Putri kembali, membuat sifat posesif, agresif, dan keegoisan Arash pun muncul. Arash yang sekarang bukanlah lagi Arash yang dulu.


Benar apa kata orang tua-tua dulu, di mana mereka mereka mengatakan jika 'manusia berubah, karena manusia lainnya'. Arash berubah, karena kehilangan Putri.

__ADS_1


Arash duduk di kursinya, pria itu menarik napas panjang dan menghelanya secara kasar.


"Aku hanya memintanya untuk pulang, apa itu salah?" tanya Arash melirik ke arah Abash.


"Meminta Zia untuk pulang itu bukanlah hal yang salah, tapi cara kamu yang salah, Rash. Kamu seharusnya tidak perlu ikut campur terhadap apa yang terjadi dengan Putri dan keluarga. Seharusnya kamu----"


"Aku ini calon suaminya Putri, sudah seharusnya aku ikut campur atas apa yang terjadi dengan Putri," potong Arash dengan tegas.


Abash mendengus sebal, pria itu rasanya tidak lagi mengenal kembarannya saat ini.


"Kamu salah, Rash. Kamu salah. Sebagai kembaran kamu, sudah seharusnya aku memperingatkan kamu. Apa yang kamu lakukan itu adalah salah. Jangan pernah kamu ikut campur dalam urusan Putri dan Zia," tegas Abash.


"Cukup, Bash. Kamu gak tau apa-apa. Jadi, jangan ikut campur dengan masalah aku."


Abash bangkit dari duduknya, pria itu pun menatap tajam ke arah sang kembaran.


"Kamu yang gak tahu apa-apa, Rash. Kamu tidak tahu apa-apa karena mata hati kamu sudah tertutup dan tidak bisa menilai apa yang terjadi di sekitar kamu. Saran aku, sebaiknya kamu kembali berubah menjadi Arash yang dulu, agar kamu tidak salah dalam menilai seseorang, Rash, sebelum kamu menyesal seumur hidup kamu."


Setelah mengatakan hal itu, Abash pun keluar dari ruangan Arash, pria itu merasa sia-sia saja telah menasehati sang kembaran. Karena bagi Arash, apapun tentang Zia, tetaplah gadis itu yang salah dan egois.

__ADS_1


__ADS_2