Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 142 - antar pulang


__ADS_3

"Kalian berdua?"


Putri dan Abash pun menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu?" seru Abash.


"Pak Arash?" seru Putri.


Arash pun tersenyum penuh arti melihat Abash bersama Putri. Sebelumnya dia tidak pernah melihat jika Abash bisa sedekat ini dengan seorang wanita. Tetapi, melihat kedekatan Putri dan Abash, membuat Arash berpikir hal yang lain.


"Apa mereka memiliki hubungan?" batin Arash.


"Arash!" panggil Tante Lena yang mana membuat pria itu menoleh.


"Nih, pesananya udah siap," ujar Tante Lena sambil menunjukkan pesanan go food milik Arash.


"Kamu narik?" tanya Abash dengan kengung mengkerut.


"Heum, panasin motor aja," kekeh Arash. "Ya sudah kalau gitu, aku duluan ya. Kalian lanjut saja lagi mengobrolnya," ujar Arash dan berjalan meninggalkan Putri dan Abash.


"Duluan yaa," ujar Arash pamit kepada Putri dan Abash.


"Hmm, hati-hati," jawab Abash.


Abash pun menoleh ke arah Putri yang terkekeh pelan.

__ADS_1


"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Abash.


"Anda tau, Pak Abash. Tadi lagi saya pesan ojek online, awalnya saya gak curiga dengan ojolnya yang bernama Arash. Tapi, siapa yang menyangka jika orang yang menjadi ojolnya ya benar-benar Pak Arash," kekeh Putri.


"Jadi, tadi pagi kamu ngojeknya sama Arash?" tanya Abash.


"Iya," kekeh Putri. "Lucu aja gitu, saya pikir awalnya jika orang-orang kaya yang ngojek itu hanya sebuah konten. Dan sekarang saya malah menyaksikannya sendiri," kekeh Putri.


Abash pun mengangguk-anggukan kepalanya mendengar cerita Putri. Dalam pikiran pria itu saat ini adalah, bagaimana keadaan Sifa. Apa kekasihnya itu sudah sampai di apartemen dengan selamat atau belum. Atau kekasihnya itu pulang di antara dengan Bimo?


Pikiran Abash pun melayang entah kemana. Jika saja sang ratu tidak meminta di jemput oleh dirinya, mungkin saat ini Abash sudah mengantarkan sang kekasih pulang dengan selamat.


"Pak Abash, kok melamun?" tanya Putri sambil melambaikan tangannya ke arah Abash.


"Ah ya, maaf. Saya lagi mikirin kerjaan," bohong Abash.


"Putri? Abash?" tegur Mama Kesya yang baru saja turun dari kantornya.


"Ma," sapa Abash.


"Tante," ujar Putri dan bangkit dari duduknya. gadis itu pun langsung mencium punggung tangan Mama Kesya.


"Kenapa gak bilang kalau mau ke sini?" tanya Mama Kesya.


"Sebenarnya gak ada rencana sih, Tante. Makanya gak kabari Tante kalau Putri mau ke sini," ujar Putri dengan tersenyum.

__ADS_1


"Hmm, begitu ya. Tapi gak papa deh, yang penting kamu udah ke sini." kekeh Mama Kesya.


"Ah ya, gimana dengan rasa cake-nya?" tanya Mama Kesya.


"Enak banget Tante. Rasa capucinonya itu pas banget," puji Putri.


"Oh ya? Syukur lah kalau kamu suka."


"Iya, Tante. Putri itu suka banget sama makan kue dan bikinnya. Soalnya Opa dan Mama pintar bikin kue, jadi Putri ngikut deh," kekeh Putri.


"Kamu suka buat kue? tanya Mama Kesya.


"Iya, Tante. Suka banget. Tapi ya itu, kue buatan Putri gak seenak punya Mama dan punya Tante," ujar Putri.


"Mama Nayna maksud kamu?" tanya Mama Kesya kepada Putri.


"Iya, Tante. Mama itu pinter buat kue. Sebenarnya Papa udah mau bikinin cofee cake juga untuk Mama, tapi Mama menolaknya karena ingin fokus membesarkan kami. Sekarang, alasan Mama beda lagi saat Papa tawarin buka toko, kata Mama, biar Opa Muklis aja yang buka toko, sedangkan Mama cukup membantu saja," ujar Putri yang dengan wajah polosnya.


"Oh ya, ini kamu ada rencana ke mana lagi, Put?" tanya Mama Kesya.


"Gak ada ke mana-mana lagi sih, Tante. Habis ini mau langsung pulang."


"Oh, ya sudah kalau begitu, biar di antar Abash aja ya," tawar Mama Kesya.


"Eh, gak usah Tante. Saya bisa pulang sendiri kok," tolak Putri.

__ADS_1


"Gak papa. Biar di antar Abash aja," titah Mama Kesya. "Kamu bisa kan antar Putri dulu? Baru jemput Mama lagi ke sini?" titah Mama Kesya kepada sang anak.


__ADS_2