Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 191 - Cinta dan Kagum


__ADS_3

Abash sudah mengatakan kepada Putri, jika dirinya akan makan malam bersama Martin dan juga Abash. Awalnya Putri ingin ikut, tetapi gadis itu membatalkannya karena dia harus menyelesaikan laporan yang harus di berikan esok pagi ke pengadilan.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Putri pun baru saja menyesakkan laporannya.


"Hmm, Apa Arash belum pulang?" tanya Putri entah kepada siapa.


Putri pun tiba-tiba memikirkan apa yang di katakan Arash tadi sore. Gadis itu merasa bingung, haruskah dia memberitahu kepada Arash? Jika Sifa dan Abash berpacaran dan mereka saling mencintai?


Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun kembali merasa ragu dengan keputusannya itu. Jika dia mengatakan hal tersebut kepada Arash, bukannya dia sudah terlalu jauh untuk ikut campur dalam hubungan Sifa dan Abash?


Tapi, di sisi lain, gadis itu merasa kasihan dengan Arash yang terlihat sangat mengharapkan Sifa.


"Haahh ... Sifa ..." lirih Putri sambil menghela napasnya pelan dan sedikit kasar.


"Dia memang tidak terlalu cantik. Tapi, dia sebenarnya cantik. Hanya saja statusnya yang tidak mendukung," lirih Putri. "Tidak, dia sebenarnya memang cantik, bahkan jika dia berada di kalangan yang sama sekali pun dengan Pak Abash dan Arash, dia tetap cantik," gumam Putri.


"Akh, kenapa aku jadi hubung-hububgi ke status sosial sih?" bingung Putri. "Memangnya kenapa kalau Arash dan Pak Abash menyukai Sifa? Dia patut di cintai karena cantik dan pekerja keras," ujar Putri kepada dirinya sendiri.


"Tapi, kasihan Arash," lirihnya dengan sendu.


Putri tiba-tiba mengernyitkan keningnya. Gadis itu baru menyadari jika dirinya sedari tadi terus mengasihani Arash. Memangnya kenapa jika mereka menyukai Sifa? Ada yang salah? Lalu hubungannya apa dengan dirinya jika Arash merasa sakit hati dan kecewa?


"Putri ... apa yang kamu pikirkan?" lirih Putri dengan menepuk kepalanya pelan.


Mungkin malam ini gadis itu membutuhkan secangkir coklat hangat sebelum tidur.


Putri pun melangkahkan kakinya ke luar kamar, dia berjalan menuju dapur untuk membuat coklat hangat. Tak seorang pun dia jumpai di living room, biasanya Arash selalu berada di sana hingga pukul tiga pagi, sedangkan saat ini masih pukul sebelas malam lewat.


"Apa dia belum pulang?" lirih Putri sambil menatap pintu kamar Arash.


Desi belum pulang, karena gadis itu harus membuat laporan tentang pekerjaannya seminggu ini sebagai pengawal pribadi keluarga Moza. Gadis itu sudah memberitahu Putri jika dirinya akan pulang terlambat.


Putri pun melanjutkan langkahnya menuju dapur, dia pun mencari bubuk coklat dan memanaskan air. Selama seminggu ini, Putri sudah terbiasa mondar mandir di dapur Arash. Bahkan gadis itu sering membuatkan sarapan untuk mereka bertiga bersama Desi.


Tapi, untuk urusan membuka kulkas, Putri masih enggan melakukannya. Dia masih memiliki trauma dan takut untuk membuka lemari pendingin itu. Dan untuk urusan membuka kulkas serta mengeluarkan bahan-bahan yang ada di dalam sana, Desi lah yang sering membantu gadis itu mengambil apa yang dia perlukan.


Air pun sudah mendidih, Putri menuangkan air tersebut ke dalam mug, kemudian mengaduknya hingga tercampur rata.


"Hmm ... Enaknya ngapain, ya?" lirih Putri merasa bingung harus melakukan apa.

__ADS_1


Gadis itu pun berjalan menuju living room, kemudian langkahnya terhenti di saat melihat gorden yang masih terbuka. Putri pun melangkahkan kakinya menuju gorden tersebut untuk menutupnya, kemudian dia mengurungkan niatnya di saat melihat pemandangan malam yang indah dari lantai apartemen yang dia tempati dan membuka pintu kaca itu.


"Cantik," lirih Putri dan berdiri di pinggir balkon.


Putri membiarkan angin menyentuh kulit dan meniup rambutnya yang tergerai. Dia benar-benar menikmati pemandangan lampu dari gedung-gedung oencakar langit Yanga da di seberang gedung aoartenenya, dibtambah lagi dengan lampu kendaraan yang melaju melesat, bagaikan meteor yang ada di bawah kakinya saat ini.


"Kenapa baru sadar ya? Kalau pemandangan di apartemen ini snaagt indah?" lirih Putri sambil menikmati coklat hangat yang ada di tangannya.


"Kenapa belum tidur?"


Suara bariton yang berasal dari belakang putri dan mengejutkan gadis itu pun, membuat Putri menumpahkan sedikit coklat hangatnya ke baju.


"Aahh ..." Putri pun mengibas-ngibaskan bajunya, membersihkan tumpahan coklat yang ada di bajunya.


"Pakai ini." Arash memberikan sapu tangan miliknya kepada Putri.


"Terima kasih," ujar Putri sambil mengambil sapu tangan milik Arash.


"Maaf, sudah mengagetkan kamu." Arash pun berdiri di samping Putri, pria itu menatap jauh ke arah gedung yang ada di seberang gedung aoartenenya.


"Gak papa. Lagian gak sepenuhnya kamu yang salah." Putri pun ikut melihat ke arah gedung yang ada di seberang gedung apartemen mereka.


Hening, Putri dan Arash pun hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Put," panggil Arash.


"Hmm?" Putri menoleh dan menatap ke arah oria yang saat ini masih setia menatap ke arah depan.


"Menurut kamu, Sifa suka gak ya sama aku?"


Pertanyaan Arash membuat Putri merasa menjadi serba salah. Jika tidak memberitahu pria itu sekarang tentang Sifa dan Abash, maka pria yang ada di hadapannya saat ini akan semakin terluka nantinya.


"I-itu----,"


"Hmm, kamu aja yang perempuan, jawabnya gugup gitu," kekeh Arash yang mana membuat Putri semakin mengernyitkan keningnya.


"Aku gak tau, apa ini benar-benar cinta, atau hanya rasa kagum dengan kepribadian Sifa," ujar Arash yang mana membuat Putri memasang telinga baik-baik.


"Sifa adalah sosok gadis yang aku cari selama ini. Mandiri, pemberani, pekerja keras, sederhana, semua yang aku inginkan ada pada Sifa. Aku berencana ingin melamarnya, karena dalam hidupku tidak ada prinsip berpacaran. Jika sudah suka, maka mari ke jenjang pernikahan," ujar Arash mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


"Tapi, aku merasa ada sesuatu yang menjanggal saat ini. Sikapnya kepadaku siang tadi, seolah menunjukkan jika dirinya merasa tak nyaman berada di dekatku. Apa karena berada di depan teman-temannya? Karena itu dia merasa tak nyaman?" tanya Arash kepada Putri.


"Selama ini bagaimana?" tanya Putri balik.


"Sifa terlihat nyaman berada di dekatku," jawab Arash dengan penuh keyakinan.


"Benarkah?" tanya Putri penasaran.


"Iya, buktinya saat kami duduk di taman, dia tidak keberatan saat aku membersihkan bibirnya yang belepotan," ujar Arash kepada Putri.


"Ap-apa?" Putri merasa terkejut dengan ala yang di katakan oleh Arash.


Benarkah Sifa tidak keberatan atas perlakuan Arash kepadanya? Tapi kenapa?


"Kapan itu?" tanya Putri memastikan, agar dia tidak salah dalam menilai waktu. Bisa saja kejadian itu sudah sangat lama sekali, sebelum Abash dan Sifa jadian.


"Saat kamu dan Abash ke Bandung."


"Apa?" pekik Putri terkejut. Putri pun menggelengkan kepalanya, dia saat ini malah menjadi bingung dengan sikap Sifa kepada Arash yang sebenarnya bagaimana.


Benarkah Sifa juga memberikan harapan kepada Arash? Bukannya dia sudah menjalin hubungan dengan jembatan pria itu?


Tapi kenapa?


"Kenapa? Kok, kamu terkejut begitu?" tanya Arash dengan menatap wajah Putri.


"Hah? Ah gak. Gak papa kok." Putri pun berdehem pelan untuk membasahi tenggorokannya.


"Apa kamu benar-benar yakin mengungkapkan perasaan kamu kepada Sifa?" tanya Putri.


"Tentu, kenapa?"


"Bukan kenapa-napa. Hanya saja, tadi kamu mengatakan jika Sifa adalah gadis impian kamu. Kamu merasa kagum dengan dia. Setau aku, rasa kagum dan cinta itu beda tipis. Terkadang kita mengira, jika kita mencintai dia, tetapi sebenarnya yang kita rasakan hanyalah rasa kagum. Dan seringnya hal itu terjadi dengan seseorang yang kita inginkan," ujar Putri yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.


"Cinta dan kagum itu perbedaannya tipis banget. Kamu harus bisa membedakannya, jangan salah pilih nantinya."


Jangan di tanya bagaimana degup jantung Putri saat ini. Dia sudah berpikir keras, agar tidak mengatakan tentang hubungan Abash dan Sifa. Biarkanlah itu menjadi urusan mereka. Putri tidak ingin salah melangkah dan di sangka lancang karena telah ikut campur dalam urusan pribadi orang lain. Jika saja Abash tidak mengatakan kepadanya, untuk tidak mengatakan tentang hubungan pria itu dengan Sifa, mungkin Putri sudah mengungkapkannya saat ini juga kepada Arash.


"Kamu ada benarnya," ujar Arash yang mana membuat Putri kembali menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana cara membedakan cinta dan kagum?" tanya Arash.


"Jika kamu merasa takut kehilangannya, maka kamu mencintainya."


__ADS_2