Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 392


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Abash dan Sifa pun sepakat untuk langsung beristirahat saja, karena ini juga sudah sangat larut malam. Mereka harus butuh istirahat yang cukup untuk melakukan aktfitas yang lainnya.


Sifa sudah siap dengan piyama tidurnya, wanita itu juga sudah berjalan mendekati tempat tidur.


"Loh, Mas, katanya mau langsung tidur?" tegur Sifa, di saat melihat sang suami malah memilih menghidupkan laptopnya dari pada berbaring di sampingnya.


"Iya, sayang. Aku kerjakan sedikit lagi perkerjaan, ya. Jadi, besok aku gak kepikiran lagi saat kita pergi," sahut Abash tanpa sadar dan keceplosan berbicara.


"Pergi? Pergi ke mana, Mas?" tanya Sifa yang sudah berjalan mendekat ke arah sang suami.


Abash terdiam, bahkan jari-jari tangan pria itu yang sedang menari-nari di atas keybord pun terhenti. Abash sejenak berpikir, apakah dia tadi ada salah dalam berucap?


"Kok malah diem, Mas? Memangnya Mas mau pergi ke mana?" ulang Sifa yang sudah berada di dekat sang suami.


"Pergi? Memangnya aku tadi bilang kata pergi?" tanya Abash memastikan.


"Iya, Mas bilang kalau besok kita akan pergi. Memangnya mau pergi ke mana?" Sifa pun mengulang kembali pertanyaannya dengan sabar.


"Emm, mungkin kamu salah dengar kali, sayang. Maksud aku, aku yang pergi. Pergi rapat, iya," elak Abash sambil terkekeh pelan.


Sifa menyipitkan keningnya, menatap wajah sang suami yang sangat mencurigakan saat ini.


"Yang benar kamu, Mas? Kamu lagi gak bohong, kan?" tebak Sifa.


"Emm, bohong? Bohong kenapa?" Abash pun menarik pinggang Sifa, sehingga membuat wanita itu berakhir di atas pangkuannya.


"Ya, mana aku tahu, Mas," cicit Sifa dengan sendu.


"Sayang, aku gak sedang berbohong, kok. Aku serius. Aku memang berencana untuk pergi bisnis. Ya, kamu tahu sendirikan? Akan terlalu merepotkan jika aku pergi, sedangkan pekerjaanku masih ada yang terbengkalai. Makanya aku ingin menyelesaikan satu persatu pekerjaan aku, Sayang," ujar Abash dengan lembut sambil merapikan rambut Sifa.


"Kamu gak bohong kan sama aku?" tanya Sifa yang sudah menatap wajah sang suami dengan sendu.


Sebenarnya, ada sesuatu hal yang sangat Sifa khawatirkan. Sifa sangat takut, jika Abash tidak ingin menyentuhnya karena merasa jijik dengan kakinya yang terdapat bekas parutan bekas luka. Bisa saja kan, pria itu menjadikan alasan jika tidak merasa tega kalau harus melihat sang istri kesakitan? Padahal Abash merasa kehilangan napsu di saat melihat kaki Sifa yang mulus.


Ya, begitulah pemikiran Sifa selama sebulan ini, karena sang suami masih saja tidak kunjung menyentuh dirinya dan menjadikan dirinya sebagai seorang istri seutuhnya.


"Aku gak bohong, kok. Lagian untuk apa aku bohong, sayang," bisik Abash dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Sifa.


"Ya mana aku tahu, Mas," cicit Sifa dengan nada suara yang sedikit merajuk.

__ADS_1


Sebenarnya Sifa ingin bertanya, apakah pria itu merasa jijik untuk menyentuh dirinya? Karena memiliki bekas luka parutan yang ada pada salah satu kakinya? Tapi, Sifa tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Sifa takut, jika apa yang dia pikirkan ternyata benar. Untuk itu, Sifa memilih diam dan berharap jika suatu saat nanti Abash bisa menerima kekurangannya itu.


"Ada apa, sayang? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Abash yang melihat ada sebuah keraguan di dalam raut wajah sang istri.


"Hmm? Tidak, aku tidak sedang memikirkan apa-apa," jawab Sifa pelan.


Abash menghela napasnya pelan, pria itu pun menyuruh Sifa untuk bangkit dari duduknya.


"Ayo, aku temani kamu tidur," ajak Abash dan merangkul pinggang Sifa berjalan menuju ke tempat tidur.


"Kerjaan kamu gimana, Mas?" tanya Sifa yang sudah menghentikan langkahnya.


"Aku akan menyelesaikannya nanti. Jika aku tertidur bersama dengan kamu, aku bisa mengerjakannya saat subuh," jawab Abash dengan santai.


Sifa merasa tidak enak, wanita itu pun berpikir jika dirinya telah mengganggu pekerjaan penting sang suami. Sifa takut, jika Abash akan semakin ilfill dengan dirinya yang terlalu protektif dan tidak dapat memahami pekerjaan sang suami, padahal mereka dalam jalur yang sama soal pekerjaan.


"Mas, sebaiknya kamu lanjut kerja aja, ya. Maaf, karena aku sudah mengganggu kamu bekerja, Mas. Aku bisa tidur sendiri, kok," tolak Sifa yang sudah menurunkan tangan Abash dari pinggangnya.


"Tidak, sayang. Aku tidak akan membiarkan kamu tidur sendiri." Abash pun kembali merangkul sang istri, kemudian mendorong pelan tubuh Sifa agar kembali berjalan.


Setelah berada di atas tempat tidur, Abash memberikan lengannya untuk dijadikan bantal oleh sang istri.


"Gak papa kok, sayang. Memang sudah waktunya aku tidur. Jadi bukan suatu masalah yang besar."


Abash pun semakin menarik tubuh Sifa ke dalam pelukannya, tak lupa pria itu mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri.


"Tidurlah," bisik Abash dengan mesra dan menepuk-nepuk pelan lengan Sifa.


Rasa hangat dan nyaman, di tambah aroma musk yang menguar dari tubuh sang suami pun, membuat Sifa semakin merasa nyaman dan mengantuk. Tak butuh waktu lama bagi Sifa untuk terlelap ke dalam tidurnya, karena pada dasarnya tempat yang paling nyaman untuknya tidur adalah di dalam pelukan sang suami.


Sejam telah berlalu, Abash yang ternyata juga ikut tertidur pun tiba-tiba saja terbangun, karena teringat akan pekerjaannya yang belum selesai. Dengan perlahan, Abash menarik tangannya dari kepala Sifa, kemudian menggantikan lengannya dengan bantal sebagai penyangga kepala sang istri.


"Tidur yang nyenyak, sayang," bisik Abash sambil mengusap kepala Sifa dengan lembut. Tak lupa pula pria itu kembali mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri.


Abash turun dari tempat tidur secara perlahan, agar tidak membangunkan sang istri. Pria itu pun kembali berjalan menuju sofa, di mana laptopnya masih berada di sana dengan keadaan menyala.


Agar tidak membuat sang istri terganggu tidurnya, Abash pun memilih untuk keluar kamar dan mengerjakan pekerjaannya di ruang living room. Abash takut, jika suara ketikannya dapat mengganggu tidur Sifa.


Di malam yang sunyi ini, Abash berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya untuk tiga hari ke depan. Abash tidka ingin jika momen romantisnya dengan sang istri terganggu dengan sebuah pekerjaan. Maka dari itu, dia harus menyelesaikan pekerjaan sebelum berangkat.

__ADS_1


Terlalu mendadak memang, tapi itu bukanlah sebuah masalah. Abash pasti bisa melakukan yang terbaik di setiap pekerjaannya.


Waktu terus berlalu, Abash masih fokus dengan pekerjaannya, hingga azan subuh pun terdengar di telinga.


"Sudah subuh, sebaiknya aku sholat dulu."


Abash pun menghentikan pekerjaannya, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Di saat dirinya baru saja masuk ke dalam kamar, tubuh Sifa pun bergerak, menandakan jika wanita itu juga akan terbangun dari tidurnya.


"Mas, kamu sudah bangun?" tanya Sifa dengan suara paraunya.


"Ya," jawab Abash dengan tersenyum.


Sifa mengernyitkan kening dan matanya, menatap sang suami dengan lekat.


"Kamu gak tidur?" tanya Sifa memastikan.


"Tidur, kok. Siapa bilang gak tidur?" jawab Abash setengah berbohong.


Ya, Abash tidak benar-benar berbohong, kan? Nyatanya pria itu memang sempat tertidur di saat sedang menidurkan Sifa tadi.


"Kamu gak bohong kan, Mas?" tanya Sifa memastikan.


"Enggak, sayang."


Sifa pun menoleh ke arah sofa, di mana laptop Abash berada terakhir kalinya di dalam ingatan Sifa.


"Laptop kamu di mana, Mas?" tanya Sifa. "Kamu kerja di living room?" tebaknya lagi.


"Emm, aku baru saja memindahkan laptopku ke luar. Aku berencana akan melanjutkan pekerjaan setelah sholat subuh sambil mendengarkan berita yang sedang tersiar di televisi," alibi Abash.


"Oh," lirih Sifa yang memilih mempercayai ucapan sang suami.


Sifa pun bangkit dari tempat tidur.


"Kamu mau ke mana, sayang?" tanya Abash dengan nada menggoda.


"Mau pipis, Mas, jangan ikuti aku," ujar Sifa sambil berlari dan dengan cepat menutup pintu kamar mandi.


Hal itu pun membuat Abash tertawa terbahak-bahak, karena merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh sang istri.

__ADS_1


__ADS_2