
Kabar tentang Sifa melamar Abash pun langsung tersebar ke seluruh keluarga. Mereka semua sangat takjub dengan apa yang Sifa lakukan. Rasa kagum dan bangga terhadap gadis itu pun semakin bertambah. Jarang-jarang kan ada cewek yang melamar kekasihnya. Biasanya, para cewek selalu menunggu untuk di lamar.
Orang yang paling bahagia sampai berteriak histeris pun adalah Mama Kesya. Ini adalah moment yang sudah di tunggu-tunggu oleh wanita paruh baya tersebut sejak lama.
"Akhirnya, Abash akan melepas masa lajangnya," seru Mama Kesya kepada semua orang yang dia temui.
"Wah, selamat, Mbak. Akhirnya Abash menikah juga," ujar Mama Nayna yang juga ikut merasa bahagia mendengar kabar baik tersebut.
Mama Kesya pun menunggu kepulangan Abash. Wanita paruh baya itu berharap jika Abash juga membawa Sifa pulang ke rumah. Ya, walaupun hal itu sangat kecil kemungkinannya terjadi, karena pastinya Sifa masi merasa lelah dari perjalanan jauhnya.
"Nya, Mas Abash sudah pulang," adu pelayan yang bekerja kepada Mama Kesya.
Mama Kesya pun langsung berlari ke arah sang putra, menyambut kepulangan anak ke empatnya itu.
"Ma!" sapa Abash dengan kening mengkerut, karena Mama Kesya sangat tumben sekali menyambut kepulangannya dengan senyuman yang lebar.
"Sifa mana?" tanya Mama Kesya mencari keberadaan calon menantunya itu.
"Sifa udah pulang, Ma. Dia kecapean dan masih jetlag juga," ujar Abash sambil merangkul Mama Kesya untuk masuk ke dalam rumah.
"Oh ya, Mama udah dengar kalau Sifa tadi melamar kamu, iya kan? Gimana ceritanya? Kok bisa sih?" tanya Mama kesya penuh dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
"Mama tau dari mana?" tanya Abash dengan kening yang mengkerut. "Ah, pasti dari Zia, iya kan?"
Mama Kesya menggelengkan kepalanya, sehingga membuat Abash mengernyitkan kening. Setau Abash, hanya Zia yang mengetahui berita ini. Atau jangan-jangan ...
"Enggak, tadi anak buah papa yang kasih laporan ke mama, kalau kamu di lamar Sifa. Dan kalian akan mengadakan pernikahan secepatnya, benar?" tanya Mama Kesya.
"Ya ampun, Ma. Mama masih aja memata-matai Abash," kekeh Abash sambil menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan kebiasaan sang mama. "Iya, Ma. Abash dan Sifa akan menikah secepatnya."
__ADS_1
"Alhamdulillah ...." seru Mama Kesya dengan penuh rasa syukur. "Jadi, kapan kalian rencananya akan menikah?" tanya Mama Kesya lagi.
"Insya Allah minggu depan, Ma. Rencananya habis acara empat bulanan Putri, Abash mau memberitahukan kabar ini kepada seluruh keluarga untuk di jadikan sebuah kejutan. Eh, gak taunya malah gagal rencana Abash buat kasih kejutan," kekeh Abash.
"Gak papa gagal, asal pernikahannya jangan gagal lagi, ya?"
"Insya Allah, Ma."
"Eh tunggu, tadi kamu bilang minggu ini? Apa gak kecepatan itu, Bash?" tanya Mama Kesya yang baru saja menyadari kapan waktu yang Abash tentukan.
"Enggak, Ma. Bahkan kalau bisa sih Abash maunya nikah besok," kekeh Abash.
"Ya ampun, dasar gak sabaran kamu ini." Mama Kesya menggelengkan kepalanya. "Kenapa gak bulan depan aja, Bash? Jadi semua persiapannya bisa di rencanakan dengan sempurna," usul Mama Kesya.
"Enggak, Ma. Sifa dan Abash sudah sepakat untuk merayakan pernikahan kami secara sederhana saja. Dan untuk masalah persiapan, hal itu tidak perlu Mama khawatirkan. Uang Abash cukup, bahkan lebih kok untuk membayar pihak wedding organizer," ujar Abash dengan gaya sombongnya.
"Kamu ini. Iya deh, iya. Mama percaya, kalau duit kamu banyak."
"Perasaan baru kemarin kamu tidur di pangkuan Mama, bermanja-manja dengan Mama. Minta di pijitin kepalanya sama Mama, terus minta di suapin kalau lagi malas makan, hiks ..."
"Maa .." tegur Abash yang dapat merasakan apa yang Mama Kesya rasakan.
Mama Kesya menghapus air matanya yang terjatuh membasahi pipi. "Kalau kamu sudah nikah, kamu jangan lupain Mama, ya?" pinta Mama Kesya.
"Ma, sampai kapan pun gak akan ada yang bisa menggantikan tempat Mama di hati Abash. Mama wanita nomor satu yang ada di dalam hati Abash, Ma," ungkap Abash sambil memeluk sang mama.
"Dasar pembohong. Sama Sifa kamu juga bilangnya gitu, kalau Sifa nomor satu di hati kamu," kesal Mama Kesya sambil memukul punggung sang putra.
"Kalau Sifa memang nomor satu di hati Abash, Ma. Tapi soal cinta, kalau Mama kan beda lagi. Mama itu perempuan nomor satu di hati Abash dan Sifa yang kedua," ujar Abash tersenyum dengan sangat manisnya.
__ADS_1
"Ya ampun, ternyata anak Mama yang terkenal dingin kayak kulkas ini bisa semanis ini, ya?" ujar Mama Kesya sambil menangkup pipi sang putra.
"Harus manis dong, Ma. Kalau gak, Sifa gak suka."
Tawa Mama Kesya pun meledak, siapa yang menyangka jika Abash bisa selucu ini.
"Ternyata ini sisi kamu yang tidak Mama ketahui," kekeh Mama Kesya sambil mengusap air matanya yang kembali mengalir dari sudut mata.
Ternyata benar, jika seorang ibu memang sangat mengenal pribadi sang putra dari sejak kecil hingga dewasa. Tapi, ada sisi lain yang seorang ibu tidak bisa ketahui dan sisi lain itu hanya dapat di ketahui oleh orang yang dia cintai atau teman hidupnya. Dan sisi lain itu, hanya Sifa yang dapat mengetahuinya.
*
Acara empat bulanan Putri berjalan dengan lancar dan malamnya langsung di sambung dengan rapat tentang pernikahan Sifa dan Abash.
"Papa setuju-setuju aja. Lebih cepat lebih baik memang. Jika kalian sudah mantap untuk menikah minggu depan, maka Papa akan membantu menyiapkan segala keperluannya," ujar Papa Arka yang bisa Abash tebak, jika pria paruh baya itu ingin membuat acara yang meriah.
"Pa, Sifa dan Abash sepakat untuk merayakan pernikahan sederhana," sahut Abash.
"Itu kan kamu dan Sifa. Papa selaku wali Sifa, tidak setuju dengan keputusan kamu, Bash. Papa akan membuat acara yang meriah untuk anak perempuan Papa. Bukan begitu, Sifa?" tanya Papa Arka dengan tersenyum lebar yang penuh arti.
"I-itu--" Sifa merasa gugup, karena sebenarnya dia sudah membuat sumpah dan janji kepada Mama Kesya dan Papa Satria, jika dirinya tidak berjodoh dengan Abash, maka sampai kapan pun dia tetaplah menjadi putri dari calon mertuanya itu.
"Iya, Pa. Sifa adalah anak perempuan Papa dan Mama," akui Sifa yang mana membuat Abash menghela napasnya dengan pelan dan pasrah.
"Baiklah kalau begitu, semuanya sudah di putuskan. Pernikahan Abash dan Sifa akan di adakan di hotel dengan semeriah mungkin. Persiapkan gaun kalian," titah Papa Arka dengan tersenyum lebar.
"Ara, sepertinya kamu akan sangat sibuk minggu ini," ujar Papa Arka kepada Mami Ara.
"Gak masalah, Mas, yang terpenting semuanya bahagia."
__ADS_1
Ya, sudah Papa Arka putuskan, jika pernikahan Abash dan Sifa akan diselengarakan semeriah mungkin dalam waktu persiapan yang sesingkat-singkatnya.