
"Lepaskan tangan adik aku, jika kamu tidak mau berurusan dengan aku," ancam Bara dengan penuh penekakan.
Arash menoleh ke arah Bara, di mana pria itu sudah menatapnya dengan tajam.
"Lepaskan," titah Bara lagi.
"Ada apa ini?" tegur Papa Satria, saat melihat ada perang dingin di depan pintu kamar Putri.
"Arash, lepaskan tangan kamu dari lengan Zia," titah Papa Arka dengan penuh penekanan.
Arash masih menatap tajam ke arah Bara dan Zia secara bergantian, karena pria itu merasa jika kdua kakak beradik itu tidak berlaku adil kepada Putri. Kasih sayang mereka kepada Putri, hanya sebuah kebohongan, berbeda dengan kasih sayang Putri terhadap Zia dan Bara. Itulah yang ada di dalam pikiran Arash saat ini.
"Arash," bentak Papa Arka lagi, hingga akhirnya Abash ikut turun tangan dan menyentuh tangan Arash untuk terlepas dari lengan Zia.
Zia mengusap lengannya yang di cengkram erat oleh Arash, hingga membuat Bara terlihat benar-benar murka karena Arash telah menyakit adiknya.
"Dasar brengsek," maki Bara dan mendaratkan sebuah pukulan di wajah Arash.
Buugg ....
"Baraaaa ..." bentak Papa Satria saat sang putra mendaratkan pukulannya ke wajah Arash.
"Aku peringatkan, jangan pernah menyakiti Zia sedikit pun," ancam Bara.
"Bara, cukup, hentikkan," tahan Papa Satria yang sudah menahan tubuh sang putra.
Bara melepaskan tangan Papa Satria dari tubuhnya, kemudian menghampiri Zia yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Kamu gak papa, Dek?" tanya Bara.
"Aku gak papa. Mas gak papa kan? Hiks ... Mas gak terluka kan?" tanya Zia yang sudah memeluk tubuh sang abang.
"Mas gak papa, Dek. Mas gak papa."
*
Rasa benci Abash kepada Zia seolah semakin menumpuk, sedangkan orang-orang yang ada di sekelilingnya semua meminta kepada Arash untuk tidak menyalahkan Zia atas apa yang telah terjadi kepada Putri. Bahkan, Putri sendiri meminta Arash untuk memaafkan sang adik kesayangannya itu. Tapi, bagi Arash, perkataan Zia yang mengatakan jika Putri lebih baik mati, membuat Arash tidak bisa memaafkan calon adik iparnya itu. Bagi Arash, Zia sudah terlalu kelewatan.
Selama ini dirinya mencari keberadaan Putri, hingga akhirnya mereka kembali di pertemukan dalam waktu yang lama. Wajar saja kan, jika Arash membenci Zia yang berharap jika Putri lebih baik tiada?
"Rash, tenangkan diri kamu," ujar Mama Kesya sambil mengusap punggung sang putra.
Arash mencoba menenangan dirinya, akan tetapi setiap mengingat perkataan Zia dan mendengar nama gadis itu, membuat amarah Arash pun semakin membumbung tinggi. Dia tidak pernah menyangka, jika akan memiliki seorang adik ipar yang sangat dia benci. Padahal sebelumnya, Arash juga sudah menyayangi Zia, seperti adiknya sendiri. Arash juga berjanji kepada dirinya, jika dia akan membahagiakan Zia, seperti apa yang Putri lakukan.
Tapi, jika kejadian seperti ini. Pantaskah Arash menepati janjinya itu?
*
Kondisi Putri sudah terlihat semakin membaik hari demi hari. Bahkan, luka jahitan pada tubuh gadis itu pun sudah terlihat mengering.
"Put, menikahlah denganku," pinta Arash yang entah keberapa kalinya.
__ADS_1
"Rash, aku---"
"Put, kamu harus tau satu rahasia yang tidak pernah kamu tahu, Put. Di mana sampai saat ini aku yakin, jika kamu pasti berpikir jika malam itu kamu dan Abash sudah--"
"Aku tidak ingin membahasnya, Rash. Aku tidak ingin," potong Putri cepat.
"Tapi kamu harus tau, Put. Jika malam itu tidak terjadi apapun di antara kalian berdua. Aku berani bersumpah. Bahkan, kami sudah menangkap pelaku yang telah merekayasa kejadian malam itu," ujar Arash yang mana membuat Putri terlihat terkejut.
"Aku berani bersumpah, Put. Jika di antara kamu dan Abash, tidak terjadi apapaun," tegar Arash.
"Ka-kamu serius, Rash?" tanya Putri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya, aku serius, Put. Untuk itu, kamu mau kan menikah dengan aku?" pinta Arash.
Putri tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Rash. Aku mau."
Arash mengambil tangan Putri dan mengecupkan dengan penuh kasih sayang.
"Hah, kalau gak ada cctv, udah aku cium kamu, Put," kekeh Arash sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Dasar omes."
*
Dua bulan pun berlalu dengan cepat. Putri sedikit pun tidak tahu di mana Zia berada, karena tak ada seorang pun yang memberitahu di mana adiknya berada. Itu semua atas permintaan Zia yang memang tidak ingin bertemu dengan Putri dan kembali menyalahkan sang kakak, atas ketidakadilan yang di perbuat oleh sang mama.
"Rash, apa kamu belum tahu di mana Zia berada?" tanya Putri dengan tatapan mata memohon.
Saat ini mereka telah kembali ke Indonesia. Putri sudah tidak lagi bekerja sebagai pengacara, itu semua atas permintaan Arash. Arash meminta, jika Putri hanya perlu menjadi istrinya saja dan merawat anak-anak mereka nantinya.
"Pernikahan kita tinggal lima belas hari lagi, Rash. Tapi kenapa tidak ada satu orang pun yang mengatakan di mana Zia berada?" kesal Putri.
"Bahkan Mama pun tidak ingin memberitahu di mana Zia berada," rajuk Putri.
"Sayang, semua ini kan atas permintaan Zia. Jadi, kita turuti saja, ya?" bujuk Arash.
"Tapi, Rash, sebentar lagi pernikahan kita. Aku ingin Zia ikut hadir di acara pernikahan kita, Rash," rengek Putri dengan manja.
"Kita berdoa saja ya, jika hati Zia terbuka dan hadir ke dalam pesta pernikahan kita nanti," ujar Arash yang akhirnya di angguki oleh Putri.
Akankah Zia datang di saat hari pernikahan Putri dan Arash?
Arash sengaja mengambil penerbangan ke Swiss secara diam-diam, pria itu akan menemui calon adik iparnya itu dan mencoba untuk membawanya pulang. Ingatkan, Arash akan melakukan apa saja, demi Putri bahagia.
Zia mengernyitkan keningnya, di saat teman kampusnya mengatakan ada pria tampan yang sedang mencarinya saat ini. Gadis itu pun di mintai untuk menemui pria tersebut.
"Siapa, ya?" gumam Zia pelan. "Jangan-jangan Mas Bara lagi. Dia kan suka banget kasih kejutan buat aku," lirih Zia dengan tersenyum lebar.
Zia pun melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana pria tampan itu berada. Gadis itu mengernyitkan keningnya, di saat tidak menemukan satu pria tampan di tempat itu.
"Apa aku di bohongi lagi?" gumam Zia dan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Zia, saat melihat Arash berada di belakangnya.
"Mau apa kamu di sini?" tanya Zia dengan ketus.
Arash tersenyum miring. Ternyata setelah dua bulan berlalu, sifat keras kepala dan ketus Zia masih belum berubah.
"Apa kamu tidak mendapatkan kabar, jika aku dan Putri akan segera menikah?" tanya Arash sambil menaikkan alisnya sebelah.
Tidak, itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
"Baguslah. Selamat kalau begitu," sahut Zia dan berlalu melewati Arash.
Arash kembali menahan langkah Zia dengan menghalangi jalan gadis itu.
"Mau apa lagi?" tanya Zia kesal.
"Apa kamu tidak berniat kembali dan ikut merayakan hari kebahagiaan kami?" ujar Arash yang saat ini sudah tersenyum mengejek. Namun sialnya senyuman itu terlihat sangat manis sekali.
"Aku tidak punya waktu. Lagi pula aku sangat sibuk, banyak mata kuliah yang harus aku hadiri," sahut Zia dan memilih membalikkan tubuhnya untuk menjauh dari Arash.
Sraaap ..
"Akkhh .." Zia terkejut, di saat Arash kembali mencengkram lengannya.
"Kamu sudah meminta kepada semua orang untuk tidak memberitahu di mana keberadaan kamu saat ini kepada Putri. Lalu, apa salahnya untuk kamu datang di saat hari pernikahan kamu? Apa kamu tidak mau melihat Putri bahagia?" tanya Arash. "Atau kamu merasa cemburu, karena Putri hidup dengan bahagia?' ujar Arash kembali memberikan senyuman mengejek kepada Zia.
"Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, aku tidak punya waktu untuk datang. Jadi, lepaskan tanganku," geram Zia sambil menarik tangannya, akan tetapi cengkraman tangan Arash terlalu kuat untuknya.
"Lepas, gak?" bentak Zia.
"Tidak akan. Aku tidak akan melepaskan kamu, sampai kamu ikut denganku kembali ke Indonesia," ujar Arash dengan penuh penekanan.
"Aku tidak mau." Zia pun membuat perlawanan, hingga Arash terpaksa kembali mengunci pergerakan calon adik iparnya itu.
"Lepasiin," bentar Zia sambil terus berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Arash.
Arash seolah menulikan telinganya, hingga akhirnya di saat Zia menggigit lengannya, membuat pria itu memekik dan refleks melepaskan Zia. Saat itulah Zia memiliki kesempatan untuk berlari menjauhi Arash, akan tetapi pria itu malah mengejarnya.
"Zia, kamu harus kembali," geram Arash dan menarik tas Zia saat berhasil meraihnya.
Sreeet ..
"Aaaaa ..."
Arash yang terlalu kuat menarik Zia, nyatanya ikut kehilangan keseimbangan, sehingga membuat Zia mendorong tubuhnya dan mereka pun terjatuh ke tanah berdua, dengan posisi Zia berada di atas tubuh Arash.
Arash dan Zia serentak membulatkan matanya, di saat bibir mereka malah menempel dengan sempurna. Zia pun langsung bangkit dari tubuh Arash dan mengusap bibirnya dengan kasar.
"Zia, aku gak bermaksud---"
PLaaak ...
__ADS_1
sebuah tamparan pun mendarat di pipi Arash.
"Dasar bajingan," geram Zia dengan tatapan mata penuh amarah.