
Putri merelai pelukannya, di saat merasakan dirinya sudah tenang.
"Terima kasih," cicitnya dengan wajah tertunduk.
Entah mengapa, Arash merasa iba dengan Putri yang memiliki trauma sampai seperti ini. Pasti sangat sulit bagi gadis itu melawan traumanya. Apa lagi rasa takut itu datang dari barang-barang yang ada di sekitarnya.
"Emm, kepitingnya sudah di bersihkan, ya? Terus mau di masak apa?" tanya Putri menghangatkan suasana yang terasa mendingin.
"Oh, kata Pak Anwar di rebus dengan cabai dan bawang aja sudah enak. Jangan lupa pakai garam katanya," kekeh Arash sengaja ingin membuat Putri tertawa.
Sebenarnya, diam-diam Arash menyukai senyuman gadis itu. Tapi, cintanya kepada Sifa terlalu besar sehingga tak ada ruang untuk Putri masuk ke dalamnya.
"Itu sih anak SD juga bisa masaknya," jawab Putri sambil tertawa.
"Emm, di dalam kulkas ada bahan apa aja?" tanya Putri kepada Arash.
Tak perlu di suruh untuk mengecek isi lemari pendingin tersebut, Arash sudah tau apa tugasnya saat ini. Pria itu pun membuka pintu lemari pendingin dan mengecek bahan apa saja yang tersedia di dalamnya.
"Ini semua," ujar Arash sambil mengeluarkan semua bahan yang ada di dalam kulkas.
"Hmm, ada jagung dan juga wortel," lirih Putri pelan. "Bagaimana kalau kita masak kepiting saus padang?" usulnya.
"Kepiting saus padang? Kamu bisa memasaknya?" tanya Arash kepada Putri.
"Aku memang tidak terlalu ahli dalam memasak, tetapi masakanku masih bisa untuk di nikmati. Jadi, bagaimana jika kita langsung eksekusi saja semua bahannya?" ajak Putri yang langsung di setujui oleh Arash.
"Oke."
Arash pun mulai memotong-motong jagung hingga menjadi bulatan yang kecil. Sedangkan Putri menyiapkan tumisan yang akan gadis itu gunakan untuk pengharum makanan.
"Kamu pinter masak dan buat cake ternyata ya," puji Arash yang melihat bagaimana cara Putri merajang bawang.
"Hah? Ah, biasa aja."
"Aku pikir kamu ini anak yang manja. Secara kamu kan anak dari orang yang termasuk berpengaruh di Bandung?" ujar Arash.
"Hmm, lalu? Apa hubungannya dengan aku yang bisa masak?" tanya Putri dengan mengulum senyumnya.
"Biasanya kan kalau anak gadis yang memiliki segalanya tidak bisa masak!" tebak Arash.
"Emm, apa Mbak Quin tidak bisa masak?" tanya Putri.
"Huum, masakan Mbak Quin tidak enak.Tetapi, cake buatannya cukup enak," jawab Arash.
"Lalu? Bagaimana dengan Naya? Apa dia tidak bisa masak?" tanya Putri lagi.
"Masakan Naya itu sangat enak. Tangan ajaibnya menurun dari tangan Mami Vina," ujar Arash dengan bangga.
"Bagaimana dengan Dokter Anggel?" tanya Putri lagi.
"Nah, kalau Mbak Anggel, masakannya sering hambar. Tapi kadang cukup lumayan enak juga," ujar Arash lagi.
"Berarti, mereka bisa memasakkan?"
Ucapan Putri pun membuat Arash terdiam sesaat.
"Keluargaku jika di bandingkan dengan keluarga Moza, maka tidak ada apa-apanya," ujar Putri yang mana di angguki oleh Arash.
__ADS_1
"Iya juga, ya? kekehnya pelan. "Kok aku bisa menilai kamu manja dan tidak bisa memasak sih? Maaf, ya," sesal Arash.
"Gak papa. Jadikan pelajaran aja untuk tidak menilai seseorang dari luarnya," ujar Putri sambil tersenyum.
"Siap, Buk," jawab Arash dengan sikap hormatnya.
"Astaghfirullah, kamu lagi-lagi ngagetin aku tau gak sih?" kejut Putri saat mendengar suara lantang dan tegas Arash.
Arash pun hanya terkekeh, seolah dirinya tak berdosa.
"Maaf, ya."
Dan setelah setengah jam berkutat di dapur dengan canda dann tawa, akhirnya masakan kepiting saus padang pun selesai dan siap di nikmati.
"Desi pulang jam brapa? Apa kita tidak menunggu dia pulang?" tanya Putri yang sudah menghidangkan masakannya di atas nampan bulat.
"Tadi dia bilangnya agak terlambat, sih."
"Aneh, padahal kan masih sakit, kenapa pergi kerja, sih?" gumam Putri.
"Desi gak kerja,a tapi dia ada urusan keluarga," jawab Arash memberitahu.
"Ooh. Jadi ini kita makan berdua aja?" tanya Putri.
"Kenapa enggak, ayo!" ajak Arash yang sudah berjalan menuju living room dengan nampan yang berisi air putih dan juga jus jeruk.
"Mau makan di mana?" tanya Putri bingung, secara gadis itu sudah mendudukkan bokonga di kursi.
"Makan sambil lesehan lebih enak, ayo ke sini," panggil Arash yang mana membuat Putri menghela napasnya dengan pelan.
"Kenapa gak bilang dari tadi, sih?" gumamnya dan mengambil tiga piring kosong, kemudian membawa piring tersebut ke living room, kemudian gadis itu kembali ke dapur untuk mengambil nampan yang berisi kepiting saus padang masakannya.
"Aku berani bertaruh, kalau kamu pasti bakal ketagian dengan masakan aku," ujar Putri penuh dengan percaya diri.
"Oh ya? Kita lihat saja nanti."
Dan, mereeka pun mulai menikmati kepiting saus padang tersebuut.
Putri menghela napasnya pelan di saat melihat betapa lahapnya Arash memakan masakannya, hingga gadis itu merasa iba di saat melihat pria itu akan segera patah hati.
Hmm, mengingat jika Arash akan patah hati, bagaimana sekarang Abash dan Sifa? Apa saat ini mereka sedang berdansa kemudian berciuman?
*
Abash sudah melihat penampilan dirinya di cermin, pria itu sudah berlatih bagaimana cara untuk menngungkapkan perasaannya dan mengajak Sifa bertemu dengan keluarganya untuk di perkenalkan sebagai seorang pacar.
"Semoga ini berhasil. Bismillah," lirih Abash dan memasukkan cincin berlian itu ke dalam saku jasnya.
Abash pun keluar dari rumah dengan keadaan yang lebih fresh. Pria itu memang sengaja tidak pulang ke apartemen, karena dia ingin meminta restu kepada sang mama untuk melamar Sifa.
"Pa, mama mana?" tanya Abash yang hanya melihat sang papa di living room.
"Mama? Tadi di kamar, mau ambil selimut. Kenapa, Bash? Rapi amat? Mau ke mana?" tanya Papa Arka yang sudah melihat penampilan sang putra.
"Ada deh, nanti Papa juga akan tau," ujar Abash sambil mengedipkan matanya sebelah kepada sang papa.
Abash pun berlari kecil menuju kamar sang mama. Pria itu ingin meminta restu dari wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
__ADS_1
"Ma?" panggil Abash yang sudah masuk ke dalam kamar orang tuanya.
Abash pun melihat sang mama sedang bertelponan ria dengan sang kakak yang sudah berada di paris, ikut bersama suaminya yang harus memimpin perusahaan.
Mama Kesya yang menyadari kedatangan sang anak pun, menoleh dan memanggilnya untuk mendekat.
"Siapa, Ma?" tanya Quin dari seberang panggilan video call.
"Abash."
Abash pun berdiri di samping sang mama dan melambaikan tangannya kepada sang kakak.
"Apa kabar, Mbak? Betah gak kira-kira di sana?" goda Abash yang memang terkadang suka menjahili sang kakak.
"Ih, apaan sih kamu. Eh, kamu kok rapi banget? Mau ke mana? Mau pergi kencan?" tebak Quin. "Emangnya kamu punya pacar?Bukannya pacar kamu itu laptop, komputer, dan perangkat-perangkat lainnya ya?" kekeh Quin yang mana membuat Abash mengendikkan bahunya.
"Ma, Abash mau ke mana sih?" tanya Quin kepo.
"Mama juga gak tau. Ya sudah kalau begitu, nanti Mama hubungi lagi, ya," ujar Mama Kesya dan menutup panggilannya setelah berbincang sebentar dan berpamitan.
"Ada apa" tanya Mama Kesya yang sudah melihat penampilan sang putra terlihat sangat sempurna dan tampan sekali.
Abash pun berlutut di hadapan sang mama, kemudian pria itu menangkup kedua tangan sang mama di atas pangkuan wanita paruh baya itu.
"Ma, Abash mau minta izin ke Mama. Malam ini Abash mau melamar Sifa, Ma," ujar Abash yang mana membuat Mama Kesya membelalakkan matanya.
"Kamu serius, nak?" tanya Mama Kesya dengan bahagia.
"Iya, Ma. Untuk itu, Abash mau minta doa restu dari Mama, ya. Doain agar semua rencana Abash lancar dengan baik."
"Iya, Nak. Mama pasti akan mendoakan yang terbaik untuk Abash."
Setelah mendapatkan restu, Abash pun mengecup punggung tangan sang mama.
"Terima kasih banyak, Ma."
Abash pun berpamitan kepada Mama Kesya dan juga Papa Arka.
"Mau ke mana dia, Ma?" tanya Papa Arka kepo.
"Mau lamar seseorang," ujar Mama Kesya dengan terkekeh pelan.
"Oh, ya? Siapa?"
"Ada deh," ujar Mama Kesya yang mana membuat Papa Arka pun semakin penasaran.
"Hayo, siapa? Kalau gak mau bilang, Papa bakal bikin Mama mendesah sepanjang malam," bisik Papa Arka dengan menggoda.
"Dasar mesum, cibir Mama Kesya dan mencium bibir sang suami.
Ciuman itu pun lama kelamaan semakin dalam dan panas, sehingga mereka tidak menyadari jika ada si bungsu yang melihatnya.
"Ekhem," dehem Shaka dengan kuat, sehingga membuat Papa Arka dan Mama Kesya langsung melepaskan ciumannya dan menjaga jarak.
"Eh, Shaka? Belum tidur?" tanya Mama Kesya sekedar berbasa basi.
"Bukannya Papa ngajakin Shaka nonton bola bareng, ya?" protes si bungsu.
__ADS_1
"Kok malah mesumin Mama," cibir Shaka dan mendaratkan bokongnya di antara sang mama dan papanya.
"Niat gak ngajakin Shaka nonton?" tanyanya sambil menatap lurus ke arah sang papa tanpa ekspresi.