
Abash membuka matanya secara perlahan. Pria itu menyadari jika dirinya tertidur di atas pangkuan Sifa, entah berapa lama dia tertidur. Abash pun mengangkat tangan dan melihat jam yang ada pergelangan tangannya.
Ternyata sudah hampir satu jam dia tertidur. Abash pun menoleh ke arah sang istri yang juga sedang tertidur pulas. Abash tersenyum, tetapi dia merasa tidak tega karena dia menduga jika kaki Sifa saat ini sedang terasa kebas. Abash menjadi merasa bersalah karena tidak sengaja tidur di pangkuan istrinya.
Abash bangkit dari duduknya dan menatap wajah sang istri.
"Cantik sekali," gumam Abash yang tidak bisa jika tidak melihat wajah istrinya barang sedetik pun. Dia tidak ingin mengalihkan tatapannya ke arah lain. Bahkan keindahan pantai yang ada di depannya tidak bisa membuat pria itu mengalihkan tatapan kagumnya dari wajah sang istri.
Sifa yang merasa jika kakinya tak lagi terasa berat, tiba-tiba saja terbangun dan sedikit terkejut di saat melihat wajah Abash yang jaraknya sangatlah dekat dengan dirinya.
"Mas? Kamu sudah bangun?" tanya Sifa sambil mengucek matanya. terkejut karena Abash tidak membangunkannya. Entah kapan laki-laki itu terbangun dan berada dengan jarak yang dekat seperti itu.
"Iya, sayang." Abash tersenyum dan bahagia sekali melihat wajah Sifa dengan wajah khas bangun tidur.
Sifa pun mengangkat tangannya dan merengganggkan otot tangannya dengan gerakan ke atas. Hal yang sering dia lakukan jika dia bangun dari tidurnya.
"Pegel ya karena pangku kepala aku?" tanya Abash masih menatap sang istri dan di dalam hati dia berjanji akan memberikan apa yang istrinya mau karena telah dengan sabar membiarkan dia tidur di pangkuannya.
"Hmm? Enggak kok," jawab Sifa dan menoleh ke arah kiri dan kanan. Tiba-tiba saja dia khawatir akan sesuatu.
Saat melihat gerobak dorong yang ada di samping mereka, Sifa terlihat bernapa lega, karena ternyta belanjaannya masih berada di tempatnya semula. Dia juga tidak sengaja tertidur tadi saat setelah suaminya memejamkan mata di pangkuan. Melihat Abash yang tertidur dengan lelap dia jadi ikut mengantuk juga. Tapi tidak dia duga jika dia juga akan tidur lelap seperti itu dengan posisi duduk dan bersandar pada dinding.
"Kamu takut barang-barang kita hilang?" tanya Abash yang diangguki oleh Sifa. Abash terkece melihat tatapan panik Sifa tadi.
"Iya, Mas. Lelah tau belanja itu, kalau barang belanjaannya hilang yang rugi kan siapa juga. uang nggak ada, barang juga nggak ada " jawab Sifa sambil menguap pelan.
"Masih ngantuk?" tanya Abash lagi yang di jawab gelengan sama Sifa.
"Badan aku terasa lengket, Mas. Kita kembali ke kamar aja, mau?" pinta Sifa yang disetujui oleh Abash. Tentu saja Abash tidak akan menolak ajakan wanita itu, karena dirinya juga merasa lelah dan sudah merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Dari pagi hingga siang hari mereka berada di luar, di tengah terik matahari, berbelanja hingga berkeringat. Abash tidak menyukai berada di tengah terik matahari berlama-lama, tetapi demi istrinya dia rela untuk pergi keluar dari zona nyamannya.
Padahal mereka tertidur di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari serta angin yang berhembus membuat dingin tubuh mereka. Tapi, kenapa tubuh mereka terasa lengket, ya?
Tentu saja terasa lengket, karena kandungan garam yang ada pada air laut, menguap ke udara dan menyatu dengan angin. Maka dari itu, badan Sifa dan Abash terasa lengket.
"Bli," Abash pun memanggil si penjual. Laki-laki itu mendekati Abash dan Sifa yang masih duduk di sana.
"Ya, saya."
"Berapa semuanya, Bli?" tanya Abash sambi menunjuk dua buah kelapa muda yang ada di dekat mereka.
"Oh, tiga puluh ribu saja, Bli," jawab si penjual tersebut dengan ramah dan tidak lupa dengan senyuman yang selalu tersenyum di bibirnya.
Abash pun mengambil uang yang ada di dalam dompetnya, kemudian memberikan selembar uang berwarna biru kepada si penjual.
"Ambil aja kembaliannya, Bli, terima kasih sudah menjaga barang kami," ujar Abash saat menyodorkan uang.
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menolak pemberian uang kembalian tersebut.
__ADS_1
"Yang jaga barang Bli bukan saya, tapi anak itu," tunjuk si penjual ke arah anak kecil yang sedang bermain pasir tak jauh dari gerobak yang terdapat barang belanjaan Sifa. Anak itu terlihat sedang anteng dengan pasir yang sedang dimainkannya, membuatnya tinggi saya akan dia sedang membuat sebuah istana yang megah. Senyum anak itu sangat menenangkan dan binar matanya terlihat sejuk di mata Sifa.
"Kalau begitu kasihkan saja kembaliannya kepada anak itu, Bli," titah Abash.
"Baik, Bli, terima kasih banyak."
Abash pun bangkit dari duduknya, pria itu mengulurkan tangan kepada Sifa dan memberikan tompangan untuk sang istri berdiri.
"Pegel?" tanya Abash saat Sifa menggerakkan jari kakinya. Butiran tanah masuk ke dalam sandal mereka dan membuat kaki Sifa merasa geli.
"Lumayan, Mas," kekeh Sifa pelan. "Kaki aku nggak enak banyak pasirnya."
"Mau aku gendong?" tawar Abash sambil menunjuk ke arah punggungnya.
"Gak mau, aku bisa jalan sendiri. Ayo," ajak Sifa yang sudah merangkul pinggang Abash. Abash tidak bisa menolak ajakan sang istri yang tiba-tiba saja berinisiatif untuk merangkul pinggangnya. Kapan lagi Sifa akan melakukan hal seperti ini kan?
"Ayo kalau begitu." Abash dan Sifa pun berjalan menuju gerobak belanja mereka, kemudian Abash mendorongnya, sedangkan Sifa berada di samping sang suami.
"Terima kasih ya sudah menjaga barang milik kami. Siapa nama kamu?" tanya Sifa kepada anak kecil yang telah menjaga barang mereka.
"I Wayan Gede," jawab anak kecil itu sambil tersenyum.
"Nama yang bagus," ujar Abash.
Anak itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya sementara tangannya tidak berhenti untuk membuat gundukan-gundukan pasir yang lainnya.
"Oh ya? Itu tandanya kamu harus di hukum," kekeh Abash, bibir Sifa mengerucut lucu, merasa kesal jika dia benar-benar akan mendapatkan hukuman dari suaminya. Bayangkan saja dalam waktu 1 jam dia harus menghabiskan uang sebesar 5 juta.
"Mas mau kasih hukuman aku apa?" tanya Sifa penasaran akhirnya mencoba untuk menerima hukuman dari suaminya.
"Emm, apa ya? Ada deh," jawab Abash sambil mengulum bibirnya, tentu saja bukan hukuman sembarangan dan juga ringan untuk wanita itu.
"Ih, jangan yang macem-macem ya, Mas. Aku gak mau kamu suruh kayang, ya?" cibir Sifa yang mana membuat Abash tertawa terbahak-bahak. Abash tidak menyangka jika istrinya yang cantik juga bisa melucu.
"Ide bagus itu, sayang."
"Maaasss …" pekik Sifa kesal yang mana membuat Abash semakin tertawa dengan lepas dan keras. Abash benar-benar akan merealisasikan apa yang Sifa katakan barusan.
Ya, beberapa hari lalu, Abash dan Sifa membuat sebuah permainan. Di mana permainan itu menyebut nama merk dari sebuah brand dan harus tau apa bendanya. Abash yang melihat sebuah video yang siliweran di sosial media pun, memberikan pertanyaan yang sama kepada Sifa. Abash menyebutkan nama sebuah merk kendaran yaitu supra, kemudian Sifa menjawabnya.
Dalam bayangan Sifa, supra itu adalah sebuah motor yang dulu sering dia lihat berjejer di parkiran yang ada di pasar. Dengan percaya dirinya, Sifa menjawab motor, sehingga membuat Abash tertawa terbahak-bahak, karena sang istri masuk ke dalam jebakannya. Supra yang Abash maksud adalah sebuah mobil dengan harga yang fantastis. Sifa mana tahu ada mobil dengan nama yang sama seperti motor juga dengan harga yang fantastis seperti itu. Di dalam bayangannya Supra adalah nama sebuah motor dan hanya motor saja yang memiliki nama itu.
Ya, sebelumnya beberapa kali Sifa memberikan tebakan, Abash tidak bisa menjawab dan harus menuruti perintah yang menang. Dan bahkan, Abash harus menirukan bunda Inul Daratista saat menari ngebor. Tawa Sifa pecah, di saat Abash menuruti keinginannya dan terlihat sangat lucu sekali. Karena hal itulah, membuat Abash mencari sesuatu yang bisa membalaskan kekalahannya.
Berhubung jawaban Sifa salah bagi Abash, Sifa harus menuruti perintah pria itu. Abash pun menyuruh Sifa melakukan sebuah gerakan kayang, sehingga membuat pinggangnya terasa sakit. Awalnya Abash tertawa, tapi karena sang istri kesakitan, Abash pun merasa bersalah.
"Tenang aja, sayang. Kali ini hukuman kamu tidak akan membuat kamu terluka," ujar Abash dengan senyuman penuh arti. Dia akan membuat permainan yang lebih menyenangkan lagi daripada Sifa harus kayang.
__ADS_1
Sifa merasa, jika ada sesuatu yang tak beres dan sedang dipikirkan oleh sang suami. Terlihat jelas dari wajah mesum Abash. Apakah pria itu akan menyuruhnya menggunakan lingerie, atau menyuruhnya memakai baju dengan pernak-pernik kucing? Dia akan menolak andai Abash benar-benar menyuruhnya memakai pakaian itu. Apa jadinya Sifa yang kalem mengenakan pakaian tersebut?
Sifa tiba-tiba menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa?"
"Eh, nggak ada. Aku nggak apa-apa." Sifa malu karena ternyata Abash memperhatikannya.
"Kamu pasti mikirin sesuatu kan?" Tidak lupa dengan jepitan tangan Abash di hidung istrinya hingga sedikit memerah.
Wajah Sifa merah bertemu dan merona membuat Abash menjadi gemas. Ingin rasanya laki-laki itu mencium istrinya saat ini juga, tapi tentu saja dia tidak bisa melakukan hal itu karena mereka masih ada di luar hotel.
Daaaan ... sesampainya di hotel.
Dugaan Sifa ternyata benar. Dia harus menggunakan lingeri dengan motif macam malam. Sifa sampai melongo saat sang suami mengeluarkan benda tersebut dari sebuah paper bag yang tidak dia ketahui sebelumnya. Dia menatap kesal ke arah sang suami. Bukan karena lingerinya, tapi karena motifnya. Apa tidak ada motif yang biasa saja? atau yang polos-polos saja gitu? Kenapa harus motif macan yang di pilih Abash?
"Apa-apaan ini mas? Aku nggak mau pakai beginian. Masa aku harus jadi macan?" Protes wanita itu mengelak. Dia ingin menjauh tapi sang suami telah menarik tangannya dan memeluknya dengan erat. Diangkatnya lingeri dengan corak macan tersebut di depan wajah sang istri.
"Kamu nggak bisa menolak, sayang. Kamu sudah kalah dan kamu nggak bisa ingkari janji." Senyum Abash tersambung lebar di kedua sisi bibirnya. Sementara Sifa pergi di ngeri memikirkan penampilan dirinya yang memakai pakaian tersebut. Sepertinya lingerie dan pernak-pernik kucing lebih baik daripada motif macan ini.
"Malam ini ya, sayang," ujar Abash sambil mengedipkan matanya sebelah. "Persiapkan diri kamu. Aku janji, aku tidak akan membuat kamu merasa kesakitan," bisik Abash dan mencium leher Sifa dan menghisapnya kecil sehingga meninggalkan noda merah di sana.
Jantung Sifa berdegup kencang. Malam ini akan menjadi malam yang berarti bagi dirinya menuju menjadi istri yang utuh bagi Abash. Semoga saja Abash memegang ucapannya, ya. Dan tidak membuat Sifa merasa kesakitan.
Abash melepaskan ciuman dan pelukannya dari tubuh sang istri yang sampai saat ini masih mematung dengan tatapan yang kosong. Wajah Sifa perlahan berubah menjadi pucat dan dia mulai membayangkan sesuatu hal yang mungkin saja akan menyakitkan. Banyak orang yang berkata jika saat malam pertama adalah hal yang menyakitkan untuk para wanita.
Sifa pun mulai mengingat-ngingat pesan dari para tetua dan senior pasutri, di mana dia harus menahan rasa sakit itu dan tidak boleh menunjukkannya kepada Abash. Sebisanya dia tidak boleh menangis pada saat nanti Abash melakukan kewajibannya.
"Aku pasti bisa. Ya, aku bisa," lirih Sifa menyemangati dan meyakini dirinya sendiri.
"Kamu mau mandi duluan atau aku mandiin?" tegur Abash yang mana membuat Sifa tersadar dari lamunannya. Sifa melirik Abash yang menatapnya sambil menggerakkan alisnya naik dan turun. Dia tersenyum, jangan sampai laki-laki itu melakukan apa yang diucapkan barusan.
"Hmm? A-aku mandi sendiri aja, Mas," cicit Sifa dengan wajah yang merona.
Ya, walaupun dirinya pernah tampil tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya di depan Abash. Tapi tetap saja Sifa masih merasa malu. Ya, walaupun malu-malu mau kan.
Sifa pun berlari kecil ke dalam kamar mandi, membuat Abash merasa gemas sambil tertawa. Kali ini, Abash akan membiarkan Sifa benar-benar mandi sendiri. Abash akan memberikan waktu bagi Sifa untuk mempersiapkan diri untuk malam ini. Malam yang akan begitu indah dan menjadi sebuah sejarah dalam kehidupan keduanya.
Abash memberikan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur. Bibirnya tersenyum senang dan membayangkan bagaimana penampilan wanita itu dengan menggunakan lingeri yang dia beli semenjak dari ibukota. Jelas Sifa tidak mengetahui kapan dia membelinya, karena dia memang membeli benda tersebut secara online.
"Aku masih penasaran."
Abash mengusap bagian tubuhnya yang kini serasa membesar. Membayangkan hal tersebut membuat pikirannya menjadi tidak karuan.
"Aku sudah tidak sabar." Pria itu mengambil bantal guling yang ada di sebelahnya dan memeluknya dengan erat, serta tanpa sadar menggosok-gosokkannya pada bagian tubuhnya yang menegang itu.
Abash tersadar dan malu sendiri atas apa yang dia lakukan barusan .
__ADS_1
"Harusnya ini aku berikan untuk pertama kalinya kepada istriku. Kenapa malah kamu?" Dia melemparkan bantal guling tersebut ke arah lain.