Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 24 - Minum obat


__ADS_3

Abash berkali-kali mencoba menutup matanya dan terlelap dalam tidurnya. Namun, bayangan akan kaki Sifa membuatnya kembali terjaga.


"Kenapa ya?" gumam Abash.


Abash membalikkan tubuhnya dan melihat empus yang sudah terlelap dalam tidurnya di lantai, di dekat tempat tidurnya.


Abash menopang kepalanya dan menatap Empus.


"Mouse, bangun dong," panggil Abash, tetapi Empus maish terlelap dalam tidurnya.


"Dasar kerbo," kesal Abash dan kembali membalikan tubuhnya menjadi telentang.


Abash menggunakan tangannya untuk di jadikan bantal, matanya menatap lurus kearah langit-langit kamarnya. Mungkin, jika Abash adalah Superman, maka tatapan mata itu akan tembus pandang melewati atap rumahnya itu dan menampilkan langit malam yang di guyur hujan.


Dentingan pada ponsel mengambil atensi Abash. Pria itu membaca notif yang mengatakan jika saat ini di luar sedang terjadi ****** beliung ringan. Beberapa rumah warga rusak, bahkan banyak pohon yang tumbang.


Mata Abash mulai mengantuk karena membaca berita tersebut, hingga dia terlelap dan menjatuhkan ponselnya begitu saja.


*


Sifa memeluk tubuhnya yang menggigil, sayup-sayup dia mendengar suara bariton memanggil namanya, hingga akhirnya Sifa menutup rapat matanya dan tak mengingat lagi apa yang terjadi.


Sifa mencium aroma wangi dari bubur kacang hijau, hingga memaksa dirinya untuk membuka mata.


Sifa memandang selimut yang tengah menutupi tubuhnya, begitupun dengan handuk kecil yang berada di keningnya.


"Kamu udah bangun?" tanya Abash.


Sifa mengernyitkan keningnya, seingatnya dia sedang bermimpi jika Abash kembali dan memanggil-manggil namanya. Apa ini juga masih di dalam mimpi?


"Kok bengong? Apa masih pusing?" tanya Abash yang sudah berdiri di dekat Sifa DNA menyentuh keningnya.


"Udah gak panas lagi," gumam Abash. "Bangunlah, saya sudah memasakkan bubur untuk kamu," ujar Abash.


"Bapak?" Sifa mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Abash. Di cubitnya pipi itu sehingga membuat Abash memekik sakit.


"Kamu pikir ini mimpi?" kepala Abash.

__ADS_1


"Iya, bukan mimpi. Bapak kapan tiba di sini?" tanya Sifa.


Bukannya menjawab pertanyaan Sifa, Abash malah berlalu meninggalkan Sifa yang menatapnya dengan terbengong.


Beberapa Jam yang lalu.


Abash yang baru saja terlelap dalam tidurnya, di kejutkan dengan suara petir yang menggelegar sehingga membuat Empus terbangun dan mengaum.


Abash pun jadi teringat kepada Sifa. Seingatnya, Lucas sudah memberikan peringatan kepada Abash, jika kemungkinan malam ini Sifa akan demam.


Merasa khawatir, Abash pun meraih jaket serta kunci mobilnya untuk kembali ke apartemen melihat kondisi Sifa.


Benar saja, saat Abash membuka pintu apartemennya, Abash mendengar suara erangan dari living room. Di sana, Sifa tengah meringkuk sambil memeluk bonekanya dengan tubuh yang bergetar hebat.


Abash pun bergegas berlari mendekati Sifa dan menyentuh keningnya. Betapa panasnya suhu tubuh Sifa saat itu. Untungnya, Abash selalu menyediakan obat penurun demam di apartemennya.


"Gimana minuminnya?" gumam Abash dengan bingung.


Abash sudah berkali-kali mencoba membangunkan Sifa, tetapi, gadis itu masih setia menutup matanya.


Abash menghela napasnya pelan, dia pun terpaksa meminumkan obat kepada Sifa dengan cara menyalurkan air dari mutnya ke mulut Sifa.


Jangan di tanya bagaiman jantung Abash berdegup kencang saat membantu Sifa meminum obat. Mungkin, suara detak jantung Abash akan bersaing dengan suara dentuman musik di dalam club'.


Begitulah ceritanya, bagaimana Abash bisa berada di apartemennya dan memasakkan bubur kacang hijau untuk Sifa. Bahkan, Abash tak tidur semalaman karena menjaga Sifa yang sakit.


*


Sifa yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap meja makan yang telah tersedia semangkuk bubur dan juga lontong pecel. Jika di suruh memelih, Sifa lebih memilih lontong pecel, ralat, maksudnya pecalnya saja, karena terdapat banyak sayuran di sana.


"Kenapa bengong? Ayo duduk," titah Abash.


Sifa menghela napasnya pelan dan duduk di hadapan Abash.


"Kamu gak suka nasi kan? Makanya saya buatin bubur kacang hijau untuk kamu," ujar Abash.


"Ini Bapak yang masak?" tanya Sifa.

__ADS_1


"Hmm, kamu pikir saya gak bisa masak apa?"


"Ya mana saya tau, kan biasanya orang kaya gitu, gak bisa masak."


"Saya memang gak bisa masak, tapi untuk merebus kacang hijau seperti itu, bisa lah."


Sifa pun menganggukan kepalanya. Tangannya perlahan meraih sendok dan menyendokkan bubur ke dalam mulutnya.


"Gak terlalu buruk," gumam Sifa.


"Kamu bilang apa?" tanya Abash.


"Oh, ini! Buburnya lumayan. Tapi, jika pakai irisan jahe, lebih mantap."


"Syukuri apa yanga ada. Makan. Habiskan. Saya gak suka jika ada makanan yang terbuang," ujar Abash dan kembali memasukkan lontong ke dalam mulutnya.


Setelah selesai makan, Sifa ingin membersihkan perkakas makan mereka, tetapi Abash melarangnya. Sifa pun kembali ke kursi dan memandangi punggung Abash yang tengah membersihkan piring bekas makan mereka.


'Masa iya aku bisa mimpiin Pak Abash cium bibir aku? Udah konslet kali ni pikiran ya?' batin Sifa yang terus mengingat mimpinya.


"Saya sudah bilang ke Romi, kalau kamu izin karena sakit. Izin ini berlaku cuma tiga hari, setelah itu kamu harus kembali masuk ke kantor. Oh ya, satu lagi. Mungkin kamu akan sering lembur, jadi, kamu sepertinya harus mengundurkan diri menjadi cleaning service," ujar Abash setelah mencuci piringnga dan membalikkan tubuhnya.


Sifa yang tengah melamun pun tersentak Ndan langsung memandang Abash. Tidak, bukan wajahnya, melainkan bibir Abash yang bergerak menggoda imannya.


'Sifa, yang sakit kaki kamu, bukan pikiran kamu," geram Sifa dalam hati yang mana membayangkan bibir Abash kembali mendarat di atas bibirnya.


Padahal, baru tadi malam Sifa mendengar jika dirinya bukanlah tipe wanita yang akan menjadi calon istri Abash. Sifa juga sudah mengatakan pada dirinya, untuk tak baper dengan kebaikan. sang bos. Setelah Sifa mencari tahu tentang keluarga si bos, ternyata bosnya itu memang keturunan orang yang dermawan dan baik hati.


"Lamunin apa? Dari tadi kamu melamun terus! Kamu dengerkan apa yang saya bilang tadi," ujar Abash yang sudah berdiri menatap Sifa dengan tangan yang berlipat di dada.


"Maaf, Pak, sepertinya saya masih sedikit pusing, jadi saya tidak mendengar dengan jelas apa yang Bapak katakan," ujar Sifa yang jelas-jelas berbohong.


Eh, Sifa bohong kan Abash gak tahu ya? hehehe...


"Saya sudah kasih surat izin kamu ke Romi untuk di proses di kantor. Kamu izin tiga hari dan setelah itu harus kembali masuk ke kantor. Kamu juga akan sering lembur membantu tim elang. Jadi, kamu harus mengundurkan diri dari pekerjaan kamu sebagai cleaning servis. Kamu tenang aja, saya akan kasih kamu yang lembur." jelas Abash.


Sifa menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ini adalah resiko yang harus dia jalani. Sepertinya Sifa harus mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai kebutuhannya. Gaji dirinya yang di dapat dari hasil magangnya, akan dibayarkan untuk menutupi hutang-hutangnya.

__ADS_1


\=\=  Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari ABASH dan ARASH


__ADS_2