
Putri menatap lurus ke ararh Arash yang sedang berusaha untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan menggunakan tangan kiri. Pria itu pun terlihat sedikit kesusahan. Arash tidak menggunakan tangan kanannya, karena tangan kanannya itu sedang di infus, jadi pria itu sedikit kesusahan utnuk menggenggam sendok.
"Kalau makan itu, harus menggunakan tangan kanan," ujar Putri kepada Arash.
"Hmm, saya tahu. Tapi tangan kanan saya sulit di gunakan," ujar Arash sambil menunjuk ke arah tangannya yang sedang di infus.
Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun berjalan mendekat ke arah Arash dan mengambil alih nampan yang ada di atas pangkuan pria itu.
"Anda mau apa?" tanya Arash dengan kening mengkerut.
"Biar saya bantu suapi," ujar Putri dengan wajah datarnya.
"Apa? Kenapa? Untuk apa?"
"Buka mulutnya," ujar Putri yang enggan untuk menjawab pertanyaan Arash.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Arash saat Putri sudah melayangkan sesendok bubur ke depan mulutnya.
"Anggap saja ini ucapan terima kasih saya, karena Anda telah menolong saya," ujar Putri. "Buka mulutnya," titah gadis itu lagi yang akhirnya di turuti oleh Arash.
Arash pun terus memandang Putri yang selalu berwajah datar saat berhadapan dengannya.
"Kenapa kamu selalu membalas apa yang sudah saya berikan?" tanya Arash.
Ya, pria itu berpikir dengan cepat. Saat Putri merasa bersalah karena telah memukul dirinya, gadis itu pun memberi sejumlah uang kepada Arash untuk ungkapan rasa bersalahanya. Kemudian, saat Arash menolongnya di mall, gadis itu membalasnya dengan membayar denda parkirnya dengan beralasan membayar hutang. Dan saat ini, gadis itu mengatakan jika dia membalas pertolongan Arash karena telah menyelamatkan dirinya.
Putri terdiam sebentar saat mendengar pertanyaan Arash, kemudian gadis itu menghela napasnya dengan pelan.
"Selagi saya mampu membalas budi, kenapa saya harus menunda-nundanya!" uajr Putri yang masuk di akal menurut Arash.
"Bagaimana jika saya menolak kebaikan kamu?" ujar Arash.
"Saya akan tetap memberikan kebaikan kepada siapa pun. Bahkan kepada orang yang tidak saya kenal sekali pun," jawab Putri.
"Begitu?"
"Hmm, buka mulutnya," titah Putri lagi yang di turuti oleh Arash.
Mama Kesya yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Arash pun, merasa terkejut dan bahagia melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Setidaknya, wanita paruh baya itu berharap jika Arash akan tertarik denga Putri. Karena menurut sepemandangan Mama Kesya, jika Arash juga memiliki ketertarikan dengan Sifa, begitu pun dengan Abash.
__ADS_1
Mama Kesya tidak ingin kedua anaknya itu memperebutkan satu wanita. Sehingga membuat persaudaraan mereka pun menjadi renggang.
"Ekheem." Mama Kesya berdehem pelan, karena Arash dan Putri tidak menyadari kedatangannya.
"Mama."
"Tante," sapa Putri dengan tersenyum.
"Apa Mama mengganggu kalian berdua?" tanya Mama Kesya.
"Tidak kok Tante, lagi pula Putri juga sudah mau balik ke ruangan Putri kok," ujar gadis itu sambil meletakkan nampan di atas nakas.
Mama Kesya sempat melihat isi nampan tersebut, sudut bibir wanita paruh baya itu pun langsung terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman.
"Terima kasih ya, Putri. Sudah mau menyuapi Arash," ujar Mama Kesya.
"Sama-sama, Tante. Lagi pula apa yang Putri lakukan tidak sebanding dengan apa yang Pak Arash lakukan," ujar PUtri. "Kalau begitu, Putri permisi dulu ya, Tante," pamit Putri.
"Iya, kamu hati-hati ya," ujar Mama Kesya dan mengantarkan Putri hingga ke luar ruang inap Arash.
Mama Kesya pun kembali masuk ke dalam kamar dan tersenyum penuh arti kepada Arash.
"Jangan berharap lebih, Ma. Putri hanya ingin membalas budi aja kok," ujar Arash yang paham betul arti dari senyuman sang mama.
Arash pun menghela napasnya dengan pelan, pria itu membenarkan selimut dan duduknya.
"Putri cantik ya. Ramah, pintar, sopan juga anaknya," ujar Mama Kesya dengan tersenyum lebar.
"Hmm, coba Mama tanya Abash, mungkin Putri salah satu wanita yang menjadi kriteria dia," ujar Arash dan meraih ponselnya.
"Kalau cewek yang menjadi ideal kamu, gimana?" tanya Mama Kesya.
"Mama mau tau aja atau mau tau banget?" tanya Arash dengan tersenyum.
"Mau tau kali," jawab Mama Kesya yang di sambut tawa oleh Arash.
"Oke, Arash itu suka cewek yang sederhana, baik, periang, lucu, memiliki semangat yang tinggi, dan yang paling penting, membuat Arash selalu ingin menjaga dirinya," ujar pria itu sambil membayangkan siluet Sifa.
Arash pun mengernyitkan keningnya, pria itu pun merasa bingung, kenapa dia harus membayangkan siluet Sifa? Apa dia benar-benar jatuh hati kepada gadis yang menggemaskan itu?
__ADS_1
*
Sifa terbangun dari tidurnya, gadis itu pun langsung melihat ke arah selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Bagaimana bisa?"
"Pagi sayang," sapa Abash yang mana membuat Sifa terkejut.
"Pa-pagi," jawab Sifa dengan gugup, kemudian gadis itu teringat akan wajahnya yang pasti terlihat sangat jelek sekali saat ini.
Sifa pun dengan cepat menutup wajahnya dengan selimut.
"Kenapa Bapak lihatin saya begitu?" tanya SIfa, karena sedari dia bangun, Abash sudah menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu cantik saat tidur," jawab Abash.
"Can-cantik? Cantik bagaimana? Ileran iya," cicit Sifa dengan malu.
"Hmm, memang ileran sih. Mulut kamu tadi saat tidur itu terbuka, terus liur kamu mengalir dari sudut bibir. Lucu deh," kekeh Abash.
"Hah? Ap-apa?"
SIfa pun dengan cepat menyentuh sudut bibirnya, memeriksa apakah sudut bibirnya basah karena air liurnya yang mengalir saat sedang tidur.
Sifa menggerutu kesal, karena tidak merasakan sesuatu yang basah pada sudut bibirnya.
"Bapak bohongin saya?" tanya Sifa yang mana membuat Abash langsung tertawa lepas.
"Ha..ha.. Ha .. Kamu itu lucu banget, sih. Mudah di tipu juga," kekeh Abash.
"Iih, dasar nyebelin," ujar Sifa dan mengambil selimut yang dia pakai, kemudian dia menutup wajah Abash dengan mengunakan selimut itu.
"Dasar pacar nyebelin," gerutu Sifa yang sudah menutup wajah Abash dengan selimut.
"Ha .. ha.. ha.. siapa suruh kamu lucu dan gemesin," kekeh Abash di dalam selimut, kemudian pria itu pun menangkap tubuh Sifa, sehingga tubuh mereka pun hanya di batasi oleh selimut yang tebal.
Sifa mengerjapkan matanya dengan cepat, di saat tatapan matanya sudah terkunci dengan sang kekasih.
"Mau kamu ileran atau ngorok sekali pun, itu tidak akan merubah perasaan saya ke kamu, Sifa," ujar Abash yang mana membuat pipi Sifa seketika terasa panas.
__ADS_1
"Sekali saya sudah memilih untuk melabuhkan perasaan saya kepada kamu, maka untuk selamanya saya akan tetap memilih kamu, hingga Allah sendirilah yang memutuskan, apa kita memang berjodoh atau tidak. Tapi, yang harus kamu tahu, jika saat ini saya sangat berharap kalau kamu adalah wanita yang akan menjadi pendamping hidup saya, untuk selamanya," ujar Abash yang mana membuat Sifa semakin berbunga dan merona.
"Love you, Pak Abash."