
"Bang Jo, tolong ke kantor Arash, ya?" pinta Putri yang mana membuat Jo melirik ke arah gadis yang duduk di bangku penumpang bagian belakang melalui kaca spion tengah.
Putri mengerutkan keningnya, di saat Jo tidak menjawab permintaannya. Gadis itu pun memajukan duduknya agar lebih dengan dengan Jo dan menepuk bahu pria itu, karena Putri pikir jika Jo tidak mendengar permintaannya tadi.
"Ke kantornya Arash sebentar, boleh?" pinta Putri yang akhirnya di jawab anggukan oleh Jo.
Putri pun menghela napasnya pelan, gadis itu kembali memundurkan duduknya dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil.
"Hmm, gimana komunikasi Desi sama dia?" batin Putri merasa penasaran dengan hubungan Desi dan juga Jo. Di mana pria itu terlihat sangat irit sekali untuk berbicara, sedangkan Desi adalah gadis periang yang asik dan juga banyak berbicara.
Apakah hubungan mereka hanya Desi saja yang berbicara? Sedangkan Bang Jo hanya diam dan menjawab dengan sebuah anggukan saja? Ahh, sungguh membosan jika memang seperti itu.
Tak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai oleh Jo pun tiba di kantor polisi, di mana tempat Arash bertugas.
"Biar saya aja yang turun Bang Jo, Abang di sini aja," pamit Putri yang di angguki oleh pria itu.
Putri turun dari dalam mobil, gadis itu pun berjalan memasuki kantor polisi.
"Permisi," sapa Putri kepada polisi yang berjaga di sana.
"Ya, ada yang bisa saya bantu, Buk?" jawab polisi tersebut dengan sopan.
"Pak Arash nya ada?" tanya Putri kepada polisi itu.
"Pak Arash? Beliau sedang mengadakan rapat penting, jadi tidak bisa di ganggu," jawab polisi tersebut dengan sopan.
"Ah, begitu ya. Emm, kira-kira kapan ya rapatnya selesai?" tanya Putri merasa penasaran.
"Kalau itu saya kurang tau, Buk," jawab polisi tersebut yang di jawab anggukan oleh Putri.
"Oh, begitu ya?" lirih Putri dengan lemas.
Sekarang dia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Semua gaun untuk pergi ke pesta dan makan malam miliknya ada di dalam apartemen. Namun, untuk memasuki apartemen itu, Putri masih merasa takut dan ragu. Masih ada trauma di dalam diri gadis itu. Haruskah Putri membeli gaun yang lain? Tapi bagaimana dengan perasaan Soni jika dia tidak memakai gaun pemberian pria itu?
Akkh, Putri jadi galau kan sekarang.
"Kalau begitu, terima kasih banyak, Pak. Saya permisi dulu," pamit Putri kepada polisi yang berjaga itu.
"Baik, Buk. Sama-sama."
Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun berbalik hendak keluar dari ruangan kantor polisi itu, hingga sebuah suara menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk dan keluar.
"Putri?"
Putri yang sangat mengenal suara tersebut pun, langsung berbaling dan menghela napas lega.
__ADS_1
"Huff, syukurlah," lirih Putri dan berjalan mendekati Arash dengan wajah tersenyum manis.
Deg ...
Arash awalnya juga ikut melangkahkan kakinya menuju ke arah Putri, akan tetapi langkahnya terhenti di saat melihat senyuman Putri yang terlihat sangat manis sekali, dan juga di saat merasakan degupan jantungnya bertambah cepat.
"Syukurlah kamu sudah selesai rapat," lirih Putri sambil menghela napasnya lega di saat sudah berada di hadapan Arash.
Suara Putri pun kembali mengambil atensi Arash, sehingga membuat pria itu langsung menyadari keadaan sekitarnya. Dapat dia lihat jika beberapa rekan kerjanya sudah tersenyum arti kepada dirinya dan juga Putri, hal itu pun membuat Arash menarik Putri menjauh dari rekan kerjanya.
"Ayo," ajak Arash sambil menggenggam tangan Putri.
"Ciee ... ciee ... cuiit .. cuiit ... di tunggu undangannya, Rash?" pekik rekan kerja Arash.
Arash pun membawa Putri masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa? Kenapa kamu ke sini?" tanya Arash dengan kening mengkerut. "Bukannya aku sudah mengutus Jo untuk menjemput kamu?" ujar Arash dengan napas yang memburu karena jantungnya terus berdegup kencang saat ini.
"Apa Jo tidak datang untuk menjemput kamu?" tanya pria itu lagi. "Kamu baik-baik saja kan, Put? Tidak ada yang terluka, kan?" Arash pun memeriksa penampilan Putri yang masih terlihat rapi dan menarik di mata pria lain.
Tidak, di mata Arash pun Putri juga terlihat sangat menarik.
"Aku gak papa," jawab Putri dengan sedikit kesal. "Kamu kenapa sih? Seharusnya kalau kamu gak bisa jemput aku, setidaknya kamu balas pesan-pesan yang aku kirimkan ke kamu," ujar Putri dengan nada merajuk.
"Pesan?" Arash pun mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana.
"Kamu kirim pesan sebanyak ini ke aku?" tanya Arash dengan terkejut.
Putri mencebikkan bibirnya, gadis itu pun menatap kesal ke arah Arash.
"Kamu janji jemput aku untuk makan siang, tapi kamu gak kasih kabar kalau kamu gak bisa jemput aku. Nyebelin banget. Aku tungguin kamu sampai datang, sampai-sampai aku sendiri gak sempat makan siang. Untung aja di pantry kantor selalu di sediain mie cup," cibir Putri yang mana membuat Arash merasa bersalah dan juga tersenyum mendengarnya.
Entah mengapa, melihat wajah Putri yang terlihat kesal kepadanya saat ini, terlihat sangat menggemaskan sekali.
"Maafin aku, ya," pinta Arash yang saat ini tanpa pria itu sadari sudah menatap dalam ke mata Putri.
"Hmm, aku maafin," jawab Putri dengan ketus.
"Em, sebenarnya aku ingin menebus kesalahan aku siang tadi dengan mengajak kamu makan malam, malam ini, tetapi aku gak bisa, karena ada tugas yang harus aku kerjakan malam ini," ujar Arash dengan perasaan menyesal.
"Gak papa. Lagi pula malam ini aku sudah membuat janji dengan seseorang. Makanya aku butuh paper bag yang ada di dalam mobil kamu." Putri pun kembali mengingat tujuan utamanya datang ke kantor Arash.
"Paper bag? Ah ya, baiklah." Arash pun mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja, kemudian mengajak Putri untuk keluar dari ruangannya.
"Ayo," ajak Arash yang di ikuti oleh Putri di belakang pria itu.
__ADS_1
"Ciee .. ciee ... bakal semangat kerja nih, ntar," goda rekan kerja Arash di saat mereka baru saja keluar dari ruangannya.
Putri mengabaikan ucapan yang keluar dari rekan kerja Arash, karena memang dia tidak ingin mengambil hati yang berurusan dengan pria itu. Putri tidak ingin menumbuhkan sebuah harapan untuk Arash.
"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Arash saat mereka sedang berjalan menuju mobil pria itu.
"Sama Bang Jo," jawab Putri yang mana membuat Arash menaikkan alisnya sebelah.
"Bang Jo?" tanya Arash sambil mengulum senyumnya.
Hal yang membuat Arash bertanya bukan dengan siapa Putri datang ke kantornya, melainkan panggilan yang di tujukan oleh Putri untuk Jo.
"Huum, kenapa? Kan kamu yang menyuruh dia untuk menjemput aku?" ujar Putri mengingatkan pria itu.
"Iya, sih. Tapi, aku lucu aja dengarnya saat kamu panggil Jo dengan sebutan Abang. Soalnya dia kan sebaya sama kita," kekeh Arash.
"Sebaya kamu mungkin iya, tapi tidak dengan aku," jawab Putri yang mana membuat Arash menoleh ke arahnya.
"Kenapa tidak sebaya dengan kita?" tanya Arash penasaran, apakah gadis itu memanipulasi umurnya?
"Aku lebih tua dari kalian tujuh bulan. Jadi, kita gak sebaya, ya," jawab Putri yang mana membuat Arash tertawa.
Ya, umur mereka memang berbeda tujuh bulan, tetapi dalam tahun yang berbeda.
"Jadi, mentang-mentang kamu lebih tua, kita gak sebaya, gitu?" kekeh Arash. "Atau kamu mau aku panggil dengan sebutan kakak?" tanya Arash yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Kamu mau ngatain aku tua?" ketus Putri yang mana membuat Arash semakin gemas dengan gadis itu.
"Aku gak bilang ya," kekeh Arash dan membuka kunci pintu mobilnya.
Tit .. tit ...
Putri pun mencebikan bibirnya, kemudian gadis itu membuka pintu mobil penumpang bagian belakang dan mengambil paper bag miliknya yang ada di dalam mobil Arash.
"Kamu mau makan malam dengan siapa?" tanya Arash merasa penasaran, dengan siapa Putri akan pergi malam ini. Apa itu ada hubungannya dengan gaun yang dia lihat tadi pagi?
"Dengan Soni," jawab Putri yang mana membuat Arash merasakan otot-otot tubuhnya melemas.
"Terima kasih, maaf ya aku udah ganggu kamu kerja," ujar Putri sambil menunjukkan dua paper bag yang ada di tangan gadis itu kepada Arash.
"Hmm, ya," jawab Arash dengan lemas.
"Kalau begitu aku balik dulu." Putri pun berjalan melewati Arash menuju mobil yang di kendarai oleh Jo.
Greep ...
__ADS_1
Langkah Putri terhenti di saat tangannya di cekal oleh seseorang. Siapa lagi pelakunya jika bukan Arash.
"Jika aku meminta kepada kamu untuk tidak pergi, apakah kamu akan menurutinya?"