Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 6 - Kembali


__ADS_3

Yuli sudah bertemu dengan Zia, gadis itu pun juga sudah memberitahu kepada atasannya itu, jika Mama Nayna ada menghubunginya. Walaupun Mama Nayna melarang Yuli untuk memberitahu kepada Zia, akan tetapi Yuli merasa tidak enak hati jika dia tidak memberitahu kepada Zia bawah Mama Nayna menghubunginya.


"Ada apa ya?" tanya Zia kepada Yuli.


"Saya juga kurang tahu, Buk. Tadi sih Buk Nayna cuma mau tanyain kabar Ibu aja, karena ponsel ibu tidak bisa di hubungi," jawab Yuli.


"Iya, tadi ponsel saya jatuh dan gak bisa hidup lagi." Zia pun menunjukkan ponselnya, di mana layarnya sudah retak dan memang tidak bisa di hidupkan kembali.


"Perasaan saya makin gak enak, dek. Kira-kira kenapa ya mama sampai menghubungi kamu? Apa terjadi sesuatu dengan Yumna?" tanya Zia kepada Yuli.


"Coba hubungi pake ponsel saya aja, Buk, mana tau Buk Nayna ada sedang perlu banget sama Ibu!" Yuli pun memberikan ponselnya kepada Zia.


"Terima kasih, Yuli." Zia mencoba menghubungi Mama Nayna, akan tetapi panggilannya tidak diangkat oleh yang bersangkutan.


"Gak di angkat sama mama," ujar Zia sambil meletakkan ponsel yang ada di tangannya ke atas pangkuan.


"Emm, coba hubungi Pak Yudi aja, Buk?" saran Yuli. "Tanya apa sesuatu sedang terjadi di sana."


"Iya, kamu benar. Habisnya perasaan saya semakin gak enak." Zia pun mencari nomor ponsel Pak Yudi—supir Mama Nayna saat berada di Jakarta, yang juga merangkap sebagai supirnya.


Terdengar beberapa kali nada dering, hingga panggilan tersebut pun diterima oleh Pak Yudi.


"Assalamualaikum," sapa Pak Yudi dari seberang panggilan.


"Walaikumsalam, Pak. Ini saya, Zia," ujar Zia memberitahi.


"Eh, Non Zia. Ada apa ya Non?" tanya Pak Yudi penasaran.


"Begini, Pak. Sekarang posisi Pak Yudi di mana, ya?" tanya Zia balik.


"Oh, saya lagi di rumah sakit, Non."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit, Pak?" tanya Zia dengan jantung yang sudah berdebar dengan kencang.


"Yumna, Non," jawab Pak Yudi yang memang tidak mengetahui jika Zia tidak boleh mendapatkan kabar tersebut.


"Apa? Zia sakit? Sakit apa, Pak?" tanya Zia yang sudah mulai panik.


"Demam tinggi, Non," jawab Pak Yudi bingung.


Ya, bagaimana Pak Yudi tidak merasa bingung, karena mendengar reaksi Zia yang terdengar terkejut di saat mendengar kabar tentang Yumna.


"Kapan Yumna masuk rumah sakit? Di rumah sakit mana sekarang?" tanya Zia bertubi-tubi.

__ADS_1


Pak Yudi pun memberitahu kapan Yumna masuk rumah sakit dan sedang di rawat di rumah sakit mana. Mendengar jawaban Pak Yudi, membuat Zia seketika merasa kesal, karena baru mengetahui jika Mama Nayna dan Mama Kesya telah membohongi dirinya.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih infonya, Pak." Zia pun memutuskan panggilannya.


"Siapa yang masuk rumah sakit, Buk?" tanya Yuli penasaran.


"Yumna, Yul. Sebaiknya kamu segera pesan tiket untuk keberangkatan saya kembali ke Jakarta," titah Zia.


"Baik, Buk." Yuli pun mengambil kembali ponselnya yang ada pada Zia, kemudian dia melihat jam berapa pesawat yang akan terbang ke Jakarta.


Yuli menghela napasnya pelan, di saat melihat keberangkatan terakhir pesawat pada hari ini sudah berlalu sekitar setengah jam yang lalu. Akan ada pesawat kembali di saat pukul enam pagi esok.


"Maaf, Buk, pesawat untuk hari ini sudah lepas landas sekitar tiga puluh menit yang lalu. Dan untuk pesawat pertama yang akan beroperasi besok ada di jam enam pagi," ujar Yuli memberitahu.


Zia meremas rambutnya, gadis itu benar-benar bingung harus melakukan apa. Tapi, seketika dia teringat akan Soni yang kebetulan juga berada di Singapura.


"Mas Soni," lirihnya pelan. "Yuli, apa kamu punya nomor ponselnya Pak Soni?" tanya Zia kepada Yuli.


"Pak Soni?" ulang Yuli yang diangguki oleh Zia. "Pak Soni keponakannya Pak Martin?" tebak Yuli lagi memastikan.


"Iya, apa kamu punya?" tanya Zia yang berharap jika asistennya itu memiliki nomor Soni.


"Saya akan mencoba teman saya yang kenal dengan asistennya Pak Soni," ujar Yuli dan mencari nomor ponsel temannya.


Tiga puluh menit pun berlalu, Zia sudah harap-harap cemas mendengar kabar yang akan di sampaikan oleh Yuli.


"Bagaimana?" tanya Zia di saat Yuli sudah berjalan mendekat ke arahnya.


"Ini, Buk, akhirnya saya mendapatkan nomor asistennya Pak Soni," ujar Yuli sambil memberikan ponselnya kepada Zia.


"Bagus, terima kasih, Yuli." Zia pun mencoba menghubungi asistennya Soni, harapan gadis itu untuk kembali ke Jakarta secepat mungkin hanyalah Soni.


Zia menggigit ujung kukunya, di saat ponsel yang ada di tangannya sudah menempel di telinga. Gadis itu berharap jika asisten Soni menerima panggilannya.


"Selamat malam?" sapa orang yang ada di seberang panggilan.


Zia bernapas lega karena panggilannya telah tersambung.


"Ya, selamat malam, apa saya bisa berbicara dengan Pak Soni?" ujar Zia langsung.


"Maaf, ini dengan siapa ya? Apa Anda sudah membuat janji dengan Pak Soni?"


"Begini. Saya Zia, anaknya Pak Satria Agung Kusuma. Bisa sampaikan kepada Pak Soni jika saya menghubunginya? Ini sangat penting sekali," pinta Zia dengan nada suara memohon.

__ADS_1


"Tunggu sebentar."


Zia pun menganggukkan kepalanya, padaha dia tahu jika orang yang di seberang panggilan tidak akan melihat dirinya mengangguk. Zia menunggu cukup lama, mungkin ada sekitar tiga menit gadis itu menunggu, hingga akhirnya terdengar suara bariton yang Zia kenali.


"Halo, Zi?" ujar Soni.


"Mas Soni?" Zia kembali bernapas lega, di saat mendengar suara Soni.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan kamu?" tanya Soni merasa khawatir.


"Tidak ada, Mas. Hanya saja, emm, apakah aku bisa meminta bantuan kamu, Mas?" mohon Zia.


"Meminta bantuan? Bantuan apa?"


"Emm, begini, Mas. Yumna anaknya almarhum Mbak Putri sedang masuk rumah sakit, jadi aku ingin melihatnya, Mas," ujar Zia yang sudah terisak.


"Kamu ingin kembali ke Jakarta sekarang?" tanya Soni memastikan.


"Iya, Mas, hikss .. tadi aku niatnya mau naik pesawat di penerbangan terakhir, ternyata pesawatnya udah duluan berangkat setengah jam yang lalu, Mas, hiks .. Maka dari itu, aku ingat sama Mas." Zia menarik napasnya pelan, mengatur alur pernapasannya agar tidak kembali terisak.


"Aku mau minta pertolongan, Mas. Tolong pinjami aku pesawat pribadi punya Mas. Aku akan bayar berapa sewanya. Biaya bahan bakar, pramugari, dan pilotnya. Aku akan bayar semuanya, Mas," pinta  Zia dengan memelas.


"Zia, kamu tidak perlu membayar atau menyewanya. Kebetulan aku juga ingin kembali ke Jakarta."


"Benarkah, Mas?" tanya Zia memastikan.


"Iya. Kalau kamu ingin kembali ke Jakarta sekarang, maka bersiaplah, aku akan menjemput kamu di hotel sekarang," ujar Soni.


"Baiklah, Mas, aku akan bersiap. Terima kasih atas bantuannya," ucap Zia dengan tulus dan merasa lega.


"Sama-sama, Zi."


Zia pun memutuskan panggilannya, kemudian dia meminta Yuli untuk membantunya bersiap.


"Emm, Yul, akan memakan waktu lama jika harus packing semua barang-barang bawaan saya. Kamu tetap di sini mewakili saya besok, ya. Sekalian kamu bawa koper saya, ya?" titah Zia.


"Baik, Buk." Yuli pun hanya membereskan beberapa barang-barang penting saja yang akan bosnya itu bawa.


Di tempat lain.


Soni memberikan ponsel yang ada di tangannya itu kepada sang asisten.


"Batalkan semua meeting. Saya akan kembali ke Jakarta malam ini," ujar Soni dan bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


__ADS_2