
Zia baru saja selesai menidurkan Yumna dan Rayyan di kamarnya. Gadis itu pun menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh dua balita menggemaskan tersebut.
"Mas!" tegur Zia, saat melihat Arash baru saja masuk ke dalam kamar.
Arash tidak menjawab teguran Zia, pria itu pun hanya memandang ke sekeliling kamar gadis itu.
"Mas mau mandi? Biar aku si--"
"Tidak perlu," potong Arash cepat, sehingga membuat Zia yang ingjn turun dari tempat tidur pun, mengurungkan niatnya.
Arash memandang ke arah istri barunya itu dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya.
"Bukankah sudah aku katakan, kalau kamu tidak perlu berperan sebagai seorang istri? Kamu cukup memerankan peranmu hanya sebagai ibu untuk Yumna dan Rayyan," tegas Arash.
Zia hanya menghela napasnya pelan, padahal gadis itu hanya berniat baik saja kepada Arash, agar pria itu tidak merasa kebingungan mencari apa yang dibutuhkan.
"Baiklah, terserah kamu. Padahal aku hanya berniat baik saja," ujar Zia dan berdiri dari duduknya.
Gadis itu pun berlalu melewati Arash, mengambil pakaian tidurnya untuk di bawa ke dalam kamar mandi dan menggantinya di sana.
"Sabar Zia, nanti kamu juga akan terbiasa," ucap Zia dengan lirih saat berada di dalam kamar mandi.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Zia pun keluar dari kamar mandi dan langsung menuju tempat tidur. Sebelum benar-benar merebahkan tubuhnya, gadis itu pun meminum obat yang rutin dia minum sejak kecelakaan yang membuat dirinya pernah duduk di atas kursi roda, tanpa bisa menggerakkan jempol kakinya.
Zia pun mengabaikan Arash yang terlihat sedang bermain ponsel genggamnya di sofa. Terserah pria itu mau tidur di mana, Zia tidak peduli. Lagi pula, bukannya Arash yang meminta agar Zia mengabaikan pria itu?
Zia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menutup matanya rapat dan berusaha untuk terbang ke alam mimpi, mengabaikan makhluk ciptaan Allah yang ada di dalam kamarnya saat ini.
Lima menit berlalu, Zia pun mengernyitkan keningnya di saat mendengar krasak krusuk di dalam kamarnya, membuat tidurnya terasa terganggu. Gadis itu pun membuka matanya secara perlahan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Ngapain sih dia?" batin Zia menatap aneh ke arah Arash yang terlihat sedang mencari sesuatu.
Zia pun bangkit dari tidur dan mendudukkan tubuhnya.
"Cari apa, Mas?" tanya Zia akhirnya yang tidak tahan mendengar berisik di saat dirinya ingin terlelap dalam tidurnya.
"Bukan urusan kamu," jawab Arash dengan ketus.
Zia menghela napasnya kasar. "Ini sudah malam, bisakah kamu berhenti bergerak seperti tikus?" geram Zia yang mana membaut Arash mengernyitkan keningnya.
Pria itu pun menoleh ke arah Zia dengan tatapan tak suka.
"Apa maksud kamu?" tanya Arash.
"Ini sudah malam. Aku benci jika ada orang lain yang berbuat berisik di saat jam istirahatku," jelas Zia.
"Kamu ingin aku mengabaikan keberadaan kamu kan, Mas? Jadi, bergeraklah tanpa suara," ujar Zia dan kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Arash pun mendengus kesal, pria itu menggelengkan kepalanya pelan. "Dasar aneh," gumamnya yang masih di dengar samar oleh Zia.
Zia membuka matanya, melihat apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu.
Suami?
Rasanya sungguh aneh menyebut Arash sebagai suaminya. Tapi, apa kata yang cocok untuk panggilan yang akan Zia berikan kepada Arash?
Ah, papanya Yura--Yumna dan Rayyan.
Zia melihat gelagat Arash yang sepertinya sedang ingin mandi, tapi pria itu tidak bisa menemukan handuk di dalam kopernya. Zia pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan perlahan ke arah lemari, dia mengambil sebuah handuk baru dan memberikan kepada Arash.
__ADS_1
"Nih, masih baru," ujar Zia sambil mengulurkan handuk yang ada di tangannya.
Arash hanya memandang handuk tersebut, kemudian dia menutup kopernya.
"Gak perlu," ujar Arash dan mengabaikan Zia. Pria itu pun berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana sambil memegang ponselnya.
Zia kembali menghela napasnya dengan pelan. "Terserah kamu mau mandi atau tidak, Mas. Yang gerah kan tubuh kamu, bukan aku," ujar Zia dan meletakkan handuk tersebut di atas koper milik Arash.
Zia pun kembali berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Menutup mata dan berusaha untuk terlelap ke alam mimpi, seperti Rayyan dan Yumna yang terlihat tidur sangat lelap sekali saat ini.
Arash membuka tiga kancing kemejanya, pria itu mulai merasa gerah, padahal suasana kamar terasa sejuk. Ya, Arash merasa gerah karena tubuhnya terasa lengket dan pria itu butuh untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.
Arash memandang ke arah handuk yang Zia letakkan di atas kopernya, pria itu pun perlahan menoleh ke arah sang istri yang terlihat sudah tertidur dengan lelap bersama Rayyan dan Yumna.
"Apa aku mandi saja, ya?" batin Arash sambil memandang handuk bersih yang ada di atas kopernya.
"Tapi, bagaimana jika Zia terbangun dan melihat aku memakai handuk pemberiannya?"
Arash merasa galau, tadi dia menolak kebaikan Zia, sekarang dia malah menyesali perbuatannya itu.
"Ah, bodo' amat. Yang penting tubuh aku bersih dan aku bisa tertidur lelap malam ini." Arash bangkit dari atas Sifa dan berjalan menuju kopernya, pria itu mengambil handuk dan pakaian tidur yang sudah dia siapkan sebelumnya, saat mencari di mana letak handuk miliknya berada.
Zia membuka perlahan matanya di saat mendengar suara pintu kamar mandi tertutup secara perlahan, gadis itu pun menoleh ke arah koper milik Arash.
"Di pake juga, kirain beneran gak mau," cicit Zia pelan sambil tersenyum lucu.
Ya, Zia ternyata belum terdiri, seperti apa yang Arash lihat dan pikirkan. Bagaimana Zia bisa tertidur di saat dirinya sedang bersama dengan seorang pria yang pernah melecehkannya?
Zia tidak ingin hal itu terjadi, walaupun dia juga tidak bisa menolak jika Arash meminta haknya itu. Tapi, tidak mungkin kan Arash meminta hak batinnya kepada Zia? Secara pria itu telah menegaskan kepada Zia jika pernikahan mereka hanya sebuah kamuflase sebagai keluarga yang utuh bagi Yumna dan Rayyan.
__ADS_1
Ya, Zia hanya berperan sebagai ibu untuk Yumna dan Rayyan, bukan sebagai istri.
Tapi, tidak menutup kemungkinan kan jika bisa saja hal yang saat di rumah sakit bisa terjadi kembali? Siapa yang tahu. Yang terpenting saat ini adalah Zia harus lebih berhati-hati saat berdua saja dengan Arash.