
"Dek," tegur Bara saat melihat Zia baru saja meminum obatnya.
"Udah makan?" tanya Bara yang sudah duduk di sebelah sang adik.
"Belum, gak selera, Mas."
"Mau makan apa? Biar Mas beliin," tawar Bara yang merasa tidak tega, melihat Zia yang terabaikan.
"Gak ah, Mas. Aku lagi gak selera makan," tolak Zia lagi.
"Kita cari restoran yang enak yuk," bujuk Bara lagi.
"Gak mau, Mas. Aku gak selera makan. Lagian, perut aku masih terasa keram kalau di ajak jalan jauh."
"Hmm, ya sudah kalau gitu. Kamu mau nginap di hotel aja? Biar Mas pesan kamar untuk kamu.".
"Boleh, Mas. Lagian di sini gak nyaman tidurnya. Aku takut mengganggu yang lain."
"Iya, Dek. Nanti malam Mas akan menemani kamu tidur."
"Gak usah, Mas. Mas di sini aja, mana tau Mama atau Papa butuh tenaga, Mas," tolak Zia.
"Gak, dek. Kamu juga butuh di perhatikan. Kamu adik kandung, Mas. Jadi, Mas akan memperhatikan kamu. Lagi pula, Mbak Putri sudah banyak yang menemani dan memberikan perhatian, Dek," lirih Bara yang merasa kecewa dengan sifat Papa Satria dan Mama Nayna.
Apa bagi orang tuanya itu, anak mereka hanya Putri saja? Tidak ada Zia yang butuh perhatian dari mereka?
Wajar saja kan, jika Bara merasa kecewa? Sedari kecil, Mama Nayna memang lebih memperhatikan Putri dari pada dirinya dan juga Zia. Tapi, mereka tidak pernah keberatan akan hal itu, karena menurut Bara, Mama Nayna masih terbilang adil dalam memperhatikan seluruh anak-anaknya.
Tapi, semenjak Putri menghilang dan di kabarkan meninggal, Mama Nayna mengabaikan Zia yang memang nyata di depan mata dan masih butuh perhatian dari orang tua mereka. Namun, Mama Nayna malah larut dalam kesedihan dan terus saja mencari keberadaan Putri. Wajarkan jika Zia kecewa? Wajar kan jika Bara merasa perhatian sang mama tak adil untuk adiknya itu?
Bara dan Zia sudah bersiap untuk bangkit dari duduknya, hingga pergerakan mereka terhenti saat melihat kedatangan Papa Satria.
"Sayang," tegur Papa Satria dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Zia.
Wajah Zia yang mirip dengan Mama Nayna dan Putri pun, membuat Papa Satria dapat menebak dari ekspresi wajah sang anak, jika di saat Zia sedang kecewa dan menahan amarahnya. Seperti saat ini, wajah Zia yang terlihat tenang, nyatanya di balik hal itu memiliki rasa kecewa yang teramat sangat dalam.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Papa Satria.
"Mama mana, Ma?" tanya Zia masih dengan wajah datarnya, tanpa ingin menjawab pertanyaan sang papa.
"Mama lagi makan, mama–'
"Apa saat ini mama masih berselera untuk makan?" potong Zia cepat.
"Sayang…."
"Zia akan pergi dengan Mas Bara ke hotel. Kabari saja perkembangan Mbak Putri," ujar Zia dan memilih untuk berdiri dan berlalu.
Papa Satria menahan tangan Zia, pria itu dapat merasakan pergerakan urat-urat Zia yang memegang, karena gadis itu mengepalkan tangannya.
"Maafin Papa, sayang. Maafin Papa dan mama," pinta Papa Satria dengan suara yang lirih.
Papa Satria berbalik dan menarik tubuh Zia ke dalam pelukannya.
"Maafin Papa yang mengabaikan kamu, sayang. Maafin Papa." Air mata papa Satria pun mengalir membasahi pipinya yang sudah tidak muda lagi.
"Apa hanya Mbak Putri anak kesayangan Mama? Apa Zia tidak berarti bagi Mama, Pa? Hiks …" tangis Zia pun pecah di dalam pelukan Papa Satria.
Setelah meluahkan semua uneg-unegnya, Papa Satria pun mengantarkan Zia ke hotel, di mana Abash menginap. Sedangkan Bara tetap tinggal di rumah sakit, karena harus mengadakan meeting zoom mendadak pada jam tersebut.
"Kamu yakin sendiri di sini? Gak mau papa temani?" tanya Papa Satria.
"Iya, Pa. Zia hanya perlu beristirahat sebentar saja. Lagi pula, papa kan sudah menyuapi Zia makan," ujar Zia dengan tersenyum manis.
Ya, saat sampai ke hotel, Papa Satria langsung memesan makanan dan menguapi sang putri. Dengan perasaan bersalahdan air mata yang menggenang, Papa Satria terus menyuapi Zia hingga nasi yang ada di piring habis.
"Baiklah, nanti malam Papa dan mama akan temani kamu tidur di sini."
"Gak perlu, Pa. Mama bisa tetap di rumah sakit kok, jika mau."
"Gak sayang, mama dan Papa akan menemani kamu malam ini," janji Papa Satria.
__ADS_1
Zia akhirnya memilih tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bolehkah Zia berharap jika malam ini sang mama bisa menemani dirinya?
"Kalau begitu, kamu istirahat dulu ya, sayang. Papa akan kembali ke rumah sakit. Jika kamu perlu apa-apa, tinggal hubungi Papa aja. Papa akan segera datang untuk putri tercinta papa ini," ujar Papa Satria sambil mengusap rambut Zia dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Pa."
Baru saja papa Satria mengangkat bokongnya dari kursi, suara bel dari kamar Zia pun berbunyi, sehingga membuat Papa Satria menoleh ke arah Zia. Zia pun mengendikkan bahunya, seolah berkata jika dia tidak tahu siapa orang yang ada di balik pintu.
"Papa akan bukakan pintu. Kamu tidurlah," titah Papa Satria dan mengecup kening Zia.
Papa Satria pun membukakan pintu kamar hotel, kemudian pria paruh baya itu tersenyum di saat melihat Bara berdiri dengan membawa boneka di tangannya.
"Zia udah tidur, Pa?" tanya Bara.
"Belum, baru juga berbaring di tempat tidur," sahut Papa Satria.
"Papa mau balik ke rumah sakit?" tanya Bara memastikan.
"Iya, Nak."
"Ya sudah kalau gitu. Zia biar Bara aja yang jaga. Lagi pula, ada pekerjaan yang harus Bara kerjakan. Jika Bara bekerja di rumah sakit, pastinya tidak akan fokus," ujar Bara.
"Baguslah kalau kamu di sini. Papa akan merasa lebih tenang karena Zia dan yang menjaganya."
"Iya, Pa."
"Bara, maafin papa, ya? Karena sudah mengabaikan kamu dan Zia beberapa hari ini," lirih Papa Satria merasa bersalah.
"Tidak, Pa. Papa gak salah kok. Rasa kecewa Zia bukan ada pada diri papa, melainkan kepada Mama," sahut Bara dengan jujur.
"Ya, Papa sadar akan hal itu. Maafkan mama kalian, ya? Tolong kamu beri pengertian kepada Zia untuk memberikan beberapa waktu lagi untuk mama kamu. Papa akan berbicara dengan mama untuk memperhatikan Zia juga," ujar Papa Satria,
"Iya, Pa. Bara akan mencoba untuk memberikan pengertian kepada Zia. Semoga saja Zia bisa sedikit bersabar."
"Doakan juga, semoga mbak kamu segera siuman, agar rasa khawatir mama kamu tidak berlebihan seperti saat ini," pinta Papa Satria.
__ADS_1
"Iya, Pa."
Setelah berbincang sesaat, Papa Satria pun pamit kepada Bara dan meminta sang putra untuk menjaga Zia. Papa Satria pun kembali ke rumah sakit untuk menemani sang istri dan mencoba mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Mama Nayna tentang Zia.